Adi Prayitno M.Si

Adi Prayitno M.Si

Perhelatan Pilpres 2019 terbilang masih cukup lama. Namun sejumlah partai politik dan relawan sudah meneguhkan hati untuk mengusung kembali Joko Widodo (Jokowi).

Setelah Golkar, NasDem, PPP, Hanura, dan Perindo menyatakan dukungan, kini giliran relawan Projo melakukan langkah serupa siap mengusung dan memenangkan Jokowi pada pilpres mendatang. Sementara itu PDIP dan PKB tinggal menunggu momentum yang pas untuk mendeklarasikan dukungan. Tak bisa dimungkiri, magnet elektoral Jokowi cukup kuat. Nyaris tak pernah terjadi pada periode sebelumnya dukungan partai politik terhadap calon presiden mengalir deras jauh hari sebelum pemilu dilaksanakan. Jokowi memang fenomenal meski tak banyak bermanuver atau kerap curhat soal apa yang sudah dilakukan. Ia cukup membuktikan dirinya dengan tindakan nyata, bekerja.

Secara matematis, keberlimpahan dukungan membuat Jokowi berada di atas angin. Bukan sekadar mengamankan tiket pencapresan dengan melampaui ambang batas presidential threshold 20-25%, me lainkan juga terkait dengan mesin politik yang siap bertempur. Dalam pemilu presiden, pertalian figur dan mesin politik menjadi penentu utama kemenangan. Figur populis jika tak dibarengi soliditas mesin politik kadang mengalami kesulitan memenangi kontestasi elektoral. Sebaliknya soliditas mesin politik tanpa figur layak jual kerap menuai jalan buntu.

Jokowi memiliki bekal keduanya, kekuatan figur dan sokongan partai politik yang memadai. Tentu dalam politik tak boleh mendahului kehendak Tuhan. Ikhtiar harus tetap di upayakan guna menebalkan trust terhadap Jokowi. Menggenjot kinerja, mengejar target pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan daya beli rakyat adalah keniscayaan yang menjadi prioritas. Prinsip kerja, kerja, dan kerja menjadi napas dalam setiap tindakan pemerintah ke depan.

Modal Politik 

Dukungan terhadap Jokowi tentu tak lahir dalam ruang hampa, melainkan didasarkan pada kalkulasi rasional bahwa Jokowi memiliki modal politik besar untuk menang. Ia adalah petahana yang lebih banyak bekerja ketimbang sekadar membangun citra melalui media. Indikator modal politik Jokowi bisa diukur dalam tiga hal. Pertama, tingkat kepercayaan rakyat cukup baik. Rilis lembaga survei internasional yang berbasis di Amerika Serikat, yakni Gallup World Poll (GWP), pada Juli 2017 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi mencapai 80%.

Jauh melampaui Negara-negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) seperti Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jerman. Tingkat kepercayaan terhadap pemerintah erat kaitannya dengan dukungan rakyat terhadap pemimpin negara karena dianggap memiliki integritas moral tinggi tanpa beban politik. Survei GWP ini juga sebagai penanda pemerintah telah bekerja dengan baik, responsif, memberikan rasa aman dalam hidup, serta memberikan layanan publik yang memuaskan.

Kedua, elektabilitas Jokowi terus menguat. Survei Indo Barometer pada Maret lalu, dalam simulasi head to head dengan calon lain, memosisikan Jokowi meraup dukungan tertinggi mencapai 50,29 %, disusul Prabowo Subianto 28,8 %, tidak menjawab 21%. Begitu pun hasil survei SMRC pada Mei memotret posisi Jokowi dengan tingkat elek tabilitas tertinggi mencapai 53 %, selanjutnya dibuntuti Prabowo Subianto 37,2 %, tidak menjawab 9,1 %. Itu artinya ekspektasi dan daya tarik Jokowi stabil, bahkan cenderung meningkat setiap tahun. Ketiga, soliditas partai politik pengusung. Sinyal koalisi solid PDIP, Golkar, NasDem, PPP, PKB, dan Hanura terlihat nyata dalam isu-isu politik strategis mutakhir.
Hanya PAN yang kerap memilih berbeda dengan koalisi pemerintah. Pada tahap ini Jokowi mampu meyakinkan serta mem berikan rasa nyaman kepada partai politik pendukungnya untuk terus konsisten dalam barisan seirama. Kesamaan suasana batin, chemistry, dan kepercayaan menjadi bekal berharga koalisi solid yang dibangun Jokowi. Secara kasat mata, modal politik yang kuat sejatinya mampu memuluskan langkah Jokowi untuk menang Pilpres 2019 mendatang. Apalagi sejauh ini belum ada penantang yang dipandang sepadan dengan Jokowi.

Hanya Prabowo Subianto yang digadang-gadang bakal menjadi pesaing serius nantinya. Sementara nama-nama calon alternatif seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gatot Nurmantyo, dan namalama lain sejauh ini levelnya bukan RI-1, tetapi masih sebatas calon wakil presiden. Itu pun jika ada gabungan partai politik yang rela mengusung kelak.

Calon Penantang 

Realitas politik menunjukkan betapa Jokowi masih begitu digdaya. Sebagai incumbent dengan bekal politik memadai, cukup sulit memang mencari penantang sepadan. Sebab konfigurasi kekuatan politik saat ini tak terlalu menguntungkan bagi pihak penantang. Ketentuan ambang batas pencapresan 20-25% menjadi faktor sulit bagi partai politik memunculkan calon pesaing Jokowi.

Dengan hanya menyisakan empat partai politik, Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat, sepertinya tak akan banyak figur yang bakal me ramaikan Pilpres 2019. Melihat konstelasi politik yang ada, sepertinya akan ada dua kemungkinan calon penantang Jokowi. Pertama, poros Hambalang yang dinakhodai Prabowo Subianto yang kemungkinan besar menggandeng PKS. Bukan rahasia umum jika kedua partai politik ini sekufu sejak lama. Gabungan Gerindra dan PKS sudah cukup untuk memenuhi syarat pencapresan. Kedua, poros Cikeas yang mengandalkan nama besar eks Presiden Susilo BambangYudhoyono (SBY).

Namun Demokrat butuh sokongan minimal dua partai politik untuk bisa memenuhi syarat 20-25% presidential thres hold. Andai PAN bisa dirangkul, Demorkat harus tetap berjuang keras mencari dukungan tambahan, terutama partai yang telanjur bergabung dengan pemerintah. PKB misalnya relatif bisa ”diolah” karena kerap bermain ditikungan meski akhirnya kembali ke koalisi pemerintah. Meski sulit terwujud, poros Cikeas akan terus bermanuver. Setidaknya SBY tak bakal tinggal diam menyaksikan kon tes tasi elektoral akbar lima tahun an ini.

SBY terlahir sebagai politisi yang tak pantang menyerah. Jika peta politik tak berubah drastis dengan calon lawan penantang Jokowi hanya Prabowo Subianto ataupun dari kubu Cikeas, sepertinya Jokowi tak perlu bersusah payah memenangi pilpres kembali. Pada tahap tertentu rakyat mulai bosan dengan Prabowo Subianto yang berulang kali nyapres. Sementara jagoan Cikeas belum tampak menguat, paling santer cuma Agus Harimurti Yudhoyono.

Meski begitu Jokowi tak boleh jumawa. Dalam politik, apa pun bisa terjadi. Seperti pitutur ahli politik Prusia, Otto von Bismarck, bahwa politik adalah seni kemungkinan (art of possibilities) . Jagoan poros Hambalang dan Cikeas memang belum keliatan kuat, tapi bukan berarti mereka tak melawan. Di akhir pertarungan selalu muncul kejutan baru. Seperti kemungkinan koalisi poros Hambalang dan Cikeas mengusung capres alternatif yang berpotensi mengalahkan Jokowi.

Adi Prayitno 

Dosen Politik FISIP UIN Jakarta dan Peneliti The Political Literacy Institute

Artikel ini telah dimuat pada Kolom Opini harian Seputar Indonesia, edisi Senin, 25 September 2017. (lrf)

Share This