LPM Garap Budidaya Lele

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


SEBAGAI bentuk pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan mengimplementasikan tridharma perguruan tinggi, tahun ini Lembaga Permberdayaan Masyarakat (LPM) UIN Jakarta telah melakukan kerjasama dengan 10 Desa Binaan di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Hal ini sebagai bahan percobaan dalam mengelola Desa Binaan, terutama desa-desa yang tertinggal namun mempunyai potensi yang bisa dibanggakan.

Salah satu Desa Binaan LPM UIN Jakarta yang telah melakukan aksinya yaitu Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu, Tangsel. Potensi yang dapat diharapkan dari kelurahan ini budidaya ikan lele.

Kelurahan Kademangan ini, memiliki potensi cukup baik, salah satu yang dapat dikembangkan yaitu pembesaran ikan lele. Perwakilan LPM yang ditunjuk mengelola desa binaan Kademangan adalah dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) di antaranya, Ir Siti Rochaeni MSi dan Drs Tabah Rosyadi MA.

Pembina Desa Binaan dan perwakilan LPM ini, mempunyai pekerjaan cukup banyak mulai dari melakukan loby dengan lurah setempat, pembentukan kelompok tani binaannya, pemberian materi hingga demonstrasi di lapangan.

Menurut Siti Rochaeni yang juga dosen Prodi Agribisnis ini, Desa Binaan Kademangan telah diberikan kucuran dana dari LPM sebanyak Rp 13 juta untuk pengelolaan Desa Binaan budidaya ikan lele.

“Para petani Desa Binaan di Kademangan saat ini anggotanya sebanyak 25 orang. Mereka dari kalangan anak-anak muda yang cakap untuk mengelola dana LPM ini. Dari sekian banyak anggota ini, mereka tak semua diberikan dana untuk mengelola, namun hanya beberapa orang yang sudah berpengalaman, yang lainnya sebagai anggota sekaligus pembantu pengembangan budidaya ikan lele. Nanti, seandainya berhasil dari pengelola pertama maka keuntungannya akan diberikan pada anggota lainnya untuk giliran mengelola. Hal ini alurnya berputar, namun tetap di bawah binaan LPM dan dipantau hampir setiap minggu,” paparnya.

Kepala Desa Kademangan, Saih Tahir, kepada BERITA UIN, Jumat (28/10), mengatakan, daerah Kademangan sangat cocok dijadikan budidaya ikan lele, karena irigasi lancar, air mengalir terus menerus, dalam setahun tak pernah adanya kekeringan walaupun kemarau panjang. Selain itu, tanah yang ada di Kademangan termasuk tanah lempung, banyak air resapan dan mempunyai lumpur yang hitam sehingga cocok untuk budidaya ikan lele.

Akan tetapi dalam masa percobaan kali ini lanjut dia, budidaya ikan lele untuk sementara dilakukan pembesarannya di pekarangan salah satu penanggung jawab Desa Binaan, hal ini agar terpantau terus menerus dan alasan keamanan.

Ketika dikonfirmasi penanggung jawabnya Roni, membenarkan alasan sementara pembesaran budidaya ikan lele di pekarangan rumahnya sendiri. Menurut dia, agar terpantau setiap saat dan kehilangan ikan lele bisa diminimalisir, seandainya pembesarannya di pekarangan rumah tak akan menyusup lelenya seperti halnya di empang, maka ia sengaja membuat kolam sendiri dari tembok dengan ukuran 2×8 meter untuk menampungnya.

“Sementara ini pembesaran ikan lele menampung 5.000 ekor sebagai bahan percobaan, yang ditampung di kolam ukuran 2×8 meter ini. Kami awalnya membeli bibit terlebih dahulu ditempat pembenihan yang ukuran 7 cm, seharga Rp 400 per ekor. Sekarang pembesaran sudah menginjak umur tiga minggu, untuk pemberian pakan, biasanya kami memberikan sehari tiga kali, sekali ngasih bisa 1,5 kg. Pemberian pakan ikan lele untuk sebesar 7 cm kami membeli pakan per karungnya seharga Rp 200.000,” terang salah satu pengelola Desa binaan ini.

Lebih lanjut Roni mengisahkan, budidaya ikan lele di pekarangan cukup mudah dan tak terlalu sulit. Sistem budidaya yang lebih murah, bersih dan menjanjikan dengan suplemen organik sehingga bisa maksimal hasilnya.

Bisnis budi daya ikan lele ini pun tampaknya akan selalu menguntungkan. Hal ini karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang terjangkau. Ikan menjadi alternatif mengingat harga daging yang makin hari makin mahal.

Ikan lele sendiri memiliki nilai gizi yang mumpuni di samping dagingnya yang gurih. Lele mengandung protein yang tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak balita. Selain itu lele juga mengandung mineral lain yang penting pula untuk kesehatan tubuh.

Dengan fakta-fakta itu, maka pada akhirnya ikan lele dapat dijadikan peluang usaha yang menarik. Mengingat selama ini budidaya ikan lele selalu terkesan ‘jorok’, kini budidaya ikan air tawar tersebut sudah berkembang menjadi lebih murah, bersih, dan menjanjikan.

“Sekarang untuk budidaya ikan lele, kita sudah ada suplemen organik yang dapat membantu budidaya lele lebih maksimal. Karena suplemen organik ini memiliki fungsi sebagai penjaga kualitas air, menignkatkan percepatan pembesaran bibit lele jika dicampur dengan pakannya, dan mengurangi tingkat mortalitas dari bibit lele,” jelas Roni.

Bahkan lanjut Roni, karena mungkin kelihatan mudah dan sederhana budidaya ikan lele di pekarangan rumah, banyak tetangga yang terkesima melihat hasilnya sangat baik, sehingga para tetangga pun banyak yang mengikuti  cara budidaya ikan lele miliknya.

Adapun pemasaran dari hasil budidaya ikan lele ini, sambung Roni, untuk Kelurahan Kademangan banyak pelanggan dan jaringannya. Peminatnya bisa dari rumah makan pecel lele, restoran padang, warteg dan ibu rumah tangga, yang terpenting saat dipanen harus diperhatikan besar ikan lelenya, maksimal satu kilogram isinya 7 ekor lele. Biasanya sebesar ini bisa dipanen dalam waktu 2,5 bulan hingga 3 bulan. (Hamzah Farihin)