Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta segera menyusun Rencana Induk Pengembangan Penelitian (RIPP) 2017-2022. Selain itu, LP2M juga bakal meninjau ulang baseline aktifitas riset universitas. Keberadaan RIPP dan baseline riset yang baru diharap mengakomodir dinamika riset UIN Jakarta.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta segera menyusun Rencana Induk Pengembangan Penelitian (RIPP) 2017-2022. Selain itu, LP2M juga bakal meninjau ulang baseline aktifitas riset universitas. Keberadaan RIPP dan baseline riset yang baru diharap mengakomodir dinamika riset UIN Jakarta.

Ruang Sidang Utama, Berita UIN Online— Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta segera menyusun Rencana Induk Pengembangan Penelitian  (RIPP) 2017-2022. Selain itu, LP2M juga bakal meninjau ulang baseline aktifitas riset universitas. Keberadaan RIPP dan baseline riset yang baru diharap mengakomodir dinamika riset UIN Jakarta.

Demikian disampaikan Ketua LP2M Prof. Dr. Arskal Salim GP MA saat membuka Rapat Penyusunan RIPP 2017-2022 di Ruang Sidang Utama, Kamis (26/01/2017). Selain para kepala pusat, rapat dihadiri pimpinan fakultas dan jurusan di lingkungan UIN Jakarta.

“Kehadiran RIPP nantinya bisa menjadikan kita fokus melakukan riset pada tema-tema unggulan,” ujarnya.

Menurut Arskal, RIPP diperlukan sebagai pedoman yang lebih detail mengenai aktifitas riset para akademisi UIN Jakarta. Sebab RIPP nantinya memuat tema-tema yang dinilai unggulan, selaras dengan isu-isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, RIPP juga lebih mencerminkan isu riset yang ingin dikembangkan sesuai rumpun keilmuan di lingkungan UIN Jakarta. “Sebab dalam penyusunannya, kita melibatkan fakultas dan jurusan yang mewakili masing-masing rumpun keilmuan,” tambahnya.

Selain RIPP, lanjut Arskal, LP2M juga bersiap melakukan evaluasi ulang sekaligus penyusunan baseline baru aktifitas riset di lingkungan UIN Jakarta. Dalam baseline riset yang disusun pada periode sebelumnya, prosentase akademisi yang bisa berkompetisi dalam aktifitas riset dan publikasi ilmiah global hanya 8 persen.

“Target ini bisa lebih tinggi seandainya kita menyisir akademisi-akademisi UIN Jakarta yang meneliti dan memublikasikan hasil-hasil risetnya secara lebih detail,” tandasnya lagi.

Sementara itu, RIPP sendiri ditargetkan sudah bisa dikonsinyeringkan pada April mendatang. Untuk penyusunannya, LP2M nantinya melakukan pembahasan bersama masing-masing fakultas dan jurusan mulai akhir Januari hingga awal April mendatang. (Farah NH-Yuni-zm)

Share This