Gedung Rektorat, BERITA UIN Online—LP2M UIN Jakarta dan Contending Modernities Working Group on Indonesia, University of Notre Dame, dijadwalkan menggelar konferensi internasional bertajuk ‘Beyond Coexistence in Plural Societies’ di Auditorium Harun Nasution, Senin-Selasa (10-11/7/2017). Sesuai temanya, konferensi yang menghadirkan sejumlah panelis bakal menyoroti isu pluralitas masyarakat Indonesia di tengah tantangan intoleransi dan sektarianisme keagamaan (http://lp2m.uinjkt.ac.id/press-release-international-conference-beyond-coexistence-in-plural-societies/).

Ketua LP2M UIN Jakarta, Prof Dr Arskal Salim GP MA mengungkapkan, penyelenggaraan konfrensi akan menyasar isu pluralitas keagamaan masyarakat beserta beragam tantangan yang dihadapinya. Diketahui, Indonesia menjadi rumah bagi 200 jutaan Muslim yang berdampingan dengan penganut Kristen dan agama-agama lainnya.

Keragamaan keagamaan yang relatif stabil dan terjaga menjadi modal penting tumbuhnya Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan AS. Masalahnya keragaman keagamaan demikian tidak sepi dari beragam tantangan yang belakangan menguat dalam bentuk intoleransi dan sektarianisme keagamaan.

“Dan, baru-baru ini negara dan masyarakat Indonesia dihadapkan pada menguatnya intentoleransi dan sektarianisme keagamaan,” tandasnya.

Arskal menjelaskan, konferensi internasional sendiri diharapkan mampu melahirkan formulasi teoretis dan praktis dalam memelihara harmoni masyarakat Indonesia yang plural. Sebab sejatinya para panelis yang menjadi narasumber konferensi sebagian besar merupakan peneliti yang menaruh perhatian terhadap isu-isu sosial, politik, keagamaan Indonesia.

Beberapa panelis yang dijadwalkan dari perguruan tinggi luar negeri yang hadir diantaranya Scott Appleby, Mun’im Sirry, dan Ibrahim Moosa dari University of Notre Dame. Selain itu, turut hadir Robert W. Hefner dari Boston University, James B. Hoesterey dari Emory University, Eckhard Zemmirch dari Humboldt-Universitat, dan Muhamad Ali dari University of California, Riverside.

Dari perguruan tinggi dan lembaga riset dalam negeri hadir Azyumardi Azra dan Arskal Salim dari UIN Jakarta, Zaenal Abidin Bagir dari Universitas Gadjah Mada, Ihsan Ali Fauzi dari PUSAD Paramadina, Elga Sarapung dari Dian-Interfidei Yogyakarta, Bagus Laksana dari Universitas Sanata Dharma, dan Dadi Darmadi dari PPIM UIN Jakarta.

Para narasumber dijadwalkan dalam tiga panel dan enam sesi. Ketiga panel diselenggarakan pada hari pertama mendiskusikan tiga topik utama, Empowering and Scaling-Up Pluralits Coexistence, Authorizing Peaceful Coexistence: Domestic and Global Challenges, dan Radicalizing Religion and Youth.

Sementara itu, enam sesi di hari berikutnya mendiskusikan topic Scaling-Up Pluralism: A Project on Local National Collaborations for Pluralits Coexistence in Contemporary Indonesia, Women Strengthening Pluralist Coexistence in Contemporary Indonesia, dan Transforming Javanese Interreligious Literacy among Young People. Selanjutnya, Religious Minorities, Public Diplomacy and Changing Dynamics of Peaceful Coexistence, dan Religious Radicalisme and the Challenges for Coexistence.

Arskal menambahkan, konferensi sejatinya tidak tidak hanya menghadirkan dialog akademis para ilmuwan, melainkan mengupayakan dialog antara pemimpin-pemimpin di tingkat lokal dan nasional terkait tema kehidupan bersama yang plural. Untuk itu, konferensi juga terbuka untuk umum. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)

 

Share This