Lima Kelemahan PTAI

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Irma Wahyuni

Ruang Sidang Utama, UINJKT Online – Pembantu Rektor (Purek) Bidang Akademik Dr Jamhari Maruf mengatakan, sedikitnya terdapat lima kelemahan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang menyebabkan kalah saing dengan Perguruan Tinggi Umum (PTU). Lima kelemahan tersebut yakni rendahnya kualitas, pengelolaan kelembagaan yang tidak bagus, minimnya human resource (Sumber Daya Manusia), kurangnya finansial, dan kurangnya networking (jaringan).

Hal itu disampaikan Jamhari dalam dialog studi banding bersama pimpinan dan dosen STAIN Alauddin Palu di Ruang Sidang Utama, Gedung Rektorat, Rabu (20/5).

Dalam hal kualitas, lanjut Jamhari, karena terlalu dibebani peran sosial sebagai perguruan tinggi Islam, pengembangan akademik di PTAI menjadi terbengkalai.

“Kurikulum dibentuk tidak mengacu pada kompetensi dan kecerdasan mahasiswa, tetapi lebih mengikuti kepentingan dosen agar bisa mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.

Sedangkan dalam pengelolaan kelembagaan, senada dengan yang dikatakan Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam pidato sambutannya,  Jamhari pun mengatakan kampus-kampus Islam lebih mengutamakan kampus sebagai lembaga dakwah, bukan lembaga akademik, sehingga ia tidak mengikuti struktur kelembagaan yang modern.

“Dibanding universitas Islam lainnya, mungkin UIN Jakarta adalah yang terbaik dari segi human resource, tetapi harus kita akui sumber daya manusia kita masih kurang,” kata Jamhari saat memaparkan minimnya human resource di PTAI.

Dia melanjutkan, secara finansial, PTI selalu terbatas dalam pencarian dana. “UIN Jakarta selama ini mencari dana ke Timur Tengah, itupun sangat sulit prosesnya. Tetapi baru-baru ini, kita baru saja bekerjasama dengan Jepang,” paparnya.

Sementara masalah networking (jaringan), Jamhari menyarankan PTI untuk memperluas jaringan baik di dalam maupun di luar negeri. ”Jaringan diperlukan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan dana, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan akademik mahasiswa,” imbuhnya.

Adapun dialog dihadiri oleh para tamu dari STAIN Palu, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, Purek Bidang Pengembangan Kelembagaan Dr Sudarnoto Abdul Hakim, dan pimpinan UIN Jakarta lainnya. [Nif/Ed]

Lima Kelemahan PTAI

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Irma Wahyuni

Ruang Sidang Utama, UINJKT Online – Pembantu Rektor (Purek) Bidang Akademik Dr Jamhari Maruf mengatakan, sedikitnya terdapat lima kelemahan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang menyebabkan kalah saing dengan Perguruan Tinggi Umum (PTU). Lima kelemahan tersebut yakni rendahnya kualitas, pengelolaan kelembagaan yang tidak bagus, minimnya human resource (Sumber Daya Manusia), kurangnya finansial, dan kurangnya networking (jaringan).

Hal itu disampaikan Jamhari dalam dialog studi banding bersama pimpinan dan dosen STAIN Alauddin Palu di Ruang Sidang Utama, Gedung Rektorat, Rabu (20/5).

Dalam hal kualitas, lanjut Jamhari, karena terlalu dibebani peran sosial sebagai perguruan tinggi Islam, pengembangan akademik di PTAI menjadi terbengkalai.

“Kurikulum dibentuk tidak mengacu pada kompetensi dan kecerdasan mahasiswa, tetapi lebih mengikuti kepentingan dosen agar bisa mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.

Sedangkan dalam pengelolaan kelembagaan, senada dengan yang dikatakan Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam pidato sambutannya,  Jamhari pun mengatakan kampus-kampus Islam lebih mengutamakan kampus sebagai lembaga dakwah, bukan lembaga akademik, sehingga ia tidak mengikuti struktur kelembagaan yang modern.

“Dibanding universitas Islam lainnya, mungkin UIN Jakarta adalah yang terbaik dari segi human resource, tetapi harus kita akui sumber daya manusia kita masih kurang,” kata Jamhari saat memaparkan minimnya human resource di PTAI.

Dia melanjutkan, secara finansial, PTI selalu terbatas dalam pencarian dana. “UIN Jakarta selama ini mencari dana ke Timur Tengah, itupun sangat sulit prosesnya. Tetapi baru-baru ini, kita baru saja bekerjasama dengan Jepang,” paparnya.

Sementara masalah networking (jaringan), Jamhari menyarankan PTI untuk memperluas jaringan baik di dalam maupun di luar negeri. ”Jaringan diperlukan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan dana, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan akademik mahasiswa,” imbuhnya.

Adapun dialog dihadiri oleh para tamu dari STAIN Palu, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, Purek Bidang Pengembangan Kelembagaan Dr Sudarnoto Abdul Hakim, dan pimpinan UIN Jakarta lainnya. [Nif/Ed]