Lebih Menekankan Kualitas daripada Kuantitas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Prof  Dr Zainun Kamaluddin Fakih resmi menjadi dekan Fakultas Ushuluddin masa bakti 2010-2014 setelah dilantik Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat di Auditorium Utama, Selasa (13/4). Zainun terpilih menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin dalam pemilihan calon dekan yang digelar pada 29 Maret. Ia berhasil meraup 12 suara dari 23 suara sah, sedangkan rivalnya, Dr Amin Nurdin, hanya memperoleh 11 suara. Dua calon lain, Prof Dr Ihsan Tanggok dan Dr Masri Mansoer, mengundurkan diri sebelum pemilihan dimulai. Untuk mengetahui program-program apa saja yang akan digulirkan, berikut petikan wawancara Putri Kartika dari UIN Online dengan guru besar bidang filsafat ini sehari seusai pelantikan.

Program-program apa saja yang Anda tawarkan setelah menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin (FU)?

Yang pertama saya menawarkan agar FU kembali ke jatidirinya. Ushuluddin itu kan akar-akar agama, maka FU ini harus menjadi jantungnya UIN Jakarta. Semua falkultas harus diwarnai oleh FU. Kalau melihat pada prodi-prodinya, misalnya jurusan Tafsir Hadis, saya ingin input-nya harus dari kalangan pesantren atau madrasah. Rencana saya, tahun akademik baru ini jurusan Tafsir Hadis akan membuka kelas dengan pengantar bahasa Arab. Apalagi dosen kita di sini banyak sekali yang fasih berbahasa Arab. Buku-buku rujukannya pun harus yang berbahasa Arab.

Kapan program tersebut akan diterapkan?

Tahun akademik baru ini pengantarnya harus bahasa Arab. Kita akan mencoba dulu mungkin satu kelas. Sebab, jika dipaksakan semua khawatir kekurangan peminat.

Bagaimana dengan tenaga dosen yang memiliki keahlian berbahasa Arab itu sendiri?

Saya mempunyai program yang harus dibantu oleh pihak universitas dan Kementerian Agama dalam hal biaya untuk mengirimkan dosen-dosen FU belajar ke Timur Tengah paling lama enam bulan untuk belajar tafsir sekaligus bahasa Arab.

Bagaimana dengan prodi Aqidah Filsafat dan Perbandingan Agama?

Untuk Aqidah Filsafat, tahun akademik baru ini mahasiswanya berjumlah 30 orang berasal dari program beasiswa. Aqidah Filsafat banyak melahirkan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam, karena itu kami akan mencoba menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Arab dan Inggris. Selain itu, akan kita kembangkan laboratorim untuk prodi tersebut.

Sementara Prodi Perbandingan Agama menjadi jurusan yang ditunggu oleh umat karena memberikan pemahaman tentang perdamaian antaragama, bukan untuk melahirkan kebencian terhadap agama lain.

Apakah ada rencana untuk mebuka prodi baru?

Saat ini belum.

Mengenai sedikitnya peminat FU, bagaimana tanggapan Anda?

Saya melihat dari dulu mahasiswa FU tidak banyak kok, tapi tokoh-tokoh pemikir Islam di Indonesia ini kebanyakan dari FU.  Saya lebih menekankan sisi kualitas daripada kuantitas. FU sudah melahirkan tiga fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dirasat Islamiyah, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dengan posisi Anda sekarang sebagai dekan, akan dibawa ke mana arah pemikiran Islam di FU ini?

Ilmu-ilmu yang klasik yang lama tetap dipelihara tetapi juga mengambil hal-hal baru yang lebih baik  Kalau saya tidak membikin dikotomi Timur dan Barat. Sekarang ini pengembangan ilmu di Barat memang lebih maju, maka kita ambil yang manfaatnya.

Ada juga pihak yang khawatir karena saya ini liberal. Yang liberal itu kan almarhum Harun Nasution (mantan Rektor IAIN Jakarta) dan Cak Nur (almarhum Nurcholish Madjid, Guru Besar Fakultas Ushuluddin). Islam memang harus liberal tapi bukan liberal seperti Barat yang tidak berpegang pada ajaran agama. Landasannya tetap al-Qur’an dan Hadis. Ada yang tetap memakai metodologi lama, itu kan hasil pemikiran manusia? Kita mungkin saja mencari metodologi baru yang lebih cocok dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan umat. Banyak masalah baru yang ditawarkan untuk memahami tafsir dan hadis, tentu saja yang rasional. Saya kira itu saja permasalahannya. Terserah mahasiswa mau mengambil yang mana. Demokratis saja, ini kan bukan pesantren.

 

 

 

Lebih Menekankan Kualitas daripada Kuantitas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Prof  Dr Zainun Kamaluddin Fakih resmi menjadi dekan Fakultas Ushuluddin masa bakti 2010-2014 setelah dilantik Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat di Auditorium Utama, Selasa (13/4). Zainun terpilih menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin dalam pemilihan calon dekan yang digelar pada 29 Maret. Ia berhasil meraup 12 suara dari 23 suara sah, sedangkan rivalnya, Dr Amin Nurdin, hanya memperoleh 11 suara. Dua calon lain, Prof Dr Ihsan Tanggok dan Dr Masri Mansoer, mengundurkan diri sebelum pemilihan dimulai. Untuk mengetahui program-program apa saja yang akan digulirkan, berikut petikan wawancara Putri Kartika dari UIN Online dengan guru besar bidang filsafat ini sehari seusai pelantikan.

Program-program apa saja yang Anda tawarkan setelah menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin (FU)?

Yang pertama saya menawarkan agar FU kembali ke jatidirinya. Ushuluddin itu kan akar-akar agama, maka FU ini harus menjadi jantungnya UIN Jakarta. Semua falkultas harus diwarnai oleh FU. Kalau melihat pada prodi-prodinya, misalnya jurusan Tafsir Hadis, saya ingin input-nya harus dari kalangan pesantren atau madrasah. Rencana saya, tahun akademik baru ini jurusan Tafsir Hadis akan membuka kelas dengan pengantar bahasa Arab. Apalagi dosen kita di sini banyak sekali yang fasih berbahasa Arab. Buku-buku rujukannya pun harus yang berbahasa Arab.

Kapan program tersebut akan diterapkan?

Tahun akademik baru ini pengantarnya harus bahasa Arab. Kita akan mencoba dulu mungkin satu kelas. Sebab, jika dipaksakan semua khawatir kekurangan peminat.

Bagaimana dengan tenaga dosen yang memiliki keahlian berbahasa Arab itu sendiri?

Saya mempunyai program yang harus dibantu oleh pihak universitas dan Kementerian Agama dalam hal biaya untuk mengirimkan dosen-dosen FU belajar ke Timur Tengah paling lama enam bulan untuk belajar tafsir sekaligus bahasa Arab.

Bagaimana dengan prodi Aqidah Filsafat dan Perbandingan Agama?

Untuk Aqidah Filsafat, tahun akademik baru ini mahasiswanya berjumlah 30 orang berasal dari program beasiswa. Aqidah Filsafat banyak melahirkan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam, karena itu kami akan mencoba menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Arab dan Inggris. Selain itu, akan kita kembangkan laboratorim untuk prodi tersebut.

Sementara Prodi Perbandingan Agama menjadi jurusan yang ditunggu oleh umat karena memberikan pemahaman tentang perdamaian antaragama, bukan untuk melahirkan kebencian terhadap agama lain.

Apakah ada rencana untuk mebuka prodi baru?

Saat ini belum.

Mengenai sedikitnya peminat FU, bagaimana tanggapan Anda?

Saya melihat dari dulu mahasiswa FU tidak banyak kok, tapi tokoh-tokoh pemikir Islam di Indonesia ini kebanyakan dari FU.  Saya lebih menekankan sisi kualitas daripada kuantitas. FU sudah melahirkan tiga fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dirasat Islamiyah, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Dengan posisi Anda sekarang sebagai dekan, akan dibawa ke mana arah pemikiran Islam di FU ini?

Ilmu-ilmu yang klasik yang lama tetap dipelihara tetapi juga mengambil hal-hal baru yang lebih baik  Kalau saya tidak membikin dikotomi Timur dan Barat. Sekarang ini pengembangan ilmu di Barat memang lebih maju, maka kita ambil yang manfaatnya.

Ada juga pihak yang khawatir karena saya ini liberal. Yang liberal itu kan almarhum Harun Nasution (mantan Rektor IAIN Jakarta) dan Cak Nur (almarhum Nurcholish Madjid, Guru Besar Fakultas Ushuluddin). Islam memang harus liberal tapi bukan liberal seperti Barat yang tidak berpegang pada ajaran agama. Landasannya tetap al-Qur’an dan Hadis. Ada yang tetap memakai metodologi lama, itu kan hasil pemikiran manusia? Kita mungkin saja mencari metodologi baru yang lebih cocok dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan umat. Banyak masalah baru yang ditawarkan untuk memahami tafsir dan hadis, tentu saja yang rasional. Saya kira itu saja permasalahannya. Terserah mahasiswa mau mengambil yang mana. Demokratis saja, ini kan bukan pesantren.