Lebaran dan Kreasi Budaya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, mudik ke kampung halaman menjadi agenda sosial yang fenomenal. Dalam acara mudik Lebaran ini terdapat unsur keagamaan dan kreasi budaya.

Dari aspek agama, yang paling utama adalah melaksanakan salat id setelah sebulan menyelesaikan puasa. Namun secara psikologis, Lebaran juga dirasakan sebagai hari kemenangan yang layak disyukuri dan dirayakan. Bagi umat Islam,mereka paham betul bagaimana rasanya berjumpa lagi dengan sarapan pagi dan makan siang setelah sebulan ditinggalkan.

Sebelum terjadi arus urbanisasi, istilah pulang mudik Lebaran tidak dikenal.Saya sendiri menjadi akrab dan menghayati makna mudik setelah berhijrah dari Magelang ke Jakarta sejak 1974. Dengan begitu,  mudik adalah fenomena psikologis masyarakat urban. Kemeriahan dan keakraban suasana Lebaran di kampung sewaktu kecil terekam kuat sampai kita dewasa.

Ditambah lagi pesan agama bahwa berpuasa Ramadan dengan memperbanyak minta ampun pada Tuhan tidak akan sempurna kalau tidakditeruskansalingmemaafkan sesama manusia, khususnya dengan keluarga, tetangga, dan kerabat. Maka setelah salat, dilanjutkan saling berkunjung untuk silaturahmi, minta maaf, dimulai dari permohonan maaf dan doa dari anak kepada orang tua, dilanjutkan pada sanak saudara yang dianggap lebih tua.

Di kampung, setiap keluarga menyediakan makanan beraneka ragam untuk menjamu tamutamu yang datang,tua-muda,besar- kecil.Layaknya sebuah warung gratis. Yang membuat Lebaran di kampung menjadi semakin meriah adalah keterlibatan anak-anak yang ikut bertamu ke rumah-rumah untuk menikmati makanan yang terhidang.

Mereka berpakaian baru karena dalam tradisi kampung saat yang paling tepat membelikan pakaian anak-anaknya adalah untuk ber-Lebaran. Ketika bertamu,ada kerabat yang suka membagi uang untuk anak-anak.Ketika waktu zuhur tiba, anak-anak berkumpul di masjid. Mereka saling tukar cerita makanan yang enak-enak.

Kenangan ini melekat sampai tua, indah dikenang dan menjadi daya tarik untuk pulang mudik, menapak tilas. Fenomena pulang mudik Lebaran akan tetap bertahan selama fenomena urbanisasi berlangsung. Beberapa orang tua yang tinggal di kota besar sengaja mengajak anak-anaknya pulang mudik agar mengenal suasana desa dan asal-usul leluhurnya.

Bahkan hitung-hitung rekreasi. Jadi, sesungguhnya pesta Lebaran memiliki banyak dimensi, ada dimensi religi, kultural, dan rekreasi. Kalau saja pemerintah mampu memberi fasilitas yang bagus, sesungguhnya peristiwa mudik Lebaran sangat positif untuk pemerataan ekonomi.Lebih bagus lagi kalau setiap warga desa yang telah sukses memanfaatkan pulang mudik untuk ramairamai memajukan lembaga pendidikan di desanya.

Misalnya saja memperbaiki perpustakaan sekolah dan desa serta memperbanyak koleksi bukubukunya. Jadi, kalau tidak dikelola dengan cerdas, pesta mudik bisa saja dianggap sebagai beban pemerintah. Padahal sesungguhnya sebuah aset budaya yang sangat positifkonstruktif bagi kohesi dan pembangunan bangsa.

Kapan pesta mudik semakin populer? Mungkin berkaitan dengan laju urbanisasi ketika anak-anak desa mulai memilih bekerja di kota, berkat pendidikan yang mereka miliki, dan iming-iming kota besar yang menggiurkan.Kalau itu sebagai patokan,memasuki dekade 80- an fenomena mudik ini mengemuka.

Banyak warga desa yang hijrah ke kota dan mereka ramai- ramai memilih ber-Lebaran di kampung halaman. Ini terutama datang dari penduduk Jawa,baik karena padat penduduknya maupun infrastrukturnya bagus, sehingga mudah pulang kampung. Beberapa warga luar Jawa sekarang mulai memeriahkan pulang mudik Lebaran meskipun tidak seheboh dan semasif penduduk Jawa.

Mereka yang memiliki darah perantau, mudik juga menjadi peluang untuk menggembirakan orang tua, menunjukkan bahwa dirinya sukses. Mereka datang dengan kendaraan bagus dan membawa uang untuk dibagi-bagi sebagai rasa syukur.Tapi, ada saja orang-orang yang berperilaku kekanak-kanakan.

Pulang mudik Lebaran dijadikan kesempatan untuk pamer kekayaan dan keberhasilan di hadapan warga kampung.Malahan ada yang memaksakan diri dengan cara berutang agar kelihatan berhasil di mata tetangganya. Tentu ini bertentangan dengan semangat Idul Fitri. Mereka sengaja membawa mobil bagus, bahkan ada yang sengaja menyewa kendaraan khusus untuk bergaya sewaktu Lebaran.

Begitu pun remajanya, datang ke kampung dengan membawa gaya hidup kota besar yang hanya menyakitkan dan menimbulkan iri anak-anak desa yang miskin dan kurang berpendidikan. Yang menarik setiap pulang mudik adalah suasana meriah bercampur damai. Kriminalitas relatif kecil. Di perjalanan semua saling tersenyum bertegur sapa.

Pengaruh puasa masih terasa kental,mereka saling menjaga diri. Semua merasakan atmosfer yang sama, hari Lebaran adalah momentum untuk saling berbagi kegembiraan dan saling memaafkan. Karena itu,meskipun jalan raya padat kendaraan,hampir tidak ada yang berkelahi.