Laki-laki Lebih Tinggi dari Perempuan adalah Logika Setan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Jakarta, UINJKT Online – Guru besar Star King School for Ministry Berkeley, USA Prof Dr Amina Wadud mengatakan, angapan bahwa posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan adalah cara berfikir setan. Sedangkan menganggap posisi keduanya sama adalah logika Tuhan.

Hal itu dikatakan wadud dalam konferensi internasional “Woman, Leadership, and Development in Muslim Communities of Southeast Asia: Strategies, Opportunities and Challenges” di Jakarta, Rabu (12/8).

“Sedikit pun tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal. Mereka berada pada garis horizontal,” katanya.

Dengan menganggap bahwa laki-laki lebih baik dan lebih tinggi posisinya dari perempuan, menunjukan adanya cara berpikir setan. Karena setan sampai berbuat sombong dan dimurkai Tuhan karena dia merasa lebih baik daripada Adam

Oleh sebab itu, jelas Wadud, adanya pemikiran bahwa tidak layak menjadi pemimpin harus dilawan. Karena al-Quran sendiri memberikan contoh bahwa pun layak dan mampu menjadi pemimpin. “Satu-satunya pemimpin bukan nabi tetapi juga bukan seorang tiran yang disebut dalam al-Quran adalah Ratu Balqis. Selama ini penentangan kepemimpinan dipegang oleh hanya dari segi fiqih saja,” kata Wadud dalam konferensi yang digelar Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Jakarta bekerja sama dengan Departemen Agama RI, McGill University/Canadian International Development Agency (CIDA).

Sementara itu Dr Ani Sucipto, dosen senior di Departmen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia dalam topik ” dan Politik di Indonesia (1998-2008)” mengatakan, peran serta dalam perpolitikan di Indonesia masih sangat minim. Hal itu terlihat dari data statistik peran serta di badan legislatif tahun 2004-2009 yang menunjukan persentase di DPR-RI hanya 18 persen, DPD 27,27 persen dan DPRD Provinsi 21 persen.

”Kurangnya peran serta dalam perpolitikan Indonesia diakibatkan masih terdapatnya peraturan daerah yang mendiskriminasikan , hambatan budaya, rendahnya sumberdaya , kemiskinan dan belum adanya komitmen politik untuk benar-benar mengimplementasikan gender di Indonesia,” kata Ani.

Hal serupa juga dialami Malaysia, partisipasi dalam politik masih bisa dihitung dengan jari. ”Minimnya peran serta diakibatkan adanya pemahaman bahwa dunia politik adalah dunia laki-laki selain itu anggapan bahwa tidak bisa menjadi imam juga sangat berpengaruh,” kata Dr Askiah Adam dari Malaysia.

Konferensi digelar selama dua hari (12-13/8) dan menghadirkan sejumlah aktifis perempuan dari Indonesia, Kanada, dan Amerika.

 

Laki-laki Lebih Tinggi dari Perempuan adalah Logika Setan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Jamilah

Jakarta, UINJKT Online – Guru besar Star King School for Ministry Berkeley, USA Prof Dr Amina Wadud mengatakan, angapan bahwa posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan adalah cara berfikir setan. Sedangkan menganggap posisi keduanya sama adalah logika Tuhan.

Hal itu dikatakan wadud dalam konferensi internasional “Woman, Leadership, and Development in Muslim Communities of Southeast Asia: Strategies, Opportunities and Challenges” di Jakarta, Rabu (12/8).

“Sedikit pun tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal. Mereka berada pada garis horizontal,” katanya.

Dengan menganggap bahwa laki-laki lebih baik dan lebih tinggi posisinya dari perempuan, menunjukan adanya cara berpikir setan. Karena setan sampai berbuat sombong dan dimurkai Tuhan karena dia merasa lebih baik daripada Adam

Oleh sebab itu, jelas Wadud, adanya pemikiran bahwa tidak layak menjadi pemimpin harus dilawan. Karena al-Quran sendiri memberikan contoh bahwa pun layak dan mampu menjadi pemimpin. “Satu-satunya pemimpin bukan nabi tetapi juga bukan seorang tiran yang disebut dalam al-Quran adalah Ratu Balqis. Selama ini penentangan kepemimpinan dipegang oleh hanya dari segi fiqih saja,” kata Wadud dalam konferensi yang digelar Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Jakarta bekerja sama dengan Departemen Agama RI, McGill University/Canadian International Development Agency (CIDA).

Sementara itu Dr Ani Sucipto, dosen senior di Departmen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia dalam topik ” dan Politik di Indonesia (1998-2008)” mengatakan, peran serta dalam perpolitikan di Indonesia masih sangat minim. Hal itu terlihat dari data statistik peran serta di badan legislatif tahun 2004-2009 yang menunjukan persentase di DPR-RI hanya 18 persen, DPD 27,27 persen dan DPRD Provinsi 21 persen.

”Kurangnya peran serta dalam perpolitikan Indonesia diakibatkan masih terdapatnya peraturan daerah yang mendiskriminasikan , hambatan budaya, rendahnya sumberdaya , kemiskinan dan belum adanya komitmen politik untuk benar-benar mengimplementasikan gender di Indonesia,” kata Ani.

Hal serupa juga dialami Malaysia, partisipasi dalam politik masih bisa dihitung dengan jari. ”Minimnya peran serta diakibatkan adanya pemahaman bahwa dunia politik adalah dunia laki-laki selain itu anggapan bahwa tidak bisa menjadi imam juga sangat berpengaruh,” kata Dr Askiah Adam dari Malaysia.

Konferensi digelar selama dua hari (12-13/8) dan menghadirkan sejumlah aktifis perempuan dari Indonesia, Kanada, dan Amerika.