BERITA UIN Online – Kebutuhan mahasiswa semakin banyak seiring perkembangan zaman. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar pada dininya hanya memerlukan peralatan tulis, layaknya siswa sekolah biasa. Namun, mahasiswa zaman sekarang sudah memiliki kebutuhan yang sekarang sudah dianggap lumrah yaitu motor roda dua. Kepemilikan motor bagi mahasiswa khususnya di UIN Jakarta sudah sangat banyak. Tetapi, fakta tersebut tidak diimbangi oleh lahan parkir yang tersedia.

Acapkali mahasiswa harus memarkirkan motornya di tempat-tempat tidak lazim seperti trotoar, hingga lahan terbuka hijau. Dengan adanya fenomena tersebut, sudah sepatutnya lahan parkir diperluas. Hanya saja, bukan solusi yang didapat, justru masalah bertambah. Pelarangan parkir di titik-titik penting justru semakin memperpanjang ruwetnya masalah parkir.

Lahan parkir yang semakin sempit, membuat pihak yang bertanggung jawab secara teknis begitu pusing menyikapinya. Satpam yang menjaga parkir di sekitar Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) yang enggan disebutkan namanya mengatakan, ruwetnya parkir khususnya di sekitar depan Perpustakaan Utama (PU) hingga Fakultas Ushuluddin seharusnya diberikan solusi yang jelas.

Setelah pelarangan parkir di sekitar lobby Fakultas Ushuluddin dengan pemasangan tanda dilarang parkir, mahasiswa dengan ramainya memarkirkan kendaraan di sekitar tangga PU hingga berbaris-baris. Tapi, pihak Fakultas Ushuluddin pada 21 April, melaksanakan kebijakan baru dengan pelarangan parkir berbaris lebih dari satu di depan tangga PU dengan niat melancarkan lajur jalan khususnya untuk mobil.

Menurut satpam tersebut, kebijakan itu diambil tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu kepada pihak satpam yang menjaga dan menertibkan motor di lapangan. Ia beranggapan, kebijakan tersebut dilakukan tanpa adanya solusi sehingga sekarang motor dialihkan hingga ke trotoar kafe cangkir guna menghindari penumpukan yang semakin parah. Sebab tambah satpam tersebut, lahan parkir di sekitar PU dan Fdikom bukan hanya ditujukan untuk mahasiswa Fdikom, namun juga fakultas lain seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Jadi, semakin lama semakin bertumpuk lahan parkir yang tersedia, sehingga semakin ruwet permasalahan yang timbul.

Padahal pada tahun 2013 lalu, UIN Jakarta telah memakai central parkir di sekitar PU, seperti halnya di pusat perbelanjaan. Area tersebut dibangun untuk menyikapi lahan parkir UIN Jakarta yang hanya sekitar 1 hektar, namun terdapat lebih dari 4000 kendaraan tiap harinya. Tetapi seiring berjalannya waktu, motor justru semakin bertambah di UIN Jakarta. Dengan masalah ruwetnya lahan parkir sekarang, belum ada sikap lanjut dari pihak UIN Jakarta untuk memberikan solusi terkait. Mahasiswa yang merasakan langsung pun pasti memberi tanggapan beragam mengenai hal tersebut.

Seperti diungkapkan Muhammad Rizkirrachman, mahasiswa semester 2 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fidkom, sebelum adanya larangan parkir oleh beberapa pihak saja sudah terasa sempit dan padat, apalagi setelah adanya pelarangan.

“Penggunaan gedung parkir juga rasa-rasanya masih belum terlalu efektif karena lahan parkir masih sangat ramai oleh motor. Mungkin masalah tersebut bukan hanya harus diperhatikan oleh pihak kampus, namun oleh mahasiswa sendiri yang katanya agen perubahan,” tutur Rizki.

Tentu perlu ada kesadaran baru dari semua pihak agar kampus UIN Jakarta, terasa aman dan nyaman bagi mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika. Semoga. (Edy AE)

Share This