Kyoto University-UIN Jakarta Kolaborasi Meneliti Biota Laut

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
UIN Jakarta jalin kerjasama penelitian mengenai Hermit Crabs (kelomang/ umang-umang) dengan peneliti yang berasal dari  Seto Marine Biological Laboratory, Kyoto University, Jepang. Jumat (12/08)

UIN Jakarta jalin kerjasama penelitian mengenai Hermit Crabs (kelomang/ umang-umang) dengan peneliti yang berasal dari Seto Marine Biological Laboratory, Kyoto University, Jepang. Jumat (12/08)

Gd. FST, BERITA UIN Online— UIN Jakarta jalin kerjasama penelitian mengenai Hermit Crabs (kelomang/ umang-umang) dengan peneliti yang berasal dari  Seto Marine Biological Laboratory, Kyoto University, Jepang. Peneliti tersebut adalah Akihiro Yoshikawa mahasiswa Magister Program Biologi Laut yang tinggal di Indonesia sejak 16 Juli lalu.

Penelitian ini bertujuan memperkaya pengetahuan biologi terutama tentang biota laut, serta menemukan spesies lain dari keluarga kelomang, juga mencari jawaban penyebab perbedaan warna kelomang di setiap daerah. Demikian disampaikan Guru Besar Biologi UIN Jakarta Prof Dr Lily Surayya Eka Putri M.Env., Stud di ruang kerjanya sesaat setelah menerima kedatangan peneliti dari Kyoto University, Jumat (12/08).

“Pembicaraan tentang kolaborasi riset ini sudah dicanangkan sejak tahun lalu, saat acara Marine Course di Amakusa Marine Biological Laboratory (AMBL) Kyushu University 2015, dan alhamdulillah tahun ini penelitian tersebut segera direalisasikan,” tambahnya.

Di tempat yang sama, (Akihiro Yoshikawa.red) mengaku senang dapat menjalin kerjasama dengan FST UIN Jakarta, dan berharap akan membuka kerjasama dalam bidang keilmuan lainnya.

Perihal kelomeng atau umang-umang, Yoshi (panggilan akrab Yoshikawa) menjelaskan, adalah salah satu spesies laut krustasea dekapod dari superfamilia Paguroidea yang merupakan sebagian besar Paguroidea memiliki perut asimetris, yang tersembunyi dalam cangkang siput laut yang telah kosong.

“Hewan ini memiliki vareasi warna yang berbeda-beda di setiap negara bahkan daerah. Saya sudah melakukan penelitian di Jepang, Taipe, Thailand, dan Indonesia. Semua berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri,” paparnya.

Masih menurut Yoshi, menjadi hal yang menarik untuk diteliti, penyebab perbedaan warna kelumang di setiap negara. Oleh karenanya, metode yang digunakan adalah genetika molekular, yaitu metode modern dibandingkan dengan taksonomi, sehingga mampu memperkuat dan mengecek hasil dari taksonomi.

“Dengan penelitian ini, diharapkan mampu menjawab pertanyaan apa penyebab perbedaan warna kelomen di setiap daerah dan negara, serta menambah referensi pengetahuan alam (biologi),” tandas peneliti yang akan melanjutkan penelitiannya ke Afrika Selatan ini. (lrf/yma)