Kurikulum PT Belum Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah Farihin

Gedung FST, BERITA UIN Online - Founder Pillar Business Accelerator, Lyra Puspaningrum, mengatakan, akibat ketidaksesuaian antara kurikulum perguruan tinggi (PT) dengan kebutuhan dunia usaha, kini banyak perusahaan yang merekrut karyawan fresh graduate tidak sesuai dengan kebutuhan di perusahaan.

“Prestasi akademik mahasiswa saat ini kebanyakan tak berbanding lurus dengan prestasi kerja, akibatnya saat masuk dunia kerja mereka harus mendapatkan pelatihan terlebih dahulu. Ini merupakan beban bagi perusahaan,” kata Lyra dalam Kuliah Umum “Link & Match Lulusan Sarjana Agribisnis, Dunia Pendidikan vs Dunia Usaha” yang digelar Program Studi Agribisnis di Ruang Teater Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Jumat 9 April 2011.

Menurutnya, perusahaan juga sering beranggapan, bahwa lulusan sarjana masih belum bisa langsung on the fly pada praktek di lapangan.  “Mereka masih dianggap nol, belum tahu apa-apa, paling hanya 20 persen ilmu yang diserap selama kuliah yang dapat dipergunakan di dunia kerja,” jelas lulusan Magister Manajemen PPM IPB ini.

.Karena itu, tambah dia, perusahaan sering mengadakan pelatihan berkesinambungan bagi para fresh graduate melalui program graduate trainee dan management trainee untuk memberikan kesiapan bagi para lulusan baru bekerja di dunia usaha.

“Tidak match-nya perguruan tinggi dengan dunia usaha merupakan iklim yang tidak baik. Di satu sisi dunia usaha memerlukan tenaga kerja yang andal dan aplikatif di bidangnya, tapi di sisi lain lulusan perguruan tinggi yang melimpah justru belum mendapatkan pekerjaan dengan bidang yang sesuai jurusannya,” katanya.

Hal itu diperparah dengan enggannya para fresh graduate untuk bekerja sebagai marketing. Mereka malah lebih memilih pekerjaan yang tak terlalu besar tanggungjawabnya, misalnya, staf administrasi atau sekretaris. Padahal marketing dalam dunia usaha merupakan tulang punggung perusahaan.

Berkaca dari kondisi tersebut, ia berharap agar para mahasiswa mempunyai jiwa enterpreneurship. Di samping kuliah mereka bisa membuka usaha kecil atau magang di perusahaan besar guna menanamkan kewirausahaan dan mengetahui kebutuhan dunia usaha.

“Dengan demikian mahasiswa magang tidak hanya mendapat pengalaman, tetapi juga sudah memperoleh suatu job simulation yang memberikan bekal lebih baik dalam menghadapi dunia kerja selepas lulus kuliah nanti,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong perlunya kerja sama antara perguruan tinggi dan dunia usaha, agar masing-masing memperoleh manfaat dan hubungan yang saling menguntungkan. Sehingga suatu saat pihak dunia usaha pun dapat menerima para lulusan fresh graduate yang siap kerja. []