Kurban: Momentum untuk Memotong Jiwa Kebinatangan Manusia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Prof Dr Abdul Mujib M.Ag M.Si

Prof Dr Abdul Mujib M.Ag M.Si

Lapangan SC, BERITA UIN Online– Kegiatan berkurban dalam Hari Raya Idul Adha diharap menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk memotong nafsu kebinatangan di dalam dirinya. Lebih dari itu, dengan berkurban diharap jiwa manusia tergantikan oleh jiwa kemanusiaan dan rabbaniyah yang memberikan kedamaian hakiki dan kesejahteraan bersama.
Demikian diungkapkan Prof Dr Abdul Mujib M.Ag M.Si saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1436 H di Lapangan Student Center (SC) UIN Jakarta, Kamis (24). Dalam shalat Idul Adha yang diikuti civitas academica UIN Jakarta ini, Dekan Fakultas Psikologi ini menyampaikan khutbah bertajuk “Idul Adha: Momentum Aktualisasi Potensi Insani Menuju Kepribadian Rabbani“.
“Kurban yang sesungguhnya adalah bagaimana kita menyembelih jiwa kebinatangan, yang bersemayam dalam diri kita, suami atau anak istri, anak-anak, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita,” ungkapnya.
Mengutip keterangan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, tutur Guru Besar Psikologi Islam ini, dalam diri manusia terdapat dua nafsu dengan kekuatan masing-masing. Keduanya, nafsu syahwat dan nafsu gadhab.
Nafsu syahwat memiliki sifat jiwa binatang jinak sehingga disebut juga sifat bahimiyah. Nafsu ini merupakan daya yang berpotensi untuk menarik diri dari segala sesuatu yang menyenangkan. Melalui nafsu ini, manusia acapkali didorong untuk mengumbar nafsu syahwat, hedonistik, mengejar kenikmatan biologis, bahkan cenderung materialistik dengan menjadikan harta dan kekuasaan sebagai orientasi utama hidupnya.
Adapun nafsu gadhab, memiliki sifat binatang buas sehingga disebut juga sifat subu’iyah. Nafsu ini merupakan daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala sesuatu yang membahayakan. Melalui nafsu jenis ini, manusia terdorong berperilaku brutal, senang mencekal, suka berkelahi dan tawuran, ingin menguasai yang lain, keras kepala, arogan, egostik, penuh teror, spionase, dan pembunuhan karakter.
“Dua jiwa kebinatangan inilah yang harus kita sembelih agar kita menjadi orang yang shalih dan bertakwa,” tandasnya. (ZM)