Kultum Ramadhan: Puasa dan Masalah Sosial Politik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Iding Rosyidin

Iding Rosyidin

Salah satu literatur yang saya temukan merujuk kepada masa klasik, yaitu tradisi Arab sebelum Islam. Bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang sangat menghormati bulan Ramadhan. Saat itu mungkin namanya bukan Ramadhan.

Ada dua tradisi bangsa Arab yang dilakukan saat itu. Bangsa Arab dikenal sebagai penguasa perdagangan. Bila Ramadhan tiba, mereka menghentikan aktifitas perdagangan. Sepanjang bulan itu, kegiatan hanya diisi dengan mengkalkulasi, menghitung-hitung semua barang yang sudah masuk dan keluar. Mereka gunakan satu bulan itu untuk beristirahat dari seluruh aktifitas perdagangan. Alasannya untuk menghormati bulan ramadhan.

Kedua, bangsa Arab pada masa itu paling senang bertikai dan berkonflik. Terutama suku Aus dan Khazraj. Namun setiap Ramadhan, semua kepala suku sepakat untuk menghentikan beragam bertikaian dan perang sebagai bentuk penghormatan terhadap Ramadhan.

Dua tradisi ini (mengkalkulasi untung rugi dan menghentikan peperangan) ternyata sangat baik bagi kehidupan sosial masyarakat pada saat itu. Ketika Islam datang, kedua tradisi ini tetap diabadikan dan dilaksanakan oleh bangsa Arab Muslim dengan dihiasi oleh nilai-nilai Islam.

Konteks muhasabah menjadi penting sebagai pengisi tradisi yang telah dirintis oleh bangsa Arab. Bulan Ramadhan sebagai bulan yang tepat untuk ber-muhasabah, mengevaluasi diri dari amalan yang telah dilakukan selama sebelas bulan dalam setahun. Tidak hanya dari sisi spiritual saja, tetapi dari sisi fisik pun kita dituntut untuk mengevaluasi, mengontrol diri dari asupan makanan. Maka siapa pun yang puasa di bulan Ramadhan, dijamin akan sehat.

Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan umat Islam untuk fokus menjaga kesucian dengan menghindari segalan jenis konflik apa pun yang ada di masyarakat. Umat Islam harus lebih mawas diri dan meningkatkan kualitas ibadah, sehingga aspek-aspek sosial seperti pertikaian dan peperangan tadi dapat dihindari.

Secara ritual ibadah, puasa sifatnya memang sangat personal. Tetapi puasa sesungguhnya memiliki dimensi sosial yang luar biasa dan mungkin melebihi ritual ibadah yang lain. Misalnya dengan tumbuhnya kepekaan dan kepedulian sosial yang kemudian dimanifestasikan oleh mekanisme zakat fitrah.

Jika dulu bangsa Arab hanya menghentikan peperangan antar suku saja, maka umat Islam saat ini tidak hanya menghentikan konflik, tetapi puasa mendidik kita untuk semakin peduli terhadap kelompok sosial yang lain yang kurang beruntung.

Dengan adanya kewajiban umat Islam untuk membayar zakat di akhir puasa, sesungguhnya telah  mampu membuat hubungan sosial di masyarakat semakin baik. Karena dalam ajaran Islam, setiap harta yang dimiliki, ada hak bagi orang lain di dalamnya.

Ibadah puasa selain mengajak kita untuk ber-muhasabah, mengontrol diri, dan menghentikan segala macam pertikaian, hal penting lain untuk dilakukan adalah dengan terus meningkatkan kepedulian sosial terutama kepada kelompok-kelompok yang kurang beruntung di sekitar kita.

Disarikan oleh Nur Jamal Sha’id dari kultum Ramadhan Iding Rasyidin, S.Ag, M.Si di Masjid Al-Jami’ah UIN Jakarta, Rabu 29 Juni 2016.