Kultum Ba’da Zuhur VII: Dengan Keimanan, Puasa dan Sabar dapat Dimaknai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Kultum ba’da Zhuhur ke-7 kali ini disampaikan Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Dr Hamka Hasan MA, Selasa (30/6/2015) di Masjid al-Jamiah Student Center UIN Jakarta.

Hamka mengulas tema tentang Iman Sebagai Basis Puasa dan Sabar. Mengutip definisi sabar dari beberapa ulama klasik dan kontemporer, Hamka mangemukakan sabar bermakna menahan di tempat yang sempit, membelenggu, tempat tinggi, bebatuan yang sangat keras, dan berkembang menjadi sesuatu yang sangat pahit.

“Dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan 123 kali tersebar dalam surat-surat Makiyah dan Madaniah,” ujar Hamka.

Imam al-Ghazali pengarang Kitab Ihya Ulumiddin, lanjut Hamka, dan Syeikh Abu Thalib al-Makki menghitung kata sabar dalam al-Qur’an ada 90 kali. Sementara menurut Ibnul Qoyyim al-Jauzi dalam Madarij as-Salikin ada 70 kali. Terjadinya perbedaan jumlah kata sabar ini menurut Hamka karena sabar ada dua kali disebutkan dalam satu ayat.

“Ada yg menghitung satu kata, yang lain menganggap include dalam satu ayat,” kata Hamka.

Menyimpulkan definisi sabar, Hamka mengutip pendapat Quraish Shihab yang mengatakan sabar adalah ketabahan untuk menghadapi kesulitan seperti bebatuan yang keras. Sabar adalah sesuatu yang sangat pahit, namun dapat mengangkat pelakunya ke tempat yang tinggi dan mulia.

Diungkapkannya, ternyata ayat sabar posisinya sama dengan ayat puasa, yaitu sama-sama berada dalam Surat al-Baqoroh.

Dari sini, Hamka mengupas kisah pembunuhan misterius terhadap seorang Yahudi pada masa Nabi Musa yang tidak diketahui pelakunya.

“Untuk mengetahui pelakunya, maka disembelihlah sapi yang paling unggul dengan ciri-ciri yg disebutkan dalam ayat itu. Potongan dari tubuh sapi dipukulkan pada mayit dan hiduplah si mayit kemudian menunjuk siapa pelakunya,” papar Hamka.

Menurut Hamka, hanya dengan iman dan takwa orang mampu memahami mayit bisa hidup dan menunjuk siapa yang membunuh.

“Puasa dan sabar juga seperti itu, mengarah kepada iman dan takwa, sehingga keduanya (puasa dan sabar, red.) dapat dipahami maknanya dan direalisasikan dalam kehidupan,” tutup Hamka sambil membacakan ayat 155 surat al-Baqoroh tentang sabar.