Kultum Ba’da Zhuhur XIII (Terakhir): Amalan Apa yang dapat Dibanggakan?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SPs DidinMasjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Seorang arsitek yang sudah puluhan tahun bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, suatu hari dipanggil kepala perusahaan. Dia meminta arsitek yang akan pensiun itu untuk membuatkan sebuah rumah terakhir hasil karya tangan sang arsitek sendiri.

Dibuatlah rumah di bawah standar oleh sang arsitek dan dikerjakan secara asal-asalan. Dia berpikir, untuk apa membuat rumah yang bagus, sementara sebentar lagi akan pensiun, yang menikmati bukan dirinya, tapi orang lain. Ketika rumah tersebut selesai, ternyata kepala perusahaan memberikan rumah itu untuk sang arsitek.

“Persembahkanlah sesuatu yang terbaik dalam hidup ini untuk agama, masyarakat, bangsa, dan negara kita dengan prestasi yang unggul,” ujar Prof Dr Didin Saefudin MA mewakili Sekolah Pascasarjana (SPs) pada Kultum ba’da Zhuhur XII di Masjid al-Jamiah, Student Center UIN Jakarta, Kamis (9/7/2015).

Didin mengingatkan jamaah untuk tidak berbuat seperti cerita sang arsitek yang disampaikannya. “Apapun pekerjaan kita, kerjakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, maka nanti hasilnya kembali kepada diri kita sendiri,” tegasnya.

Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora itu juga menceritakan kisah sahabat Saad bin Abi Waqqas dan Abdullah bin Jahsy yang berdoa sesaat sebelum bertempur dalam perang Uhud. “Ya Allah berikan aku musuh yang gagah perkasa,” ujar Saad yang ditirukan Didin.

Sedangkan Jahsy, lanjut Didin, lebih hebat lagi isi doanya, “Ya Allah berikan aku musuh yang gagah perkasa yang mampu memotong-motong tubuhku, tanganku, kakiku, kepalaku, hidungku, mataku, sehingga potongan tubuhku dapat bersaksi di hadapan Allah tentang perjuangan yang kupersembahkan ini,” ujar Jahsy.

Dalam catatan sejarah, Saad bin Abi Waqqas selamat dalam perang Uhud, sedangkan Jahsy mati syahid dalam keadaan tubuh terpotong-potong sesuai permintaannya dalam doa. Mereka ingin mempersembahkan sesuatu yang dapat dibanggakan di hadapan Allah SWT.

“Kita juga harus seperti itu, apa amalan kita yang menjadi andalan di dunia ini. Maka lakukanlah sholat, puasa, zakat, infak, dan ibadah lainnya dengan sebaik-baiknya, sehingga ketika Allah SWT bertanya, kita bisa jawab dengan bangga,” katanya.

Didin menutup ceramahnya dengan berpesan kepada jamaah untuk meniru amal dua sahabat tersebut dengan memberikan kualitas terbaik perjuangannya, tidak seperti yang dilakukan sang arsitek.

Kultum dari perwakilan SPs UIN Jakarta ini mengakhiri rangkaian kultum ba’da Zhuhur di UIN Jakarta dalam kegiatan Ramadhan in Campus 1436 H/2015 H. Tercatat, 13 orang penceramah dari perwakilan unit kerja telah menyampaikan materinya. Semoga rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dicatat sebagai amal ibadah dan puasa yang dilaksanakan menjadi amalan maqbula (diterima) dan amalan mardhiya (diridoi Allah SWT). Amin.