Kultum Ba’da Zhuhur VI: Sivitas Akademik UIN Jakarta, Jaga Citra Kampus!

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Tujuan puasa supaya manusia bertakwa dan takwa adalah manhaj tertinggi umat Islam. Demikian materi Kultum ba’da Zhuhur ke-6 diawali Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Dr Yayan Sopyan MAg, Senin (29/6/2015) di Masjid al-Jamiah Student Center.

“Tahapan untuk mencapai takwa di antaranya dengan puasa dan puasa adalah ibadah khusus sebagaimana firman Allah SWT dalam hadis Qudsi,” ujar Yayan sambil mengutip hadis riwayat Bukhori Muslim dari Abu Hurairah yang artinya “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Menurut demisionaris Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat ini, ada empat hikmah yang terkandung dalam puasa. Yayan menyebutkan, pertama puasa merupakan bentuk ketaatan hamba kepada Allah.

“Kalau siang hari puasa datang ke Warteg, hanya Allah, kita, dan tukang Warteg saja yang tahu,” tegas Yayan sambil melanjutkan, “Warteg tidak perlu ditutup siang hari, tapi di situ ditulis yang boleh makan hanya orang gila, non-Muslim, anak kecil, wanita haid dan orang-orang yang diperbolehkan tidak puasa,” canda Yayan.

Hikmah kedua, sambung dosen Program Studi Ahwal Syakshiyyah FSH ini, puasa sebagai sarana latih diri agar memiliki sifat sabar, tekun, tahan uji, dan bersahaja, “Banyak orang puasa direpotkan dengan urusan makanan, sehingga pengeluaran bulan Ramadhan justeru lebih besar ketimbang di luar Ramadhan,” paparnya.

Pada hikmah ketiga, Yayan menyebut puasa mendidik disiplin waktu dengan hidup teratur saat berbuka dan saat berpuasa (menghindari hal-hal yang membatalkan puasa, red.). “Ini dapat dijadikan refleksi pegawai dan pimpinan agar disiplin dengan tepat waktu,” tandas Yayan.

Yang paling menarik menurut Yayan adalah hikmah keempat, puasa dapat menumbuhkan rasa persaudaraan. Sebagai pegawai kampus yang ada label Islam, sivitas akademik UIN Jakarta memiliki beban ganda, sebagai pegawai dan juga sebagai pengibar panji Islam. Walaupun sebagai dosen Fisika, maka harus bisa ceramah dan baca doa.

“Citra positif harus dipertahankan karena menjadi eksistensi dan ciri khas UIN Jakarta di masyarakat, jangan sampai tercemari perilaku yang kurang baik,” imbuhnya.

Yayan menutup ceramahnya dengan menceritakan seorang karyawan stress akibat perusahaan tempat kerjanya koleps pada masa krisis moneter tahun 1998. Satu ketika ia berinisiatif menulis proposal buka usaha Cilok dengan modal Rp 4 juta ditujukan kepada Tuhan. Karena dianggap surat aneh, diserahkanlah surat itu oleh petugas pos ke Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) setempat.

Merasa iba, Kapolres berhasil menggalang dana Rp 3.5 juta dan diserahkan anak buahnya ke karyawan stress tadi. Bukan ucapan terima kasih yang diterima, karyawan stress itu malah komplain ke Tuhan, “Tuhan lain kali jangan dititip ke Polisi, ini dikentit Rp 500 ribu,” ujarnya disambut tawa jamaah.

“Sekali berbuat yang dianggap keburukan, sulit untuk memperbaikinya, seperti citra polisi di mata masyarakat, maka jaga citra UIN Jakarta,” pesan Yayan.