Kultum Ba’da Zhuhur IX: Amal Baik Orang Puasa Membuka Pintu Surga

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Jamiah, BIMG-20150702-01973ERITA UIN Online– Dua poin mengenai puasa disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Dr Desmadi Saharudin Lc MA pada Kultum ba’da Zhuhur, Kamis (2/7/2015) di Masjid al-Jamiah Student Center UIN Jakarta.

Desmadi menguraikan, poin pertama tentang hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW mengabarkan pada bulan Ramadhan pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup rapat, dan setan-setanpun dibelenggu.

Hal itu terjadi, menurutnya, dikarenakan amalan-amalan baik orang puasa tersebut. Ditegaskannya jika memang benar pintu surga dibuka, pintu nereka ditutup, dan setan diikat, menjadi naif jika kemaksiatan tetap terjadi, bahkan meningkat.

Misalnya, dia mencontohkan, semakin meningkatnya kasus pencopetan di pasar Tanah Abang Jakarta seiring semakin banyaknya jumlah orang yang datang untuk berbelanja kebutuhan puasa dan lebaran.

“Kalau dilihat zhahir hadis, tidak ketemu. Hadis berlaku bagi orang-orang puasa. Dibukanya surga berarti dibukanya peluang kebaikan, secara otomatis pintu neraka tertutup dan setan-setan pergerakannya terbelenggu,” ujarnya sambil melanjutkan, “Artinya jika ingin pintu surga dibuka, maka kita sendirilah yang mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan itu.”

Desmadi melanjutkan, poin kedua tentang ayat sholat dalam surat al-Ankabut ayat 45. Dalam ayat itu disebutkan shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kata “mencegah”, ungkapnya, menggunakan fi’il mudhori, artinya akan atau sedang.

“Berarti orang-orang yang shalatnya diterima adalah orang-orang yang mau menjauhi perbuatan keji dan munkar. Selama keji dan munkar masih dilakukan, maka sia-sialah sholatnya. Jika ingin diterima shalatnya, jauhi keji dan munkar,” papar pria kelahiran Kota Baru ini.

Terkait kejahatan (keji dan munkar, red.), dosen Dpk STAI Nahdlatul Ulama Jakarta ini membagi kejahatan menjadi dua tipe. Pertama pelaku hanya berdosa untuk dirinya sendiri dan kedua berdosa untuk diri dan kejahatan yang dilakukan menimbulkan efek untuk orang lain.

“Kalau orang tidak puasa itu tidak ada efek kepada orang lain, dia hanya berdosa untuk dirinya sendiri, tapi kalau orang korupsi, itu merugikan orang banyak,” tegasnya.

Pada akhir ceramahnya, alumni Universitas al-Quran dan Studi Islam Sudan ini mengingatkan puluhan jamaah yang hadir untuk memperbanyak perbuatan baik di bulan Ramadhan agar ibadah puasa menjadi amalan maqbula (diterima).

“Jika puasa ingin terima, maka buka pintu surga dengan kebaikan,” tutupnya.