Kultum Ba’da Dzuhur VIII: Puasa Mendorong Manusia untuk Sabar dan Mengontrol Diri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid Al-Jami’ah, Berita UIN Online Kultum ba’da Zhuhur ke-8 ini disampaikan Dekan Fakultas Psikologi Prof Abdul Mujib, Rabu (1/7/2015) di Masjid al-Jami’ah Student Center UIN Jakarta.

Seperti kita ketahui bersama dan ter-maktub dalam kitab suci Al-Qur’an, bahwa Allah SWT memberikan kelebihan kepada kaum Yahudi, yaitu berupa otak yang cerdas. Karena mereka di karunia otak yang cerdas, hampir semua ilmu pengetahuan dikuasai olehnya. Maka menjadi hal yang wajar, ketika Allah bertanya siapa yang paling pintar. Nabi Musa menjawab “saya”. Tapi Allah mengatakan bukan kamu yang pintar, ada yang lebih pintar dari kamu, yaitu Khidir. Kenapa Allah meminta Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khidir? karena Khidir mempunyai Ilmu Laduni.

Beliau menambahkan penjelasannya, dalam surat al-Kahfi disebutkan ‘fawajada ‘abdan min ‘abdina… min ladunna ‘ilman. Ayat tersebut menerangkan bahwa kecerdasan Nabi Musa kalah dengan Nabi Khidir karena Nabi Khidir mempunyai ilmu laduni. Ilmu laduni adalah ilmu yang mengetahui kejadian yang belum terjadi, dalam istilah hukum kausalitas, orang yang mengetahui akibat pertama, akibat kedua dan akibat ketiga, saya mengatakan ilmu laduni itu seperti anak yang menderita Indigo, papar Mujib.

Dijelaskannya pula, dalam ilmu Psikologi, anak indigo mengetahui apa yang akan terjadi, ketika lawan baru bergerak satu langkah,anak indigo sudah mengetahui langkah dia selanjutnya. Seperti halnya, Nabi Khidir melubangi perahu sebelum berlayar, membunuh anak kecil, dan membangun rumah buat anak kecil, ia melakukan ini karena sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

Sedangkan Nabi Musa tidak mengetahuinya. Perbedaan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah kesabaran. Kehebatan Khidir tidak bisa dikalahkan oleh Musa karena sabar. Nabi Khidir memiliki kesabaran yang luar biasa, sehingga ia bisa memprediksi apapun yang akan terjadi. Dalam bahasa psikologi sabar itu kontrol diri, jelasnya.

“Banyak orang pintar lalu sukses, tidak semata-mata karena kecerdasan yang mereka miliki. Namun, ada unsur lain yang lebih penting yaitu kecerdasan emosional,” tandas Mujib.

Diakhir ceramahnya ia mengutip hadis yang mengatakan bahwa puasa itu setengah dari kesabaran dan setengah dari sabar itu disebabkan oleh penguasaan diri. Orang sukses itu biasanya dalam kontrol dirinya baik. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah SWT. Oleh karenanya, hal ini memberikan pelajaran bagi kita untuk bagaimana menahan diri, mengontrol emosi dan hal-hal yang tidak baik.

“Kepada diri saya dan segenap sivitas akademik UIN Jakarta, saya harap memanfaatkan puasa ini sebagai bahan latihan kontrol diri hingga mendapatkan nilai akhir yang baik, yaitu nilai baik di sisi Allah SWT. Sungguh sangat disayangkan,apabila di bulan puasa ini kita hanya menahan haus dan lapar semata. Kita berdoa, semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT, dan menjadi tabungan amal ibadah kita kelak, aamiin,” tutupnya. (Tutur A Mustofa/Luthfy R Fikri)