Kuliah Farmasi, Tapi Tetap Nyantri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

ikhdaIKHDA biasa gadis manis itu dipanggil. Nama lengkapnya,Ikhda Khullatil Mardliyah. Ia mahasiswi semester pertama Profesi Apoteker, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Jakarta setelah sebelumnya menamatkan sarjana Farmasi di fakultas yang sama. Lazimnya mahasiswi UIN Jakarta, Ikhda aktif kursus dan berorganisasi di sela-sela kesibukannya kuliah. Bedanya, Ikhda kuliah sambil tetap nyantri, tinggal di pondok dan membaca berbagai kitab kuning.

Sejak masuk kuliah di Jurusan Farmasi, FKIK, Ikhda memang komitmen untuk tetap nyantri di tengah-tengah kesibukannya kuliah. Karena berbagai alasan, Ikhda memilih nyantri di Pesantren Luhur Sabilussalam, Gang Bacang, Cempaka Putih, Ciputat. Salahsatu pesantren yang berdiri sekitar kampus UIN Jakarta.

Ikhda memilih nyantri karena keinginannya untuk mendalami keilmuan Islam kendati kuliah di jurusan yang sama sekali jauh berbeda dengan dunia santri. Latar belakangnya dari lingkungan pesantren di desa Sedan, Rembang, Jawa Tengah juga menjadi alasannya tetap nyantri.

“Saya tidak ingin jauh-jauh dari pesantren. Sebab saya bisa kuliah di Farmasi dan kini Profesi Apoteker juga karena latar belakang pesantren. Setelah lulus, saya pun harus kembali ke pesantren,” tutur peraih beasiswa santri Kementerian Agama ini.

Sibuk dengan tugas kuliah seabreg dan jadwal ngaji memang menyulitkan Ikhda. Ia harus pandai berbagi waktu untuk kuliah sekaligus nyantri. Siang hari, misalnya, ia kuliah di kampus 2 UIN Jakarta. Sedang di malam hari, mulai pukul 19.00-21.00 dan mulai pukul 04.00-06.00 pagi, Ikhda harus mengaji.

“Kalau ditanya sulit enggak? Ya pasti sulit. Apalagi di awal-awal nyantri. Mulai karena model pembelajaran pesantren yang berbeda dari pesantren sebelumnya, tumpukan laporan praktikum, jadwal tidur yang tidak menentu, hingga konsentrasi yang terpecah-pecah saat awal menjalani kuliah dan nyantri,” tutur alumni Pesantren Riyadlotut Thalabah ini.

Tidak jarang, jadwal kuliah dan ngaji yang padat membuat kesehatannya memburuk. Namun lama kelamaan ia terbiasa dengan jadwal yang padat, bahkan Ikhda mampu menjalankan tugas kuliah dan nyantri dengan baik. Lebih dari itu, latar belakang pesantren menjadikannya tempat bertanya teman-teman kuliah yang penasaran dengan keislaman. Sebaliknya saat di pesantren, Ikhda menjadi tempat bertanya para santri tentang dunia farmasi.

“Karena saya dari pesantren, teman-teman kuliah sering bertanya dan berdiskusi tentang ilmu agama dari cara shlat hingga ngaji. Sebaliknya di pesantren, saya sering ditanya tentang obat atau penyakit sesuai bidang yang saya geluti,” tutur dara kelahiran 15 Oktober 1994 ini.

Selain kuliah dan pesantren, Ikhda aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Farmasi (BEMProdi Farmasi), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas, Community Santri Schoolar’s of Ministry Of Religius Affairs (CSSMoRA) hingga organisasi intra Santri di Keluarga Mahasantri Pesantren Luhur Sabilussalanm (KMPLS). Belakangan, Ikhda juga aktif menjadi kontributor Berita UIN Jakarta.

Remawati, teman sekelas Ikhda di Prodi Farmasi memiliki kesan tersendiri tentang Ikhda. Menurutnya, Ikhda tipe mahasiswi yang sangat aktif, namun mampu mengatur jadwal dengan baik. “Ia, mampu kuliah, aktif di organisasi, bahkan sambil tetap nyantri. Ia cukup komitmen menjalankan semua tugas-tugasnya,” tambahnya.

Diakui Ikhda, kuliah sambil nyantri memberinya banyak manfaat. Selain memberinya peluang mendalami ilmu-ilmu keislaman, Pesantren memberinya banyak jaringan pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai fakultas dan prodi. Tak hanya itu, pesantren juga mempertemukannya dengan figur kyai dan guru-guru yang senantiasa mengingatkannya tentang perilaku baik sekaligus menjadi orang tua di perantauan. Sukses Ikhda! (ikm/zm)