Krisis Finansial Global dan Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

 

APA hubungan antara agama dan krisis finansial dan ekonomi yang semula melanda Amerika Serikat, namun segera menyebar ke seluruh penjuru dunia? Secara sepintas, tidak ada hubungannya. Atau, mungkin terlihat hubungannya ketika dalam situasi krisis finansial dan ekonomi tersebut kian banyak orang bunuh diri.

 

Mereka yang mencabut nyawanya sendiri itu umumnya dianggap tidak atau kurang memiliki pegangan agama yang kuat. Memang, banyak orang tiba-tiba menjadi miskin karena aset atau saham yang mereka tanam dalam perdagangan saham atau dikelola fund manager atau pialang, misalnya, ambles tidak berbekas. Dalam keadaan seperti ini, banyak orang yang tidak sanggup menahan diri sehingga menempuh jalan pintas bunuh diri.

Tetapi, terdapat hal-hal yang jauh lebih rumit menyangkut kaitan antara krisis finansial dan ekonomi global sekarang dengan agama. Masalah ini menjadi perhatian khusus Council on Faith, World Economic Forum, Davos, Swiss, yang kebetulan saya termasuk salah satu anggotanya bersama figur-figur lain, semacam John L Esposito (direktur Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University, AS), Karen Armstrong (penulis tentang agama, Inggris), Jorge Sampaio (Perwakilan Tinggi Alliance of Civilizations, PBB, New York), Tony Blair (Utusan Perdamaian Timur Tengah), William A Graham (guru besar agama Harvard University), Ismail Serageldin (Direktur Bibliotheca Alexandina, Mesir), dan banyak lagi.

 

Berdasarkan pertemuan dan dialog  The Summit on the Global Agenda, yang diselenggarakan di Dubai pada 7-9 November 2008, The Global Agenda 2009, Council on Faith, dan World Economic Forum memandang krisis keuangan dan ekonomi global sekarang ini lebih daripada sekadar persoalan pasar. Lebih jauh lagi, kondisi seperti itu mencerminkan krisis kepercayaan (confidence) dan bahkan mengisyaratkan bahwa para pelaku pasar dan banyak kalangan masyarakat lainnya tidak lagi memegang nilai-nilai integritas, transparansi, dan kebajikan umum (public good).

 

Semua nilai terakhir ini tentu saja juga sangat ditekankan agama. Bahkan, The Council on Faith menyatakan, ajaran dan tradisi agama-agama merupakan  reservoir yang tidak pernah kering bagi nilai-nilai etik dan moral yang dapat diterapkan dalam berbagai lapangan kehidupan, termasuk ekonomi dan pasar. Setiap tradisi dan ajaran agama memiliki perspektifnya tentang bagaimana seharusnya pasar dan ekonomi dikembangkan untuk keadilan dan kesejahteraan umat manusia.

 

Masalahnya kemudian, mengapa agama-agama yang juga mencakup nilai-nilai seperti itu seolah tidak berdaya menghadapi perkembangan yang tidak selalu positif dan kondusif dalam kehidupan masyarakat, yang berujung antara lain pada krisis finansial dan ekonomi. Padahal, di banyak bagian dunia, khususnya di AS dan juga di wilayah-wilayah lainnya, agama-agama mengalami ‘kebangkitan kembali’.

 

Di AS, gejala itu dapat dilihat dengan kemunculan semakin banyak orang yang merasa terlahir kembali (born again) sebagai pemeluk agama. Di banyak bagian dunia lainnya–termasuk di Indonesia–gejala itu menampilkan diri peningkatan religiositas melalui peningkatan ibadah dan berbagai simbolisme keagamaan lainnya. Dengan perkembangan seperti itu, mestinya agama juga kian aktual dalam kehidupan, khususnya dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan seterusnya.

 

Namun, di tengah peningkatan semangat keagamaan itu, pada saat yang sama, masyarakat di Barat dan juga di banyak masyarakat bagian dunia lainnya kian terjebak dalam perlombaan yang seolah tidak pernah putus untuk mencapai kehidupan serba melimpah (affluent) dengan berbagai cara, termasuk cara-cara tidak halal, tidak etis melanggar tatanan hukum, serta tidak lagi memedulikan kepentingan dan kebajikan publik.

Keinginan untuk menikmati kehidupan serba melimpah tersebut terutama didorong kerakusan yang nyaris tanpa batas dengan berbagai implikasinya terhadap kehidupan. Bukan hanya dalam bidang keuangan dan ekonomi, tapi juga dalam bidang sosial, budaya, politik, lingkungan hidup, dan lain-lain. Gaya hidup yang serba melimpah tentu saja sekaligus mendorong kian menguatnya konsumerisme dan hedonisme, yang semula dapat kita temukan dalam banyak lingkungan masyarakat Barat, tetapi kini dapat disaksikan di Indonesia.

 

Semua gejala ini memperlihatkan tantangan terhadap agama-agama sebenarnya juga kian meningkat. Dan, tantangan itu tentu saja menghendaki respons para pemimpin, pemikir, aktivis, dan bahkan para pemeluk agama secara keseluruhan. Tantangan itu sederhananya menyangkut bagaimana mengaktualisasikan ajaran dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari tidak pada tingkat ibadah ritual belaka. Jika ini bisa dilakukan, agama memberikan kontribusi pada usaha menyelamatkan kehidupan dari berbagai krisis.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 23 April 2009

Penulisa adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Krisis Finansial Global dan Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra

 

APA hubungan antara agama dan krisis finansial dan ekonomi yang semula melanda Amerika Serikat, namun segera menyebar ke seluruh penjuru dunia? Secara sepintas, tidak ada hubungannya. Atau, mungkin terlihat hubungannya ketika dalam situasi krisis finansial dan ekonomi tersebut kian banyak orang bunuh diri.

 

Mereka yang mencabut nyawanya sendiri itu umumnya dianggap tidak atau kurang memiliki pegangan agama yang kuat. Memang, banyak orang tiba-tiba menjadi miskin karena aset atau saham yang mereka tanam dalam perdagangan saham atau dikelola fund manager atau pialang, misalnya, ambles tidak berbekas. Dalam keadaan seperti ini, banyak orang yang tidak sanggup menahan diri sehingga menempuh jalan pintas bunuh diri.

Tetapi, terdapat hal-hal yang jauh lebih rumit menyangkut kaitan antara krisis finansial dan ekonomi global sekarang dengan agama. Masalah ini menjadi perhatian khusus Council on Faith, World Economic Forum, Davos, Swiss, yang kebetulan saya termasuk salah satu anggotanya bersama figur-figur lain, semacam John L Esposito (direktur Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University, AS), Karen Armstrong (penulis tentang agama, Inggris), Jorge Sampaio (Perwakilan Tinggi Alliance of Civilizations, PBB, New York), Tony Blair (Utusan Perdamaian Timur Tengah), William A Graham (guru besar agama Harvard University), Ismail Serageldin (Direktur Bibliotheca Alexandina, Mesir), dan banyak lagi.

 

Berdasarkan pertemuan dan dialog  The Summit on the Global Agenda, yang diselenggarakan di Dubai pada 7-9 November 2008, The Global Agenda 2009, Council on Faith, dan World Economic Forum memandang krisis keuangan dan ekonomi global sekarang ini lebih daripada sekadar persoalan pasar. Lebih jauh lagi, kondisi seperti itu mencerminkan krisis kepercayaan (confidence) dan bahkan mengisyaratkan bahwa para pelaku pasar dan banyak kalangan masyarakat lainnya tidak lagi memegang nilai-nilai integritas, transparansi, dan kebajikan umum (public good).

 

Semua nilai terakhir ini tentu saja juga sangat ditekankan agama. Bahkan, The Council on Faith menyatakan, ajaran dan tradisi agama-agama merupakan  reservoir yang tidak pernah kering bagi nilai-nilai etik dan moral yang dapat diterapkan dalam berbagai lapangan kehidupan, termasuk ekonomi dan pasar. Setiap tradisi dan ajaran agama memiliki perspektifnya tentang bagaimana seharusnya pasar dan ekonomi dikembangkan untuk keadilan dan kesejahteraan umat manusia.

 

Masalahnya kemudian, mengapa agama-agama yang juga mencakup nilai-nilai seperti itu seolah tidak berdaya menghadapi perkembangan yang tidak selalu positif dan kondusif dalam kehidupan masyarakat, yang berujung antara lain pada krisis finansial dan ekonomi. Padahal, di banyak bagian dunia, khususnya di AS dan juga di wilayah-wilayah lainnya, agama-agama mengalami ‘kebangkitan kembali’.

 

Di AS, gejala itu dapat dilihat dengan kemunculan semakin banyak orang yang merasa terlahir kembali (born again) sebagai pemeluk agama. Di banyak bagian dunia lainnya–termasuk di Indonesia–gejala itu menampilkan diri peningkatan religiositas melalui peningkatan ibadah dan berbagai simbolisme keagamaan lainnya. Dengan perkembangan seperti itu, mestinya agama juga kian aktual dalam kehidupan, khususnya dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan seterusnya.

 

Namun, di tengah peningkatan semangat keagamaan itu, pada saat yang sama, masyarakat di Barat dan juga di banyak masyarakat bagian dunia lainnya kian terjebak dalam perlombaan yang seolah tidak pernah putus untuk mencapai kehidupan serba melimpah (affluent) dengan berbagai cara, termasuk cara-cara tidak halal, tidak etis melanggar tatanan hukum, serta tidak lagi memedulikan kepentingan dan kebajikan publik.

Keinginan untuk menikmati kehidupan serba melimpah tersebut terutama didorong kerakusan yang nyaris tanpa batas dengan berbagai implikasinya terhadap kehidupan. Bukan hanya dalam bidang keuangan dan ekonomi, tapi juga dalam bidang sosial, budaya, politik, lingkungan hidup, dan lain-lain. Gaya hidup yang serba melimpah tentu saja sekaligus mendorong kian menguatnya konsumerisme dan hedonisme, yang semula dapat kita temukan dalam banyak lingkungan masyarakat Barat, tetapi kini dapat disaksikan di Indonesia.

 

Semua gejala ini memperlihatkan tantangan terhadap agama-agama sebenarnya juga kian meningkat. Dan, tantangan itu tentu saja menghendaki respons para pemimpin, pemikir, aktivis, dan bahkan para pemeluk agama secara keseluruhan. Tantangan itu sederhananya menyangkut bagaimana mengaktualisasikan ajaran dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari tidak pada tingkat ibadah ritual belaka. Jika ini bisa dilakukan, agama memberikan kontribusi pada usaha menyelamatkan kehidupan dari berbagai krisis.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 23 April 2009

Penulisa adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta