Kreativitas, Modal Awal Jadi Pengusaha

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Marisha Arianti Agustin

Auditorium, BERITA UIN Online – Kreativitas menjadi modal awal menjadi pengusaha. Dorongan dan kemampuan yang dimiliki setiap orang dalam dirinya mampu memberikan semangat dan juga motivasi untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai jual..

Hal itu diungkapkan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Dr HM Jusuf Kalla dalam Seminar Nasional bertema “Aktualisasi Nilai Entrepreneurship dalam Pendidikan” yang diselenggarakan Jrusan Kependidikan Islam/Manajemen Pendidikan (KI-MP) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (21/7). Selain Jusuf Kalla, pembicara lain adalah Dekan FITK Prof Dr Dede Roasyada, Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen PAUDNI Kemendiknas Dr Wartanto, dan Direktur High Scope School Jakarta Dr Antarina SF Amir.

Jusuf Kalla mengatakan menjadi pengusaha bisa dimulai dari apa saja, tidak harus melalui pendidikan tertentu. “Logika dan kreativitas memberikan dorongan serta kemauan pada siapa saja untuk memulai suatu usaha,” katanya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa motivasi juga merupakan modal awal untuk maju.

Kemampuan yang dibutuhkan oleh seseorang dalam berwirausaha yaitu memiliki pemikiran nilai tambah terhadap suatu barang. Kemampuan nilai tambah tersebut yaitu menjadikan nilai barang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Orang yang memiliki pemikiran nilai tambah adalah orang yang kreatif dan berani mengambil berbagai resiko,” terang mantan wakil presiden itu. Dalam dunia usaha, seseorang memiliki kesempatan luas karena ia berdiri dan memulai semuanya sendiri sehingga pengusaha tidak terikat dan tidak memiliki ikatan dengan pihak lain.

Lingkungan merupakan sektor penggerak usaha. Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan usaha seseorang karena lingkungan membentuk perilaku seseorang. Yang harus diubah dalam dunia kewirausahaan saat ini adalah pengajaran, bukan pendidikan. “Pengajaran membentuk perilaku seseorang, sedangkan pendidikan hanya memberikan ilmu pengetahuan,” ucapnya.