Korban Tragedi G 30 S/PKI Diperlakukan Tak Manusiawi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi  

Gedung FAH, UINJKT Online – Sastrawan dan cerpenis Martin Aleida mengatakan, para korban peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965 diperlakukan secara tidak manusiawi. Di antara mereka ketika meninggal, misalnya, ada yang diperlakukan layaknya hewan tidak disalatkan, disemayamkan dan didoakan.


“ Para korban diperlakukan dengan tidak baik,” kata Martin saat membedah buku karyanya berjudul Mati Baik-baik, Kawan di Ruang Teater Gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Rabu (13/5). Bedah buku ini juga menampilkan pembicara budayawan Misbach Thamrin.

 Menurut Martin, salah satu korban dari Bali misalnya pernah menginginkan agar saat wafat dalam keadaan terhormat, tidak seperti yang dialami ayahnya yang wafat tidak terhormat. “Ketika mati ia ingin disalatkan, disemayamkan dan diiringi doa,” tegasnya.

 Sementara itu, Misbach mengatakan buku karya Martin dinilainya sangat bagus karena mengulas peristiwa 1965 cukup mendalam. Melalui karyanya ini, kata dia, tragedi kemanusiaan yang selama ini masih menyimpan misteri sedikit demi sedikit akan terungkap. “Sebab, hingga setelah beberapa dekade terakhir peristiwa tersebut masih menyimpan misteri,” katanya.

 Peristiwa G 30 S/PKI, menurutnya, harus diungkap secara terus tuntas demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Tujuannya agar tragedi memilukan seperti itu tidak terulang kembali. ”Ini untuk menghentikan berbagai tindak kekerasan dan ketidakadilan yang telah menjadi-jadi selama,” tegasnya.

 Bedah buku diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya (HIMA-CITA) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab FAH.

Korban Tragedi G 30 S/PKI Diperlakukan Tak Manusiawi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi  

Gedung FAH, UINJKT Online – Sastrawan dan cerpenis Martin Aleida mengatakan, para korban peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965 diperlakukan secara tidak manusiawi. Di antara mereka ketika meninggal, misalnya, ada yang diperlakukan layaknya hewan tidak disalatkan, disemayamkan dan didoakan.


“ Para korban diperlakukan dengan tidak baik,” kata Martin saat membedah buku karyanya berjudul Mati Baik-baik, Kawan di Ruang Teater Gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Rabu (13/5). Bedah buku ini juga menampilkan pembicara budayawan Misbach Thamrin.

 Menurut Martin, salah satu korban dari Bali misalnya pernah menginginkan agar saat wafat dalam keadaan terhormat, tidak seperti yang dialami ayahnya yang wafat tidak terhormat. “Ketika mati ia ingin disalatkan, disemayamkan dan diiringi doa,” tegasnya.

 Sementara itu, Misbach mengatakan buku karya Martin dinilainya sangat bagus karena mengulas peristiwa 1965 cukup mendalam. Melalui karyanya ini, kata dia, tragedi kemanusiaan yang selama ini masih menyimpan misteri sedikit demi sedikit akan terungkap. “Sebab, hingga setelah beberapa dekade terakhir peristiwa tersebut masih menyimpan misteri,” katanya.

 Peristiwa G 30 S/PKI, menurutnya, harus diungkap secara terus tuntas demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Tujuannya agar tragedi memilukan seperti itu tidak terulang kembali. ”Ini untuk menghentikan berbagai tindak kekerasan dan ketidakadilan yang telah menjadi-jadi selama,” tegasnya.

 Bedah buku diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Cirebon Jakarta Raya (HIMA-CITA) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab FAH.