Konvergensi Media Lebih Praktis Tanpa Biaya Banyak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Gedung Fidikom, BERITA UIN Online - Konvergensi media di era globalisasi merupakan bentuk penggabungan media konvensional dengan media baru untuk diarahkan dalam satu tujuan. Konvergensi media sangat berguna bagi khalayak, sebab dapat memperoleh informasi dengan praktis tanpa membutuhkan biaya banyak.

Demikian benang merah seminar nasional bertema “Konvergensi Media dan Perwujudan Kebudayaan Sebagai Jati Diri dan Karakter Bangsa” di Ruang Teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), Selasa (26/4). Seminar ini merupakan salah satu dari rangkaian acara kegiatan Mozaik Kebudayaan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fidikom UIN Jakarta. Sebagai narasumber hadir pembicara toko intelektual muda Yudi Latif dan dosen komunikasi politik Fidikom Gun Gun Heryanto MSi.

Gun Gun mengatakan, saat ini di dunia mengalami perkembangan kemajuan teknologi dan informasi yang cukup pesat dunia dan memasuki era yang dinamakan era cyber. Era tersebut ditandai dengan maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan masyarakat. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menunjukkan, Asia menempati posisi teratas pengguna internet terbanyak dengan jumlah 738 juta pengguna. Disusul Amerika sebanyak 431 juta pengguna, Eropa 418 juta pengguna, Afrika 67 juta pengguna, Timur Tengah sebanyak 57 juta pengguna, dan Australia sebanyak 20 juta pengguna. Jumlah tersebut dapat meningkat dari tahun ke tahun.

“Meningkatnya jumlah pengguna internet tersebut dikarenakan fenomena media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya sehingga memungkinkan pengguna internet terhubung satu sama lain tanpa batas ruang dan waktu,” kata Gun Gun.

Dalam pengunaan jejaring sosial tersebut, Indonesia menempati posisi ketujuh dengan pengguna sebanyak 6 juta. Peringkat pertama dan kedua diraih oleh AS dan Ingris yang masing-masing sebanyak 67 juta dan 17 juta pengguna jejaring sosial.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa konvergensi media berlangsung secara dinamis serta menimbulkan kekuatan dalam berdemokrasi dan peningkatan ruang publik,” ungkap Gun Gun.

Namun, menurut, dosen komunikasi politik Fidikom tersebut, konvergensi media yang ada haruslah membangun karakter budaya bangsa diantaranya dengan mempergunakan media secara sehat, melakukan literasi media berkesinambungan, membangun ruang publik untuk keperluan kapasitas budaya, serta memelihara kearifan lokal dalam pemanfatan teknologi konvergensi.

“Dengan cara tersebut, media turut berpartispasi  memelihara karakter budaya bangsa meski efek globalisasi sangat kuat,” ujar Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute tersebut.

Sementara itu, Yudi Latif menjelaskan, untuk membangun jati diri dan karakter bangsa konvergensi media harus berfungsi sebagai sarana komunikasi yang semakin mudah diakses oleh masyarakat tanpa meninggalkan nilai luhur budaya bangsa. Sebab, menurutnya suatu bangsa dapat bertahan apabila karakter dan budayanya dapat dijaga dan itu harus didukung oleh media dan juga masyarakat.

“Selain itu, konvergensi media harus memiliki prinsip 3 T, yakni talent, tolerant and technology agar tidak menimbulkan dampak negatif dan sukses menjaga kebudayaan sebagai jati diri bangsa,” tandas Yudi.