Komunikasi Politik Partai Golkar Rapuh

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Pascasarjana, BERITA UIN Online Kekalahan Partai Golkar pada Pemilu 2009 yang mengusung capres-cawapres Mohammad Jusuf Kalla (JK)-Wiranto adalah salah satu bukti dari kerapuhan komunikasi politik Partai Golkar yang dibangun selama periode 2004-2009.

Hal tersebut diungkapkan Marlinda Irwanti saat mempertahankan disertasi doktoralnya pada sidang promosi doktor di Auditorium Sekolah Pascarjanara (SPs), Senin (14/3). Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penelitian disertasinya yang berjudul “Komunikasi Politik Partai Golkar Periode 2005-2009.”

Hadir sebagai penguji dan sekaligus promotor Direktur SPs UIN Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra dan guru besar Ilmu Komunikasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Depok, Prof Dr Ibnu Hammad. Penguji lain adalah Prof Dr Mohammad Atho Mudzhar, Prof Dr Andi Faisal Bakti, dan Prof Dr Bachtiar Effendy.

Menurut Marlinda, kerapuhan komunikasi parta Golkar selama periode tersebut karena disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain adanya disharmoni antara elite internal Partai Golkar di tingkat pusat dan mandulnya komunikasi politik dengan elite partai di daerah. “Ketua Umum Partai Golkar yang dijabat JK kurang berhasil dalam mengelola konflik antarelite tersebut, sehingga dalam beberapa isu politik disampaikan secara berbeda kepada khalayak oleh elite yang berbeda pula,” katanya.

Faktor lain adalah ketika pada tingkat elite terjadi disharmoni, maka akan berdampak pada level organisasi. Menurut doktor ke-817 lulusan SPs UIN Jakarta ini, Partai Golkar sebagai organisasi tidak mampu menentukan visi dan misi politik partainya yang memosisikan diri sebagai partai pembela pemeritah dan mengesampingkan kepentingan partai. Hal ini tampak dari sedikitnya program partai yang dilaksanakan karena partai lebih fokus pada kepentingan koalisi.

Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar tidak tampak sebagai representasi dari Partai Golkar, tetapi ia lebih tampak sebagai wakil presiden. JK selalu menjadi bemper dari kebijakan pemerintah yang tidak populis, sehingga pesan-pesan yang disampaikan lebih tampak sebagai program pemerintah daripada program Partai Golkar.

Akibatnya, dengan perannya tersebut, lanjut Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, ini Kalla tidak mendapatkan nilai positif dari khalayak dan Partai Golkar pun selalu mendapat citra negatif dari masyarakat.

Hasil penelitian istri mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh ini berdasarkan pada pendekatan yang mengakatan bahwa hubungan antarelite adalah faktor yang menentukan dalam keberhasilan kinerja komunikasi. Artinya, komunikasi pada level individu dapat menentukan efektivitas komunikasi politik.

“Pendekatan tersebut berbeda dengan teori yang menyebutkan bahwa untuk memenangkan perhatian dari publik harus memperhatikan faktor pencitraan, simbol, dan informasi di media massa,” katanya.

Marlinda dalam ujian disertasinya itu memperoleh IP yudisium 3,46 amat baik. Dalam kesempatan itu hadir pula sejumlah tokoh penting Partai Golkar, antar lain Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, dan Abdullah Puteh. (humaidi)