“Kompas Kiblat” Ala Yazid Novaly

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

BANYAK cara menentukan arah kiblat. Misalnya dengan menggunakan kompas biasa atau melihat posisi matahari pada setiap tanggal 28 Mei pukul 16.18 dan tanggal 16 Juli pukul 16.27. Cara seperti itu, hingga kini masih lazim dipakai, terutama untuk menentukan arah kiblat sebuah masjid atau musala.

 

Namun, penggunaan dengan alat (kompas) atau secara alamiah (posisi matahari), seperti itu dinilai masih memiliki kelemahan. Pada alat kompas biasa, kelemahan terletak pada adanya keharusan menentukan posisi kutub utara dan kutub selatan. Sementara cara alamiah, selain sangat bergantung kepada waktu yang telah ditentukan disertai kondisi cuaca, juga harus melalui proses penghitungan yang cukup rumit.

 

Drs Yazid Novaly, sarjana fisika jebolan Pendidikan IPA Fakultas Tarbiyah IAIN (kini UIN, Red) Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini telah menemukan alat baru yang dinamakan “Kompas Kiblat”. Melalui alat ini, menurut Yazid, pengguna dapat dengan mudah mengetahui arah kiblat tanpa membutuhkan keterampilan khusus atau disiplin ilmu tertentu. “Dengan meletakkan Kompas Kiblat pada bidang datar, alat ini secara otomatis akan mengarah langsung ke kiblat,” ujar guru bidang fisika di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 10, Pondok Pinang, Jakarta Selatan ini.

 

Pada bulan Mei 2008 lalu, Kompas Kiblat temuan Yazid diuji-coba di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Tim penguji terdiri atas sejumlah dosen dari Jurusan Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Agama Islam. Caranya sederhana, alat kompas yang terbuat dari lempengan logam ringan (berbentuk arah panah) berukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm, diletakkan di atas permukaan air dalam gelas. Sesaat setelah lempengan itu diletakkan, ia pun langsung menunjukkan arah kiblat atau arah shalat.

 

Menggunakan rumus

Proses pembuatan Kompas Kiblat temuan Yazid Novaly sebetulnya tidak susah-susah amat. “Proses itu sama dengan pembuatan kompas biasa yang banyak dijual di pasaran,” katanya. Hanya saja, tambah dia, dalam pembuatan Kompas Kiblat ini dibutuhkan sedikit teori atau rumus fisika. Misalnya saja, untuk menempatkan posisi magnet elementer yang ideal, digunakan rumus:

 

25,08 O x 1/2 Panjang Jarum Kompas.

90 O

 

Sebagai contoh:

 

Panjang jarum jam kompas 20 cm, maka posisi magnet yang harus ditempatkan adalah:
25,08 O x 1/2 = 2,78 cm

                        90 O

 

Mengarahkan magnet elementer dilakukan dengan cara menggosokkan magnet tetap ke jarum kompas yang akan dijadikan Kompas Kiblat secara berulang-ulang dan searah. Sedangkan arah kiblat dengan koordinat 25,08′, berasal dari posisi Indonesia (95-141′ BT dan 6′ LU-11′ LS) dengan Kota Mekkah (21,25′ LU dan 39,50′ BT). Rumus untuk menentukan posisi Indonesia atas Kota Mekkah adalah:

            Cos Lintang Kota AXTgn Lintang Kota Mekkah

            Sin (Bujur Kota A – Bujur Kota Mekkah) – Sin Lintang Kota A

Tgn Koordinat = ________________________________________________

                        Tgn (Bujur Kota A – Bujur Kota Mekkah)

 

Kota A yang dimaksud adalah posisi pertengahan negara Indonesia, yakni 2,5′ LS dan 108′ BT. Dengan demikian, koordinat arah kiblat yang diakumulasikan menjadi sekitar 25,08′.

 

Jadi, kata Yazid, dengan perumusan tadi, tingkat akurasi Kompas Kiblat dipastikan tidak melenceng. Sementara kompas biasa ada kemungkinan masih terjadi deklinasi karena penentuan arahnya lebih bertumpu pada kutub utara dan selatan. “Kompas biasa, seperti yang terdapat pada sajadah, pada umumnya harus diposisikan dahulu arahnya, di mana kutub utara dan di mana kutub selatan. Sedangkan Kompas Kiblat tidak memerlukan perlakuan khusus karena jarum kompasnya selalu berada dalam keadaan bebas atau mengarah ke posisi kiblat dengan koordinat 25,08 tadi,” jelasnya. Karena itu, ia berharap alat Kompas Kiblat ini dapat digunakan oleh umat Islam yang ingin menentukan arah kiblat, tepatnya menentukan arah shalat.

 

“Saat ini saya sedang mengurus hak paten alat tersebut ke Departemen Hukum dan HAM,” ujarnya. (ns)

“Kompas Kiblat” Ala Yazid Novaly

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone




classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui>

 

BANYAK cara menentukan arah kiblat. Misalnya dengan menggunakan kompas biasa atau melihat posisi matahari pada setiap tanggal 28 Mei pukul 16.18 dan tanggal 16 Juli pukul 16.27. Cara seperti itu, hingga kini masih lazim dipakai, terutama untuk menentukan arah kiblat sebuah masjid atau musala.

 

Namun, penggunaan dengan alat (kompas) atau secara alamiah (posisi matahari), seperti itu dinilai masih memiliki kelemahan. Pada alat kompas biasa, kelemahan terletak pada adanya keharusan menentukan posisi kutub utara dan kutub selatan. Sementara cara alamiah, selain sangat bergantung kepada waktu yang telah ditentukan disertai kondisi cuaca, juga harus melalui proses penghitungan yang cukup rumit.

 

Drs Yazid Novaly, sarjana fisika jebolan Pendidikan IPA Fakultas Tarbiyah IAIN (kini UIN, Red) Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini telah menemukan alat baru yang dinamakan “Kompas Kiblat”. Melalui alat ini, menurut Yazid, pengguna dapat dengan mudah mengetahui arah kiblat tanpa membutuhkan keterampilan khusus atau disiplin ilmu tertentu. “Dengan meletakkan Kompas Kiblat pada bidang datar, alat ini secara otomatis akan mengarah langsung ke kiblat,” ujar guru bidang fisika di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 10, Pondok Pinang, Jakarta Selatan ini.

 

Pada bulan Mei 2008 lalu, Kompas Kiblat temuan Yazid diuji-coba di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Tim penguji terdiri atas sejumlah dosen dari Jurusan Pendidikan Fisika, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Agama Islam. Caranya sederhana, alat kompas yang terbuat dari lempengan logam ringan (berbentuk arah panah) berukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm, diletakkan di atas permukaan air dalam gelas. Sesaat setelah lempengan itu diletakkan, ia pun langsung menunjukkan arah kiblat atau arah shalat.

 

Menggunakan rumus

Proses pembuatan Kompas Kiblat temuan Yazid Novaly sebetulnya tidak susah-susah amat. “Proses itu sama dengan pembuatan kompas biasa yang banyak dijual di pasaran,” katanya. Hanya saja, tambah dia, dalam pembuatan Kompas Kiblat ini dibutuhkan sedikit teori atau rumus fisika. Misalnya saja, untuk menempatkan posisi magnet elementer yang ideal, digunakan rumus:

 

25,08 O x 1/2 Panjang Jarum Kompas.

90 O

 

Sebagai contoh:

 

Panjang jarum jam kompas 20 cm, maka posisi magnet yang harus ditempatkan adalah:
25,08 O x 1/2 = 2,78 cm

                        90 O

 

Mengarahkan magnet elementer dilakukan dengan cara menggosokkan magnet tetap ke jarum kompas yang akan dijadikan Kompas Kiblat secara berulang-ulang dan searah. Sedangkan arah kiblat dengan koordinat 25,08′, berasal dari posisi Indonesia (95-141′ BT dan 6′ LU-11′ LS) dengan Kota Mekkah (21,25′ LU dan 39,50′ BT). Rumus untuk menentukan posisi Indonesia atas Kota Mekkah adalah:

            Cos Lintang Kota AXTgn Lintang Kota Mekkah

            Sin (Bujur Kota A – Bujur Kota Mekkah) – Sin Lintang Kota A

Tgn Koordinat = ________________________________________________

                        Tgn (Bujur Kota A – Bujur Kota Mekkah)

 

Kota A yang dimaksud adalah posisi pertengahan negara Indonesia, yakni 2,5′ LS dan 108′ BT. Dengan demikian, koordinat arah kiblat yang diakumulasikan menjadi sekitar 25,08′.

 

Jadi, kata Yazid, dengan perumusan tadi, tingkat akurasi Kompas Kiblat dipastikan tidak melenceng. Sementara kompas biasa ada kemungkinan masih terjadi deklinasi karena penentuan arahnya lebih bertumpu pada kutub utara dan selatan. “Kompas biasa, seperti yang terdapat pada sajadah, pada umumnya harus diposisikan dahulu arahnya, di mana kutub utara dan di mana kutub selatan. Sedangkan Kompas Kiblat tidak memerlukan perlakuan khusus karena jarum kompasnya selalu berada dalam keadaan bebas atau mengarah ke posisi kiblat dengan koordinat 25,08 tadi,” jelasnya. Karena itu, ia berharap alat Kompas Kiblat ini dapat digunakan oleh umat Islam yang ingin menentukan arah kiblat, tepatnya menentukan arah shalat.

 

“Saat ini saya sedang mengurus hak paten alat tersebut ke Departemen Hukum dan HAM,” ujarnya. (ns)