Komaruddin: Harun Nasution Ajarkan Masyarakat Hargai Perbedaan Pendapat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online -  Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan salah satu inti pemikiran Harun Nasution adalah mengajarkan masyarakat supaya menghargai pendapat atau perbedaan kelompok aliran apapun. Harun merupakan sosok yang sangat mengapresiasi semua aliran sehingga masyarakat terkadang kesulitan menilai dan mengelompokkan dia ke dalam aliran apa.

Hal itu dikatakan Komaruddin saat menjadi narasumber seminar bertajuk Islam dan Masyarakat; Dasar-dasar Pemikiran Politik Islam Indonesia Kontemporer yang dilaksanakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) di Auditorium Utama, Senin (14/12). “Dia selalu memberikan apresiasi kepada orang yang suka berdebat. Mahasiswa diajari berfikir empiris-historis,” kata Komar.

Menurut Komar pemikiran Harun mendevaluasi posisi ulama-ulama terdahulu. Salah satu bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek telah membawa deradikalisasi pemikiran keislaman masyarakat Indonesia. Dia tak hanya mengajarkan ayat-ayat jabariah, tapi juga ayat-ayat rasional.

Sementara itu, Direktur Sekolah Pascasarjana Prof Dr Azyumardi Azra mengungkapkan inti pemikiran Nurcholis Madjid tentang Islam Yes, Partai Islam No adalah dia ingin umat Muslim mengembalikan keduniaan pada posisinya. Sebab ada kecenderungan umat Islam mendewakan keduniaan. “Cak Nur ingin mengembalikan sesuatu yang profan pada yang profan bukan ke yang sakral,” ungkapnya.

Azra menjelaskan konsep sekularisasi yang ditolak Cak Nur bukan sekularisasi model Amerika, melainkan sekularisasi model Turki. Sekularisasi di Turki bermusuhan dengan agama di ruang publik. Menurut Cak Nur, kata Azra, dampak sekularisasi tersebut Turki menjadi tercerabut dari akar budayanya.

Bahtiar Effendy menilai Fachry Ali sebagai pemikir dan kolumnis yang rajin menulis di media massa. Fachry, kata dia, telah member sumbangan besar dalam memperkenalkan ilmu social di lingkungan akademisi kampus ini di awal 1980-an. Fachry sering mengaitkan pandangan sosial keagamaan atau politik Indonesia dengan teori-teori antropologis yang dikembangkan Clifford Geertz dalam bukunya Religion of Java.

“Dia berjasa besar dalam memperkenalkan teori-teori social kepada para kolega mudanya di IAIN. Berbagai teori tentang modernisasi, perubahan social, ketergantungan, dan teori modernisasi lainya yang dibagi kepada para mahasiswa IAIN masih dilihat sebagai “makhluk asing” lambat laun mulai banyak dikenal dan dipahami,” tutur Bahtiar.

Sementara itu, Dawam Raharjo mempertanyakan alasan dan kaitan ketiga tokoh yang menerima penghargaan ini, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, dan Fachry Ali dengan gerakan politik. “Mereka seorang teolog, jadi apa kaitannya dengan politik,” tanya dia. [Akhwani Subkhi]


Komaruddin: Harun Nasution Ajarkan Masyarakat Hargai Perbedaan Pendapat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Utama, UIN Online -  Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan salah satu inti pemikiran Harun Nasution adalah mengajarkan masyarakat supaya menghargai pendapat atau perbedaan kelompok aliran apapun. Harun merupakan sosok yang sangat mengapresiasi semua aliran sehingga masyarakat terkadang kesulitan menilai dan mengelompokkan dia ke dalam aliran apa.

Hal itu dikatakan Komaruddin saat menjadi narasumber seminar bertajuk Islam dan Masyarakat; Dasar-dasar Pemikiran Politik Islam Indonesia Kontemporer yang dilaksanakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) di Auditorium Utama, Senin (14/12). “Dia selalu memberikan apresiasi kepada orang yang suka berdebat. Mahasiswa diajari berfikir empiris-historis,” kata Komar.

Menurut Komar pemikiran Harun mendevaluasi posisi ulama-ulama terdahulu. Salah satu bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek telah membawa deradikalisasi pemikiran keislaman masyarakat Indonesia. Dia tak hanya mengajarkan ayat-ayat jabariah, tapi juga ayat-ayat rasional.

Sementara itu, Direktur Sekolah Pascasarjana Prof Dr Azyumardi Azra mengungkapkan inti pemikiran Nurcholis Madjid tentang Islam Yes, Partai Islam No adalah dia ingin umat Muslim mengembalikan keduniaan pada posisinya. Sebab ada kecenderungan umat Islam mendewakan keduniaan. “Cak Nur ingin mengembalikan sesuatu yang profan pada yang profan bukan ke yang sakral,” ungkapnya.

Azra menjelaskan konsep sekularisasi yang ditolak Cak Nur bukan sekularisasi model Amerika, melainkan sekularisasi model Turki. Sekularisasi di Turki bermusuhan dengan agama di ruang publik. Menurut Cak Nur, kata Azra, dampak sekularisasi tersebut Turki menjadi tercerabut dari akar budayanya.

Bahtiar Effendy menilai Fachry Ali sebagai pemikir dan kolumnis yang rajin menulis di media massa. Fachry, kata dia, telah member sumbangan besar dalam memperkenalkan ilmu social di lingkungan akademisi kampus ini di awal 1980-an. Fachry sering mengaitkan pandangan sosial keagamaan atau politik Indonesia dengan teori-teori antropologis yang dikembangkan Clifford Geertz dalam bukunya Religion of Java.

“Dia berjasa besar dalam memperkenalkan teori-teori social kepada para kolega mudanya di IAIN. Berbagai teori tentang modernisasi, perubahan social, ketergantungan, dan teori modernisasi lainya yang dibagi kepada para mahasiswa IAIN masih dilihat sebagai “makhluk asing” lambat laun mulai banyak dikenal dan dipahami,” tutur Bahtiar.

Sementara itu, Dawam Raharjo mempertanyakan alasan dan kaitan ketiga tokoh yang menerima penghargaan ini, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, dan Fachry Ali dengan gerakan politik. “Mereka seorang teolog, jadi apa kaitannya dengan politik,” tanya dia. [Akhwani Subkhi]