Rumpin, BERITA UIN Online— Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) acapkali memberi banyak ‘kejutan’ bagi pesertanya. Selain adat istiadat warga yang ‘unik’, tak sedikit dari mereka menemukan banyaknya masalah yang berkutat di tengah-tengah warga. Mulai dari kemiskinan, buruknya sanitasi dan kesehatan, hingga rendahnya akses dan terbatasnya fasilitas pendidikan.

Masalah-masalah demikian ditemukan sendiri para peserta KKN Reguler UIN Jakarta di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor seperti pantauan BERITA UIN Online, Sabtu-Minggu (5-6/8/2017). Melaksanakan pengabdian di tengah-tengah warga Kampung Cikandang, Desa Mekarsari, mereka menemu terbatasnya fasilitas pendidikan. Akibatnya, aktifitas belajar siswa seringkali terganggu.

Adalah SD Negeri Kertajaya 03, sekolah dasar yang menjadi tempat belajar para siswa setempat. Gedung bagunan yang terus menua hingga lantai kelas yang lama berlubang dan terus membesar diameternya adalah pemandangan sehari-hari.

“Lantai yang rusak cukup parah. Berlubang, dan sepertinya terus membesar jika tak segera ditambal,” tutur Indah Pratiwi, salah satu peserta KKN.

Karena terus membesar, lubang itu menyisakan gundukan tanah kering berdebu. Jika disapu atau siswa beraktifitas di dalam kelas, tanah kering itu beterbangan. “Jadinya kelas begitu pengap. Banyak siswa yang sesak nafas,” jelasnya lagi.

Tak hanya lantai, meja dan kursi belajar juga sudah banyak yang rusak. Siku-siku meja dan kursi banyak berlepasan sehingga jadi tak layak digunakan.

“Lumayan memprihatinkan. Tak sedikit siswa yang sengaja bawa kursi dan meja sendiri dari rumah,”tambahnya.

Kendati fasilitas belajar seperti begitu, namun mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Arab FAH ini melihat tingginya motivasi belajar siswa-siswinya. Saking tingginya motivasi, Indah dan teman-temannya harus membuka kelas di luar sekolah.

Di kelas luar sekolah ini, Indah dan teman-teman mengajar anak-anak setempat pelajaran membaca, berhitung, hingga kesenian. “Mereka begitu bersemangat,” ucapnya.

Rekan Indah, Irvan Hidayat membenarkan kondisi buruknya tempat belajar siswa yang tak sebanding dengan minat belajar siswa. Karenanya, bersama kelompok KKN-nya, mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam FAH ini berinisiatif melakukan advokasi ke dinas pendidikan setempat. “Harapannya segera dilakukan perbaikan,” katanya.

Advokasi sudah dilakukan. Irvan dan kawan-kawan telah bertemu dengan dinas setempat. Namun keinginan memperbaiki gedung sepertinya tidak bisa dilakukan cepat. Kabarnya, anggaran perbaikan yang telah diusulkan belum bisa diturunkan tahun ini.

Menyiasati itu, Irvan dan kelompoknya berinisiatif melakukan penggalangan dana ke donator perorangan dan lembaga. Beberapa sudah ditemui dan berkomitmen member donasi. “Donasi yang terkumpul akan kita gunakan untuk perbaikan,” terangnya.

Sosialisasi Irvan sendiri ke warga mencatat, warga sebetulnya ingin memperbaiki fasilitas kelas secara mandiri. Namun kondisi perekonomian warga yang minim membuat keinginan itu sulit diwujudkan. (Farah NH/Laporan Hasanah/ZM)

Share This