Kita Bangsa Pejuang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Di tengah keluhan dan kutukan terhadap praktek korupsi, kolusi dan rendahnya semangat pengabdian pada bangsa, saya ingin mengajak kita sejenak merenung, bahwa kita ini pada dasarnya  anak-anak pejuang. Bangsa kita adalah bangsa pejuang. Tanpa semangat perjuangan dan pengurbanan, tidak mungkin penjajah Belanda dan Jepang hengkang dari nusantara ini. Tanpa semangat pengurbanan, mustahil nusantara yang amat luas dan sangat beragam budaya dan agamanya ini bersatu dan bergabung ke dalam wadah NKRI.

Nenek moyang kita adalah pejuang. Api dan semangat perjuangan untuk kejayaan  bangsa ini mesti kita  pelihara. Mesti kita ajarkan pada anak-anak kita yang akan menerima estefet kepemimpinan di masa depan. Cinta tanah air dan semangat saling menolong ini mesti berdenyut terus khususnya dalam setiap dada politisi dan pejabat negara. Bahwa di sana terjadi perbedaan dan perdebatan dalam mengelola pemerintahan, itu hal yang wajar dan sebaiknya jangan dihilangkan, selama semua didasari rasa cinta pada rakyat dan terbuka untuk menerima kritik. Orang yang merasa paling benar dan dirinya mesti benar, lalu sakit hati jika orang lain tidak mengikutinya, pasti dia itu  mengidap gangguan jiwa.

Dihitung ke belakang sejak pra kemerdekaan, usia Republik ini relative masih muda, bekas serta jejak para pejuang itu masih sangat mudah serta terang benderang untuk ditelursuri dan diingat kembali. Namun kadangkala kita menjadi sedih, kesal dan melankoli ketika melihat para politisi, pejabat tinggi negara, Gubernur dan Bupati masih doyan sekali korupsi. Apakah tidak malu dan menyadari bahwa tindakannya itu telah melukai dan mengkhianati orangtua kita sendiri? Bahwa tindakannya itu pasti akan  menyengsarakan masa depan anak-anak kita serta menjatuhkan martabat bangsa kita di mata dunia.

Semasa orde baru bangsa ini telah termanjakan dengan hidup yang serba mewah, terutama pada lapisan kelas menengah ke atas, meskipun ternyata semua itu palsu karena kemewahan itu disuplai dengan uang pinjaman asing. Sekian banyak kekayaan alam dan hutan telah dikuasai modal asing, lalu para elite politik kita hidup dengan mewah yang sebagian dengan uang korupsi. Kini gaya hidup yang serba mewah dan tidak mau susah sudah merasuki mentalitas para politisi, pejabat tinggi dan anak-anak kita yang memang dibesarkan dalam kultur serba dimanjakan dan dilindungi.

Meskipun samar-samar saya masih mudah membayangkan bagaimana pribadi para pejuang seperti Bung Hatta, Natsir, Roem, dan sekian tokoh lain pejuang bangsa ini, mereka begitu sederhana secara ekonomi, namun gagasannya besar dan disegani lawan maupun kawan. Tetapi memasuki paruh kedua kepemimpinan Soeharto, suasana batin petinggi bangsa dan negara ini berubah sangat drastic.Ada semacam rasa balas dendam dengan kemiskinan masa lalu, kemudian memberi kompensasi untuk memanjakan anak-anaknya dan dirinya. Ukuran keberhasilan hidup lalu dilihat dari kekayaan materi, kemegahan rumah dan kendaraan serta gaya hidupnya, bukan lagi intelektualitas dan integritasnya.

Kita semua tentu saja sepakat bahwa tema dan tantangan yang dihadapi bangsa ini telah berbeda. Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kecintaan pada tanah air dan rakyat, sehingga mengkhianati amanat rakyat tetaplah sebuah dosa besar baik secara politik, moral maupun teologis. Secara psikologis-antropologis, orde baru telah melahirkan sebuah generasi yang maunya serba hidup enak, sementara suasana batin politik yang serba pragmatic dan miopik, hanya melihat kepentingan material jangka pendek.  Oleh karena itu tidak aneh ketika masuk alam reformasi terjadi acrobat kutu loncat politik, mereka berseliweran dan berebut mencari kendaraan yang mendekatkan pada kekuasaan dan kekayaan.

Dengan banyaknyarpol saat ini tidak mesti berarti kedewasaan berdemokrasi semakin meningkat, melainkan lebih mengindikasikan banyaknya orang lagi bingung mencari kendaraan untuk meraih kekuasaan. Parpol lalu dilihat sebagai sebuah perusahaan, sahamnya adalah blanko cek popularitas yang kemudian dibuktikan melalui pemilu. Karena popularitas tidak memberi jaminan, maka jabatan yang diincar juga memerlukan beaya tambahan berupa uang untuk membeli suara dan loyalitas sesaat dalam pemilu dan pilkada.

Kita ingin agar semua ini bersifat transisional dan sementara, lalu kembali pada semangat dan jati diri bangsa ini, bahwa kita semua adalah anak-anak pejuang. Mari kita jaga dan pupuk semangat perjuangan itu demi kejayaan bangsa.

 

 

 

 

 

Kita Bangsa Pejuang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Di tengah keluhan dan kutukan terhadap praktek korupsi, kolusi dan rendahnya semangat pengabdian pada bangsa, saya ingin mengajak kita sejenak merenung, bahwa kita ini pada dasarnya  anak-anak pejuang. Bangsa kita adalah bangsa pejuang. Tanpa semangat perjuangan dan pengurbanan, tidak mungkin penjajah Belanda dan Jepang hengkang dari nusantara ini. Tanpa semangat pengurbanan, mustahil nusantara yang amat luas dan sangat beragam budaya dan agamanya ini bersatu dan bergabung ke dalam wadah NKRI.

Nenek moyang kita adalah pejuang. Api dan semangat perjuangan untuk kejayaan  bangsa ini mesti kita  pelihara. Mesti kita ajarkan pada anak-anak kita yang akan menerima estefet kepemimpinan di masa depan. Cinta tanah air dan semangat saling menolong ini mesti berdenyut terus khususnya dalam setiap dada politisi dan pejabat negara. Bahwa di sana terjadi perbedaan dan perdebatan dalam mengelola pemerintahan, itu hal yang wajar dan sebaiknya jangan dihilangkan, selama semua didasari rasa cinta pada rakyat dan terbuka untuk menerima kritik. Orang yang merasa paling benar dan dirinya mesti benar, lalu sakit hati jika orang lain tidak mengikutinya, pasti dia itu  mengidap gangguan jiwa.

Dihitung ke belakang sejak pra kemerdekaan, usia Republik ini relative masih muda, bekas serta jejak para pejuang itu masih sangat mudah serta terang benderang untuk ditelursuri dan diingat kembali. Namun kadangkala kita menjadi sedih, kesal dan melankoli ketika melihat para politisi, pejabat tinggi negara, Gubernur dan Bupati masih doyan sekali korupsi. Apakah tidak malu dan menyadari bahwa tindakannya itu telah melukai dan mengkhianati orangtua kita sendiri? Bahwa tindakannya itu pasti akan  menyengsarakan masa depan anak-anak kita serta menjatuhkan martabat bangsa kita di mata dunia.

Semasa orde baru bangsa ini telah termanjakan dengan hidup yang serba mewah, terutama pada lapisan kelas menengah ke atas, meskipun ternyata semua itu palsu karena kemewahan itu disuplai dengan uang pinjaman asing. Sekian banyak kekayaan alam dan hutan telah dikuasai modal asing, lalu para elite politik kita hidup dengan mewah yang sebagian dengan uang korupsi. Kini gaya hidup yang serba mewah dan tidak mau susah sudah merasuki mentalitas para politisi, pejabat tinggi dan anak-anak kita yang memang dibesarkan dalam kultur serba dimanjakan dan dilindungi.

Meskipun samar-samar saya masih mudah membayangkan bagaimana pribadi para pejuang seperti Bung Hatta, Natsir, Roem, dan sekian tokoh lain pejuang bangsa ini, mereka begitu sederhana secara ekonomi, namun gagasannya besar dan disegani lawan maupun kawan. Tetapi memasuki paruh kedua kepemimpinan Soeharto, suasana batin petinggi bangsa dan negara ini berubah sangat drastic.Ada semacam rasa balas dendam dengan kemiskinan masa lalu, kemudian memberi kompensasi untuk memanjakan anak-anaknya dan dirinya. Ukuran keberhasilan hidup lalu dilihat dari kekayaan materi, kemegahan rumah dan kendaraan serta gaya hidupnya, bukan lagi intelektualitas dan integritasnya.

Kita semua tentu saja sepakat bahwa tema dan tantangan yang dihadapi bangsa ini telah berbeda. Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kecintaan pada tanah air dan rakyat, sehingga mengkhianati amanat rakyat tetaplah sebuah dosa besar baik secara politik, moral maupun teologis. Secara psikologis-antropologis, orde baru telah melahirkan sebuah generasi yang maunya serba hidup enak, sementara suasana batin politik yang serba pragmatic dan miopik, hanya melihat kepentingan material jangka pendek.  Oleh karena itu tidak aneh ketika masuk alam reformasi terjadi acrobat kutu loncat politik, mereka berseliweran dan berebut mencari kendaraan yang mendekatkan pada kekuasaan dan kekayaan.

Dengan banyaknyarpol saat ini tidak mesti berarti kedewasaan berdemokrasi semakin meningkat, melainkan lebih mengindikasikan banyaknya orang lagi bingung mencari kendaraan untuk meraih kekuasaan. Parpol lalu dilihat sebagai sebuah perusahaan, sahamnya adalah blanko cek popularitas yang kemudian dibuktikan melalui pemilu. Karena popularitas tidak memberi jaminan, maka jabatan yang diincar juga memerlukan beaya tambahan berupa uang untuk membeli suara dan loyalitas sesaat dalam pemilu dan pilkada.

Kita ingin agar semua ini bersifat transisional dan sementara, lalu kembali pada semangat dan jati diri bangsa ini, bahwa kita semua adalah anak-anak pejuang. Mari kita jaga dan pupuk semangat perjuangan itu demi kejayaan bangsa.