Wakil Rektor bidang Kerjasama UIN Jakarta, Prof. Dr. Murodi MA, menyampaikan khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1438 H bertema ‘Ramadhan dan Profesionalisme Polri’ di Lapangan Bhayangkara Markas Besar Polri, Minggu (25 /6/2017). Dalam Khutbahnya, Murodi meminta Polri terus menjaga profesionalismenya. (Foto: Tibratanews Polri, 2017)

Wakil Rektor bidang Kerjasama UIN Jakarta, Prof. Dr. Murodi MA, menyampaikan khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1438 H bertema ‘Ramadhan dan Profesionalisme Polri’ di Lapangan Bhayangkara Markas Besar Polri, Minggu (25 /6/2017). Dalam Khutbahnya, Murodi meminta Polri terus menjaga profesionalismenya. (Foto: Tribratanews Polri, 2017)

Mabes Polri, BERITA UIN Online— Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Jakarta, Prof. Dr. Murodi MA mengingatkan seluruh personil Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk terus menjaga dan meningkatkan profesionalismenya. Hal ini disampaikannya dalam khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1438 H bertema ‘Ramadhan dan Profesionalisme Polri’ di Lapangan Bhayangkara Markas Besar Polri, Minggu (25 /6/2017).

Hadir dalam shalat dan khutbah Idul Fitri 1348 H Hadir dalam shalat Idul Fitri yakni Kapolri, Jenderal Polisi Drs. M. Tito Karnavian MA., PhD., pejabat utama dan personil Mabes Polri, anggota Perum Peruri dan masyarakat umum.

Guru Besar Sejarah Islam ini menjelaskan, ramadhan menyediakan banyak hikmah dan pelajaran bagi seluruh insan, termasuk personil Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Dengan berbagai tuntunan amaliah ibadah di dalamnya, ramadhan menjadi madrasah bagi personil Polri menjalankan tugasnya mengayomi dan merawat keamanan masyarakat.

“Menjalankan ibadah puasa tentunya diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerja dan profesionalisme Polri sesuai tugas dan fungsi masing-masing,” katanya.

Menurutnya, hikmah dan pelajaran puasa Ramadhan sebetulnya sudah sejalan dengan Tribrata Polri. Dalam Tribrata disebutkan agar setiap personil Polri wajib berbakti kepada nusa-bangsa dengan sepenuh taqwa; menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum; senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan ikhlas guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Sebagai penegak hukum, seyogyanya segala sesuatu yang ber­kaitan dengan kebijakan yang diputuskan, hendaknya tidak keluar dari Tribrata dan norma yang ada di negeri tercinta ini,” tandasnya lagi.

Berikut teks khutbahnya:

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Bapak Kapolri, Wakapolri, Para Jenderal, serta Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Fitri Rahima­kumullah.

Di pagi hari yang bahagia dan penuh berkah ini, marilah kita panjat­kan puji syukur ke hadi­rat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufiq, hida­yah dan inayah-Nya serta kesehatan fisik dan mental kepada kita semua, sehingga kita masih dibe­rikan ke­sem­patan untuk menja­lankan perintah-Nya dengan baik, seperti iba­dah puasa sebulan penuh. Dan kini kita juga masih diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat Idul Fitri dan berhari raya. Ki­ta selalu bermohon, agar masih dapat bertemu deng­an Ramdahan dan Idul Fitri di tahun-tahun menda­tang.

Selain itu, tak lupa pula kita sampaikan shalawat serta salam ke­pada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, para ke­luarga, sahabat, tabi­’in, dan para ulama serta orang-orang salih. Dalam kesem­patan dan momentum yang sangat baik ini, merilah kita tingkatkan ke­imanan dan ketaqwaan serta amal saleh, sehingga kita menjadi muttaqien dan mkkhlishin, dan sega­la perbuatan kita mendapat ridla dan am­punan-Nya. Amien Ya Mujibassailin…..

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Fitri Rahima­kumullah.

Dengan rasa haru dan penuh ikhlas, kita semua melepas bulan Ra­madhan, bulan yang luhur dan mulia yang dipenuhi dengan rah­mah, am­punan, dan karunia. Kita bertakbir, mengagungkan Allah Swt. dan men­sucikan-Nya dengan bertasbih, mensucikan dari segala sesuatu yang ti­dak layak dilekatkan pada-Nya.

Takbir, tahlil dan tahmid silih berganti, berkumandang di angkasa raya diucapkan den­gan lisan yang fasih dengan penuh keikhlasan dan kepasrah­an. Rona dan wajah setiap manu­sia muslim menampakkan kebahagiaan dan ketulusan yang mendalam, jauh sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Melukiskan kesan yang kuat dan mengakar ke dalam jiwa yang suci. Semua itu merupakan perwujudan dari pernya­taan syukur kita ke hadirat Allah Swt. atas se­gala karunia dan nikmat-Nya, terutama karunia yang paling agung be­rupa petunjuk dan hida­yah-Nya. Hidayah itu membimbing kita meniti caha­ya yang terang benderang, menuju kehi­dupan yang sukses, lahir dan bathin. Kita ber­syukur telah dapat melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh deng­an ketabahan dan keikhlas­an.

Tidak hanya sekadar menjalankan sebuah ke­wajiban. Tetapi, penuh dengan keikhlasan untuk menggapai nilai taqwa, se­bagai puncak piramida ibadah puasa ini. Dalam konteks ini, Allah swt ber­firman da­lam QS. Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”.(QS: al-Baqarah: 185).

 

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Hadirin Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Di hari yang Fitri ini, tak ada kata yang lebih indah untuk kita lafadzkan selain untaian puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Maha Bijaksana yang menganugerahi kita nikmat iman, Islam, dan ihsan. Dengan ketiga nikmat itulah, kita memiliki kekuatan untuk menunaikan ibadah puasa sebulan penuh di tengah kesibukan kita beraktivitas.

Seperti kita ketahui bersama, ibadah puasa berfungsi sebagai sekolah dan me­dia untuk mengasah spritualitas kita menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan, sekaligus menginsyafi tujuan pen­ciptaannya di muka bumi, yaitu sebagai khalifah.

“Sungguh, Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi. Maka berilah ke­putusan (perkara) di antara manusia dengan adil. Janganlah kamu meng­ikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS Shaad [38]: 26)

Pada pagi hari ini pula, kita menyaksikan ratusan juta bahkan milyaran Mus­lim Dunia menguman­dangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid. Semilyar mulut meng­gumamkan kebesaran, kesucian, dan pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran Allah Azza wa Jalla, se­kian banyak hati diharu-biru oleh kecamuk rasa bangga, serta bahagia dalam me­ra­yakan hari kemenangan besar ini.

Sebuah kemenangan dalam pertempuran panjang dan melelahkan, bukan melawan musuh di medan perang, bukan pula  melawan pasukan dalam pertem­puran bersenjata. Namun, pertempuran melawan musuh-musuh yang ada dalam diri kita, nafsu, dan syahwat serta setan yang cenderung ingin menjerumuskan kita ke jurang kenistaan.

Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti kemenangan, yang meru­pakan kemenangan terbesar, kemenangan utama yang akan melahirkan keme­na­ngan-kemenangan lain dalam kancah kehidupan dunia yang kita arungi. Kita mem­butuhkan kemenangan seperti ini untuk memenangkan semua per­tarungan yang kita hadapi dalam hidup ini. Betapa banyak perangkat- ma­teri keme­nangan dikuasai oleh seseorang, kelompok, atau bangsa. Namun ter­nyata, mereka harus menelan pa­hitnya kekalahan. Mereka memiliki ilmu dan tekno­logi, senjata, perleng­kapan, dan sarana lainnya, namun itu semua tidak berdaya di hadapan seseorang, kelompok, atau bangsa yang memiliki ketangguhan jiwa, kekuatan mental, dan kematangan pribadi serta kemauan yang kokoh dalam diri, sebagai out put dan out come dari proses penguatan dan pemberdayaan diri selama Ramdhan.

 

Indikasi Keberhasilan Puasa

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Iedil Fitri yang dirahmati Allah Swt…

Sesungguhnya puasa, tarawih, tadarus, zakat, sedekah dan amal baik lainnya haki­katnya adalah media metamorfosis yang disediakan Allah untuk kita. Jika semuanya dijalankan dengan baik dan penuh penghayatan, maka pada hari ini kita akan menjadi sosok baru yang berbeda dari sebelumnya. Kita akan menjadi muslim sejati yang bersih dari noda dan dosa sebagaimana dilukiskan Rasulullah melalui sab­danya: “Orang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam dengan dasar iman dan mengha­rap­kan pahala dari Allah, niscaya akan terbebas dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Namun sebaliknya, jika ibadah puasa dilaksanakan sekadar menggugur­kan kewajiban, maka kita takkan mendapatkan keistimewaan Ramadhan. Ibadah Ra­madhan hanya akan menjadi rutinitas religi tahunan yang tidak mem­bawa per­ubahan apa pun. Ibadah puasa takkan memperbarui diri dan kepriba­dian kita men­jadi lebih baik. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang rugi seperti disab­dakan Rasulullah Saw. dalam hadistnya: ”Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR Nasai dan Ibnu Majah)

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Kesuksesan menjalankan ibadah puasa bukan terletak pada kekuatan menjauhi faktor yang membatalkannya sejak fajar menyingsing hingga matahari terbe­nam. Tapi harus tercermin dari sikap dan perilaku kita sebelas bulan beri­kutnya. Sejak hari ini sampai Ramadhan yang akan datang. Oleh sebab itu, mari ja­di­kan hari kemenangan ini sebagai momentum perubahan. Patrikan niat untuk meng­isi hari-hari di masa depan, dengan aktivitas multiguna yang bernilai ibadah. Ku­at­kan tekad untuk menjadi pembaharu, lalu hadirkan per­ubahan positif ba­gi keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Semoga kita semua mampu mereali­sasi­kannya. Amien ya rabbal ‘alamien.

 

Realitas Bangsa Saat ini: Sebuah Refleksi Sederhana.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Seraya terus mengumandangkan kalimah-kalimah thayyibah sebagai rasa syu­kur kita kepada Allah Swt, khatib ingin mengajak kita semua untuk mere­nung seje­nak. Merefleksikan situasi dan kondisi bangsa setelah setengah abad lebih meneguk oase kemerdekaan ini. Refleksi ini menjadi penting mengingat banyak tindakan in­toleransi dari berbagai kalangan yang tidak mencerminkan sikap dan jati diri bangsa Indonesia, yang terhimpun dalam empat Konsesus Dasar kita yaitu; Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Situasi yang sangat memprihatinkan tersebut, sejatinya bukan hanya menjadi tanggung jawab para penegak hukum, juga menjadi kewajiban seluruh warga nega­ra Indonesia. Namun, bukanlah tugas mudah mena­namkan rasa tanggungjawab ke­pada tiap-tiap warga negara untuk bersama menjaga stabilitas perdamaian serta merawat kebhinekaan yang merupakan khazanah ke Indone­siaan dan buah dari jerih payah dan pengorbanan para pendahulu kita, dibutuh­kan kepercayaan antar semua pihak untuk merealisa­sikannya.

 

Akhlak dan Perilaku Pemimpin

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Ketulusan, semangat juang para tokoh pendiri bangsa, saat ini sulit dite­mui. Jadi wajar, jika bangsa kita di usia kemerdekaannya ini, masih belum mam­pu mewu­judkan cita—cita the Founding Fathers, secara komprehensif, karena hinggga kini ma­sih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, dan lain-lain. Berbeda ja­uh dengan negara-negara tetangga yang baru belakangan ini mengecap nikmat ke­merdekaan.

Kenyataan ini tidak perlu terjadi jika mayoritas atau seluruh pemimpin dan rakyat di negeri ini meniti jalan yang lurus. Bersatu membanguan, menjaga dan merawat kebhinekaan, dan menjaga nilai-nilai  luhur yang diwariskan para pendiri dan pejuang bangsa ini, bukan saling mengandalkan, apalagi saling menjegal yang berakibat melemah dan runtuhnya NKRI. Karena kebhinekaan meupakan anugerah, rahmat dan sebuah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Bahkan Allah SWT mene­gaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 tujuan penciptaan manusia dengan berbagai suku, yang merupakan bentuk kebhine­kaan, untuk saling mengenal, saling mem­bantu untuk menciptakan kedamaian dengan menjaga dan merawat kebhinekaan itu sendiri, yang memiliki banyak nilai luhur di dalamnya.

 “Hai manusia, Kami menciptakan kamu ddari seorang laki-laki dan dan se­orang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku—suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di  antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi  Maha Mengenal”. ( al-Hujurat:13)

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Nampaknya, nilai-nilai luhur inilah yang mulai tercerabut dari dalam jiwa bangsa Indonesia, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara sering tergang­gu dengan hal—hal yang tidak produtif, bahkan cenderung ke arah negatif. Kebhine­kaan tergerogoti, kehidupan menjadi kurang harmonis. Kekacauan sosial-politik, perselisihan antar warga, suku, ras dan ketidakadilan hukum, serta ketimpangan ekonomi, adalah akibat dari perilaku politik bangsa Indo­nesia yang tidak dewasa da­lam menyikapi perbedaan. Padaahal salah satu konsensus dasar kita, yaitu Bhineka Tunggal Ika, yang merupakan sebuah rahmat  dari Alllah SWT.

Akan tetapi, perlu kiranya digarisbawahi bahwa, tidak semua unsur bangsa ini saat ini memiliki karakter negative, sebagaimana diungkapkan di atas. Untuk itu, dengan penuh harapan mari kita berdoa semoga Allah SWT memberikan bimbingan jalan  yang benar bagi  bangsa ini, sehingga dapat terhindar  dari  perilaku negatif.

 

Puasa Ramadhan Sebagai Solusi

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Puasa Ramadhan, bagi umat Islam, sejatinya memiliki banyak pelajaran dan hikmah yang diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme kerja sekaligus menjadi jawaban dan solusi dari keterpurukan bangsa saat ini. Puasa Ramadhan juga menjadi tolak ukur hubungan kita dengan sesama (hablum minanas) dan hu­bungan kita kepada Sang Khalik (Hablum minallah).

Pelajaran tersebut dipetik, tidak terbatas hanya dengan menahan lapar dan dahaga, namun berkaitan pula dengan menjalankan amalan ibadah puasa Rama­dhan lainnya, seperti bersedekah, itikaf, membaca Al-Qur’an, shalat tarawih, meng­hindarkan diri dari perbuatan yang haram, serta kegiatan positif lainnya dalam ke­hidupan ini. Selain itu, dan ini yang terpenting, al—Qur’an tidak cukup hanya di­baca, dihapal, tapi dihayati dan diamalkan atau dipraktikkan dalam kehidupan se­hari-hari

Bekaitan dengan pekerjaan sebagai penegak hukum sekaligus pengayom masyarakat, menjalankan ibadah puasa tentunya diharapkan dapat lebih meningkat­kan kinerja dan profesionalisme POLRI sesuai tugas dan fungsi masing-masing, karena jika kita melakukan semua pekerjaan dengan niat karena Allah dan tentunya disertai doa agar apa yang kita kerjakan hendaknya selalu berada di jalan yang lurus dan diridlai-Nya, itu semua menjadi ibadah.

Makna Puasa Ramadhan

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Makna ibadah puasa Ramadhan berkaitan dengan peningkatan profe­sional­isme kerja sebagai penegak hukum atau abdi negara, antara lain:

Pertama, Melatih untuk bersyukur

Sudah menjadi kewajiban bagi kita semua, untuk senantiasa mensyukuri apa yang telah kita capai sampai detik ini. Lebih dari itu, kita juga harus bersyukur bahwa kita masih diberi waktu oleh Allah SWT untuk menjalankan amal iba­dah dengan pahala yang berlipat ganda pada bulan Suci Ramadhan. Karena, bulan Ramadhan tahun yang akan datang, belum tentu kita masih dapat menjalankan ibadah puasa kembali, dan merayakan kemenangan Iedul Fitri bersama orang-orang yang kita cintai.

Dalam profesionalisme kerja, rasa syukur dapat diimplementasikan dengan sungguh-sungguh menjalankan amanah yang diemban, tanpa menyalahguna­kan amanah tersebut untuk menyalahi aturan hukum dan tuntunan Sang Pencipta. Karena, coba kita tengok di luar sana, masih banyak saudara kita yang sampai detik ini belum memiliki profesi apa pun, serta masih terus men­cari dan mencari.

Kedua, Melatih kesabaran dan disiplin terhadap waktu

Selanjutnya, dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kita harus disiplin pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Yaitu waktu makan sahur dan ber­buka. Begitu pula halnya dalam dunia kerja, profesionalisme dapat terbangun dengan baik, apabila kita mampu menerapkan dalam diri kedisiplinan karena didorong rasa tanggungjawab dan amanah Tuhan yang mesti dilaksanakan. Tanpa kedisiplinan dan kesabaran, professional­isme kerja mustahil akan ter­bangun.

Ketiga, Memberikan keseimbangan dalam kehidupan

Bulan Ramadhan, adalah refleksi kehidupan yang sesungguhnya. Dimana, Allah memerintahkan umat manusia untuk berbuat adil dalam menjalani ke­hidupannya. Karena itu, dalam  memenuhi kebutuhan duniawi jangan sampai melupakan kehidupan ukhrawi. Dengan puasa Ramadhan pula, umat musim dan muslimah dilatih untuk mengingat dan melaksanakan seluruh kewaji­bannya dengan imbalan pahala yang berlipat ganda. Dengan demikian, dalam menjalankan tugas di dunia ini, jangan sampai melupakan perkara akhirat. Oleh sebab itu, tidak dibenarkan bagi kita melakukan hal-hal yang melanggar aturan kehidupan akhirat yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Keempat, Mempererat silaturahmi dan meningkatkan kepedulian kepada sesama

Pada bulan Ramadhan, banyak sekali ritual serta rutinitas yang dilakukan se­bagai cermin sekaligus pelatihan guna meningkatkan rasa kebersamaan dan peduli kepada sesama. Akan menjadi indah apabila, rasa kepedulian antar sesama itu diimplementasikan pula dalam aktivitas keseharian dan dunia kerja.  Menjalankan tugas yang diemban sebagai penegak hukum, tentunya membu­tuhkan kebersamaan dan kepedulian antar sesama. Baik itu satu profesi mau­pun terhadap masyarakat. Dengan demikian, maka apa yang menjadi tujuan luhur bersama akan terwujud.

Kelima, Mengetahui bahwa Puasa  Ramadhan memiliki tujuan

Tujuan puasa Ramadhan adalah melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Akan tetapi, jika tujuannya gagal maka puasa tidak memiliki arti apa-apa. Dengan demikian, dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara, hendaknya kita memiliki tujuan yang bernilai ibadah. Oleh karenanya, hal-hal yang dapat menjerumuskan kita ke neraka hendaknya dihindari. Apabila tujuan kita menjalankan profesi semata karena mengharap ridha Allah Swt, maka niscaya keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan tugas akan senantiasa kita dapatkan.

Keenam, Mengetahui bahwa tiap kegiatan mulia merupakan ibadah

Kita mengetahui dan meyakini, bahwa dengan melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah atau Idul Fitri seperti saat ini, akan bernilai ibadah. Begitu pula kiranya bila kita melaksanakan tugas yang diemban dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian agar terhindar dari hal-hal yang munkar, maka sesungguhnya semua itu akan dicatat sebagai ibadah oleh Allah SWT.

Tribrata dan Hikmah Ramadhan

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Dalam kesempatan di hari nan fitri ini, mari kita tandai hari raya Idul Fitri ini seba­gai momentum perubahan. Perubahan yang positif pada pola pikir yang tercermin dalam pola hidup, sehingga terimplementasi dalam profesionalisme kerja.  Memang langkah ini tidaklah mudah untuk dilakukan. Perlu perjuangan kita semua secara istiqomah dan penuh kesungguhan. Terlebih karena kondisi negeri saat ini belum sepenuhnya kondusif, dan masih sangat membutuhkan uluran tangan serta kon­tri­busi positif dalam berbagai hal dari kita semua.

 

Jama’ah Ied yang dimuliakan Allah.

Apabila kita resapi bersama, hikmah dan pelajaran puasa Ramadhan seperti diung­kapkan sebelumnya, sesungguhnya telah tersirat dalam Tribrata Kepolisi­an Repub­lik Indonesia, yaitu:

Pertama, Berbakti kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh ketaqwaan kepada

                Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua,    menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam mene­

               gakkan hukum negara NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD

Ketiga,  senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan

               keikhlasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban. Selain itu,

               tiga poin di atas telah termaktub dalam UU No. 2 Tahun 2002 Pasal 13

               tentang tugas pokok Kepolisian, yaitu 1. Memelihara keamanan dan

               ketertiban masyarakat, 2. Menegakkan hukum, dan 3. Memberikan

               perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Beberapa point di atas, sejatinya sejalan dengan pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari Puasa Ramadhan khususnya, dan ajaran agama Islam secara keseluruhan. Sebagai penegak hukum, seyogyanya segala sesuatu yang ber­kaitan dengan kebijakan yang diputuskan, hendaknya tidak keluar dari Tribrata dan norma yang ada di Negeri tercinta ini. Apabila hal tersebut dilakukan, maka untuk membangun kepercayaan (trust building) masyarakat terhadap POLRI juga sebaliknya, akan berjalan sesuai dengan harapan.

Hal ini dipandang penting, mengingat antara masyarakat sebagai stakeholder dari kepolisian itu sendiri membutuhkan kerjasama yang harmonis dan hubungan yang mutualisme. Diharapkan, dengan adanya kerjasama dan saling percaya yang tinggi, mampu menunjang kesuksesan dan profesionalisme kerja di kedua belah pihak. Tugas ini memang tidak mudah dilaksanakan, mengingat saat ini banyak pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang sengaja melakukan intervensi dengan mengadudomba (devide at impera) guna mengkikis kepercayaan masya­rakat terhadap Polisi dan Lembaga Kepolisian, juga sebaliknya.

Fenomena seperrti ini tidak boleh terus berlangsung. Oleh karena itu, perlu adanya penanaman dan penekanan kembali nilai-nilai luhur bangsa di setiap individu warga negara Indonesia. Ini dimaksudkan, agar bangsa yang kita cintai ini tetap kokoh berdiri pada jalur dan cita-cita demokrasi serta konstitusi.

Ramadhan dan Profesionalisme POLRI

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Seperti kita ketahui bersama, secara umum Polisi memiliki tugas yang relatif sama, yaitu Maintance order dan fight crime. Polisi dibentuk dalam rangka menjaga hak dan kewajiban individu warga negara terlaksana dengan baik. Produk dari Polisi adalah rasa aman. Dengan kondisi dan situasi yang aman dan tertib, akan mampu meningkatkan produktifitas masyarakat dan profesional­isme dalam bekerja.

Profesionalisme sendiri berasal dari kata “profession” yang berarti mutu, ku­alitas, dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang pro­fesional. Daniel W. Porcupile dalam artikelnya yang berjudul, What is Profes­sional­ism? And what does Professionalism Means to You? mendefinisikan profe­sionalisme sebagai perilaku, tujuan, atau kualitas yang menjadi ciri orang yang profesional. Ia juga menambahkan, bahwa profesionalisme membutuhkan beberapa atribut, antara lain: Pertama,  pengetahuan khusus, guna terealisasinya profesional­isme kerja, dibu­tuhkan pengetahuan yang mendalam mengenai apa yang menjadi profesinya. Kedua, Kompetensi, profesionalisme tidak mencari alasan, namun senantiasa mengusa­ha­kan solusi dari masalah yang dihadapinya. Ketiga, Kejujuran dan Integritas, profe­sionalisme senantiasa menunjukkan karakter baik dan menepati janji dan tang­gung­jawab yang telah diembankan kepadanya. Dan yang Kelima, Regulasi diri, para pro­fesional akan senantiasa profesional dalam kerjanya meski dirinya berada di bawah tekanan. Dirinya akan senantiasa mampu mengendalikan diri dalam situasi apa pun.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Profesionalisme di Kepolisian merupakan sebuah keniscayaan. Hal ini di ka­renakan otoritas berada tepat di tangan aparat penegak hukum itu sendiri. Selain itu, profesionalisme juga merupakan jaminan implisit bahwa penga­laman, pen­didikan, dan pelatihan khusus petugas harus memenuhi syarat da­lam rangka meng­hadapi tantangan dan perubahan yang dinamis di masyarakat.

Untuk memperoleh aparat hukum yang profesional, setidaknya setiap indi­vidu anggota Polisi memiliki tiga karakter, sebagai berikut: Pertama, Well motivated yaitu memiliki motivasi yang baik. Motivasi yang baik terbangun ketika rekrutmen dijalankan, yaitu memiliki cita-cita luhur yang sejalan dengan norma serta karakter bangsa ini. Hal ini tercantum dalam Tribrata sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Kedua, Well educated, berpendidikan yang baik. Pendidikan mencakup intelektual, emosional, dan spiritual. Dan Ketiga, Well Paid (Sallary), nampaknya as­pek ini pun perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pimpinan POLRI. Pemimpin harus mampu melihat sekaligus mengevaluasi profesionalisme kinerja anggotanya. Hal ini dimak­sudkan, agar profesionalisme yang terbangun mampu menjadi stimulus yang positif guna terciptanya kesatuan yang solid, tanggungjawab, dan profesional.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Dalam mewujudkan kinerja Kepolisian yang profesional, diharapkan para anggotanya memiliki beberapa karakteristik yang mampu membangun serta me­ningkatkan kepercayaan masyarakat. Polisi diharapkan memiliki, Pertama, se­mangat juang yang tinggi dan didasarkan keimanan dan ketaqwaan yang kuat. Kedua, Polisi hendaknya senantiasa mewujudkan dirinya dalam keterkaitan per­kembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, Polisi mampu belajar dan be­kerjasama dengan pihak lain. Hal ini dimaksudkan agar terjalin harmonisme antara Polisi dan masyarakat. Keempat, Polisi hendaknya memiliki kinerja yang bagus dan meningkatkan etos kerja yang kuat, yang terinternalisasi dalam kedisiplinan tinggi, kerja keras, berprestasi, sehingga menghasilkan Polisi yang profesional. Dan yang Kelima, memiliki kejelasan sekaligus target jenjang karir. Citra Polisi akan terlihat ketika memiliki jenjang karir yang jelas dan logis.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Terlepas dari harapan besar di atas, perlu kita sadari bersama bahwa, dalam membentuk pribadi yang mumpuni tentunya bukan perkara mudah. Perlu adanya pelatihan dan bimbingan serta evaluasi secara konsisten. Meng­ingat, bahwa Polisi juga merupakan insan yang sama diciptakan Allah SWT, yang dalam dirinya memiliki kecenderungan-kecenderungan yang perlu dibina.

Menyikapi hal itu, Islam memberikan solusi yang sekiranya mampu menjadi oase sekaligus bimbingan spiritual bagi kita dalam menjalankan roda kehidupan ini agar senantiasa berada pada jalur dan lajur yang ditentukan Sang Pencipta.

Bentuk bimbingan spiritual tersebut di antaranya dengan menjalankan puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Karena di bulan suci ini, kita kembali dididik dan diingatkan untuk senantiasa melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Selain itu, puasa Ramadhan juga berfungsi untuk (me-recharge) kembali keimanan dan ketaqwaan kita sebagai bekal untuk menjalani kehidupan pada bulan-bulan berikutnya.

Doa dan Harapan

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar

Jama’ah Shalat Iedul Fitri Rahimakumullah

Sebelum mengakhiri khutbah ini, khatib mengajak pada diri khatib khu­susnya dan jama’ah Ied sekalian, marlah bersama kita implementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam puasa Ramadhan dalam kehidupan kita sehari-hari di bulan-bulan berikutnya.

Bangsa yang saat ini tengah berusaha untuk menciptakan stabilitas poli­tik, ekonomi, dan keamanan membutuhkan uluran tangan kita semua untuk bersama memberikan kontribusi positif dalam berbagai hal, terutama pro­fe­sionalisme kita dalam dunia kerja.

Sebagai insan yang beriman dan berpendidikan, mari kita sikapi semua per­masalahan yang terjadi di negeri ini dengan arif dan bijaksana serta senantiasa ber­pi­jak pada asas-asas kekeluargaan yang bersumber dari norma agama serta Empat Konsesus Dasar NKRI.

Kita berdoa dengan segala kerendahan hati yang penuh pengharapan, semo­ga Allah Swt, senantiasa memberi kita kekuatan untuk menapaki jalan yang benar dan melaksanakan tugas yang berat ini, hingga ajal menjemput. Sehingga, anak cucu kita kelak, mampu menghirup udara kedamaian, ketente­raman, dan persaudaraan di bawah naungan cinta dan kasih sayang Allah Swt.

Kita juga memohon, Allah Swt segera mengangkat dan menghapuskan selu­ruh permasalahan serta gejolak yang mampu meretakkan persatuan dan kesatuan bangsa saat ini. Dengan  demikian, kedamaian, persatuan, dan keru­kunan serta sta­bilitas politik kembali dapat kita rasakan. Semoga, negara Indonesia ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang jauh dari bencana karena seluruh masyarakatnya senantiasa mendekatkan diri kepa­da Allah Swt. Amien ya robbal ‘alamin. (Farah/lrf/zm)

Share This