Ketua Walhi Jakarta: Korban Lapindo Masih Terbengkalai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Student Center, UIN Online – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Slamet Daroyani, mengatakan, penanganan bencana korban lumpur Lapindo saat ini masih terbengkalai. Setelah empat tahun berjalan, kasus ini seolah sepi dari perhatian pemerintah. Dari sisi hukum, pengusutan kasus Lapindo hilang begitu saja. Pemerintah juga dinilai tidak memiliki niat menuntaskannya.

Hal itu dikatakan Slamet pada acara talkshow film Aku Ingin Pulang dan Anak-anak Lumpur Lapindo” yang diselenggarakan Acara ini diselenggarakan KMPLHK RANITA dan KMF KALACITRA bekerjasama dengan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Solidaritas Alam (Solam), LS-ADI, dan South to South Film, di Aula Student Center, Kamis (24/06).

Menurut Slamet, saat ini masih sangat sedikit mahasiswa yang peduli akan bencana lumpur Lapindo. Karena itu, ia mengajak agar mahasiswa mempunyai solidaritas dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan.

“Duka korban lumpur Lapindo adalah duka kita juga, siapa lagi yang peduli dan mau bergerak kalau bukan generasi muda, “ujarnya penuh prihatin.

Slamet mengatakan, acara talkshow dan aksi simultan sebagai bentuk keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban lumpur juga akan dilakukan di sejumlah kampus, diantaranya Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Senada dengan Slamet, Fotografer Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) KALACITRA Ahmad Iqbal mengatakan, bencana korban lumpur Lapindo adalah bencana terbesar di Indonesia yang sampai saat ini belum dapat ditangani pemerintah pusat maupun daerah.

Ia menambahkan, ada beberapa kendala yang dihadapi untuk membantu korban Lapindo di antaranya, dana yang minim, kurangnya  kesadaran masyarakat, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap korban lumpur Lapindo.

“Saya berharap setelah acara ini  mahasiswa sadar akan pentingnya lingkungan dan bencana lumpur Lapindo menjadi dokumentasi kita semua, “tambahnya

Ketua Walhi Jakarta: Korban Lapindo Masih Terbengkalai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Student Center, UIN Online – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Slamet Daroyani, mengatakan, penanganan bencana korban lumpur Lapindo saat ini masih terbengkalai. Setelah empat tahun berjalan, kasus ini seolah sepi dari perhatian pemerintah. Dari sisi hukum, pengusutan kasus Lapindo hilang begitu saja. Pemerintah juga dinilai tidak memiliki niat menuntaskannya.

Hal itu dikatakan Slamet pada acara talkshow film Aku Ingin Pulang dan Anak-anak Lumpur Lapindo” yang diselenggarakan Acara ini diselenggarakan KMPLHK RANITA dan KMF KALACITRA bekerjasama dengan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Solidaritas Alam (Solam), LS-ADI, dan South to South Film, di Aula Student Center, Kamis (24/06).

Menurut Slamet, saat ini masih sangat sedikit mahasiswa yang peduli akan bencana lumpur Lapindo. Karena itu, ia mengajak agar mahasiswa mempunyai solidaritas dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan.

“Duka korban lumpur Lapindo adalah duka kita juga, siapa lagi yang peduli dan mau bergerak kalau bukan generasi muda, “ujarnya penuh prihatin.

Slamet mengatakan, acara talkshow dan aksi simultan sebagai bentuk keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban lumpur juga akan dilakukan di sejumlah kampus, diantaranya Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Senada dengan Slamet, Fotografer Komunitas Mahasiswa Fotografi (KMF) KALACITRA Ahmad Iqbal mengatakan, bencana korban lumpur Lapindo adalah bencana terbesar di Indonesia yang sampai saat ini belum dapat ditangani pemerintah pusat maupun daerah.

Ia menambahkan, ada beberapa kendala yang dihadapi untuk membantu korban Lapindo di antaranya, dana yang minim, kurangnya  kesadaran masyarakat, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap korban lumpur Lapindo.

“Saya berharap setelah acara ini  mahasiswa sadar akan pentingnya lingkungan dan bencana lumpur Lapindo menjadi dokumentasi kita semua, “tambahnya