Ketua Senat UIN Jakarta: UIN Jakarta Semakin Maju dan Berkualitas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Atho MudzharAuditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online– UIN Jakarta kembali menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke 101 program S1, S2 dan S3 selama dua hari pada Sabtu dan Ahad, (21-22/8/16) di Auditorium Harun Nasution.

Perhelatan akbar yang mengusung tema “Penguatan Otonomi UIN Jakarta Menuju World Class University” itu dibuka Ketua Senat UIN Jakarta Prof Dr M Atho Mudzhar MA.

Dalam pidatonya, Atho menguraikan eksistensi UIN Jakarta dengan peringatan kemerdekaan RI ke 71 yang harus disyukuri dan harus dipertahankan dengan sebaik-baiknya.

“Wisuda ke 101 hari ini dilaksanakan hanya selang tiga hari setelah kita memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 71. Kita bersyukur bangsa Indonesia diberi anugerah yang luar biasa dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945,” ujar Atho.

Setelah proklamasi kemerdekaan itu, lanjut Atho, bangsa Indonesia kemudian harus menghadapi revolusi fisik sampai penyerahan kedaulatan pada Desember 1949 dan setelah itu bangsa Indonesia diberi limpahan nikmat yang luar biasa dan terus menerus sifatnya.

Ditegaskannya, andaikan tidak ada kemerdekaan itu, bangsa Indonesia tentulah masih dijajah bangsa lain.

“Dengan kemerdekaan itulah kita mempunyai kedaulatan di negeri sendiri. Dengan kemerdekaan itu kita memiliki pemerintahan sendiri, kita membangun lembaga-lembaga pendidikan, baik umum maupun agama, sehingga kita dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti sekarang ini. Dengan kemerdekaan itu pula, maka di Jakarta berdiri dengan megah Mesjid Istiqlal yang kita banggakan itu,” terang pria kelahiran Serang Banten pada 20 Oktober 1949 tersebut..

“Jika Indonesia tidak merdeka, maka kita akan terus diperlakukan sebagai inlander yang tertindas dan terkebelakang. Oleh karena itu, kemerdekaan ini harus kita syukuri, kita jaga, kita pertahankan dengan sebaik-baiknya,” imbuh Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum itu.

Atho menegaskan, dalam hubungan ini, maka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan seluruh sivitas akademiknya harus pula mensyukuri hal ini. Seluruh lapisan pimpinan UIN, para dosen, karyawan dan mahasiswa UIN, perlu menyadari benar bahwa kehadiran UIN ini adalah salah satu bentuk nikmat Tuhan yang lahir karena kemerdekaan itu.

UIN Jakarta mempunyai visi untuk memberikan akses pendidikan tinggi Islam yang bermutu dan unggul dalam integrasi keislaman dan keilmuan kepada anak bangsa ini, khususnya umat Islam.

Untuk mendukung visi itu, maka program studi dan riset diperluas, metode dan fasilitas pembelajaran modern diperkenalkan, dan kelembagaan UIN sendiri diperkuat baik dari segi organisasi maupun sistem anggarannya.

Tentu saja memerlukan perencanaan dan pentahapan dalam pelaksanaannya. Sejak berdirinya sebagai Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) pada tahun 1958, kemudian menjadi lAIN pada tahun 1960, dan akhirnya menjadi UIN sejak tahun 2002, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terus melakukan pembenahan dan mengalami kemajuan.

Dalam hubungan ini, Atho mengajak para wisudawan untuk bersyukur karena diwisuda pada saat lembaga pendidikan tinggi ini telah semakin maju dan semakin berkualitas.

“Kami ucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati. Semoga ilmu yang dimiliki akan membuat akhlak kita semakin mulia dan akan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan kemanusiaan. Janganlah berhenti menuntut ilmu, baik melalui jalur formal, maupun jalur lainnya. Ilmu kesarjanaan kita boleh jadi akan ketinggalan, apabila tidak rajin meng-update dan menambah ilmu kita,” tutup Atho. (mf)