Rektorat, BERITA UIN Online—UIN Jakarta tengah mempersiapkan penilaian akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Hal ini dilakukan untuk memenuhi seluruh dokumen maupun borang yang nantinya akan dinilai oleh BAN-PT yang akan menjadi acuan untuk melihat kualitas dari beberapa program studi yang ada di UIN Jakarta.

Ketua Lembaga Penjamin Mutu UIN Jakarta, Dr sururin MAg menjelaskan, persiapan sudah mulai dilakukan sejak tahun 2017 lalu walaupun penilaian pertama dari BAN-PT baru akan dilakukan bulan Februari 2018 mendatang. Seluruh data dan dokumen yang yang diperlukan telah disusun, mayoritas sudah di-upload untuk kebutuhan akreditasi BAN-PT.

“Untuk AIPT ini sudah kita persiapkan sejak tahun 2017. Di awal tahun 2017 kita sudah mulai persiapkan, karena kita memang butuh dokumen dan data-data pendukung untuk bisa dijadikan suatu borang yang baik, yang bagus serta memberikan informasi yang komprehensif,” jelasnya.

Penyusunan borang sendiri, lanjutnya, dibentuk dalam bentuk narasi yang dikirimkan ke BAN-PT melalui Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO). Hal ini merupakan  sistem yang dikembangkan BAN-PT untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas proses akreditasi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh BAN-PT.

Seperti diketahui,  SAPTO mendukung setiap proses yang dilakukan dalam akreditasi seperti pengajuan usulan akreditasi oleh perguruan tinggi, pemeriksaan dokumen, penugasan asesor maupun validasi yang nantinya akan dilakukan.

“Pokoknya pada tahun 2017 kemarin, kita fokus mempersiapkan AIPT, yang merupakan fungsi utama dari LPM. Untuk rapat koordinasi kemarin, itu hal teknis pada saat kunjungan asesor ke UIN Jakarta nanti,” pukasnya.

Ia pun berharap seluruh elemen yang ada, mulai dari jajaran pimpinan dan seluruh sivitas akademika UIN Jakarta mendukung kerja LPM. “Ini bukan hanya gawe LPM tapi ini tugas kita bersama. Jadi kita butuh dukungan dari semua pihak,” harapnya.

Ketika tim BERITA UIN Online menanyakan perihal Kendala yang kerap dihadapi, Sururin mengatakan bahwa adanya ketidaklengkapan data dari beberapa fakultas atau lembaga selain juga beberapa kali server atau jaringan internet mengalami gangguan.

“Karena kerja kami berbasis online, maka ketersediaan jaringan internet sangat kami butuhkan. Dengan demikian, kami dapat mengupload seluruh data dan dokumen yang dibutuhkan dengan lancar,” tandas Sururin menutup pembicaraannya. (lrf/aw)