Ketika Bahasa Krisis Makna

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

MULUT MU HARIMAU MU, kata pepatah. Seseorang akan dihargai karena lisannya. Jika bicaranya benar, dia akan berwibawa dan mampu menaklukkan teman dan lawan.

Namun kalau omongannya tidak bisa dipegang dan dipercaya, dia akan menerkam dirinya.Maka hati-hatilah kalau berbicara.Terlebih jika seseorang menduduki jabatan publik, omongannya sangat dihormati, disegani, dan dinanti sebagai sumber pencerahan dan pedoman masyarakat sehingga omongan penguasa disebut sabda. Posisi tertinggi istilah sabda biasanya dilekatkan pada ucapan para nabi, lalu untuk Tuhan digunakan istilah firman. Namun dalam tradisi Nusantara, sabda juga sering dilekatkan pada penguasa. Kalau dulu raja,sekarang presiden dan pejabat tinggi.Ini hanya untuk menunjukkan betapa masyarakat sangat menghargai petuah penguasa, juga sebuah peringatan agar pejabat tinggi kalau berbicara atau membuat statemen mesti benar dan hati-hati karena implikasi sosialnya sangat besar.

Krisis Makna

Dengan membeludaknya arus informasi yang disebarkan melalui media massa, telinga dan otak masyarakat dibanjiri berbagai statemen politisi, pejabat tinggi negara, selebritas, dan pengamat sosial yang semakin riuh rendah dan saling berbenturan. Belum lagi penyebaran informasi melalui Facebook, Twitter, dan e-mail yang sesungguhnya tidak semuanya cocok disebut informasi, melainkan gosip. Dari berbagai obrolan ringan dengan warga masyarakat,mereka sering mengeluh tidak bisa lagi membedakan mana pernyataan publik yang benar dan salah, yang mesti dipegang dan dibuang? Terlebih ketika melihat sesama aparat negara pernyataannya saling berseberangan dan menyerang.

Di mata masyarakat, lembaga DPR, kepolisian, kejaksaan, KPK, menteri dan presiden, serta lembaga lain adalah aparatur negara karena digaji oleh negara. Suasana semakin membingungkan ketika oleh media televisi sengaja dibuat dramatisasi dan penajaman bahwa ada perbedaan pendapat dan sikap. Kalau saja pendidikan masyarakat sudah tinggi dan jajaran pemerintah memiliki wibawa di mata masyarakat, hiruk-pikuk dan benturan informasi itu tidak akan menimbulkan masalah karena rakyat bersikap kritis-selektif dan penjelasan pemerintah dapat diyakini kebenarannya. Namun saat ini terjadi krisis bahasa dan makna.

Berbagai peristiwa pembunuhan, korupsi dan proses hukum terkesan tidak jelas, tidak tuntas, dan tidak tegas penyelesaiannya sehingga sangat wajar kalau masyarakat juga menjadi ragu terhadap kebenaran sabda penguasa. Keraguan ini kian menjadi-jadi ketika penjelasan seputar peredaran film porno, misalnya, dinilai mengambang, berputar-putar, sementara masyarakat memiliki persepsi sendiri. Situasi ini menambah benang kusut lalu lintas informasi yang membuat bahasa krisis makna.Wacana politik yang datang dari panggung Senayan juga sering menambah lalu-lalang statemen, opini, dan gagasan yang ujungnya sering kali tidak jelas.

Yang seru tentu saja permainan logika kalangan advokat yang senang adu tafsiran tentang pasalpasal hukum yang kurang dipahami masyarakat yang konon besar bayarannya. Sepanjang sejarahnya,baru setengah abad terakhir ini masyarakat dunia memasuki kehidupan baru dalam suatu dunia jejaring dan dunia visual yang mengaburkan batas antara yang riil dan yang maya.Jika ada film porno yang mirip wajah artis yang sudah amat beken, apakah itu dunia nyata ataukah maya? Apakah itu rekayasa ataukah potret sebenarnya? Kalau memang maya,mengapa mesti diributkan dan masyarakat senang menontonnya? Demikianlah, perubahan masyarakat yang demikian drastis selalu menimbulkan berbagai masalah dan tantangan baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.Untuk mencari jawaban dan solusinya pun tidak mudah.

Jawabannya selalu tertinggal di belakang, jauh di belakang. Jarak antara problem dan solusi cenderung berbanding antara deret hitung dan deret ukur. Dalam situasi demikian, sangat penting agar orang tua,guru,dan pejabat tinggi menjaga lisan, hati-hati membuat pernyataan karena sabda mereka diharapkan berfungsi bagaikan atap yang memberi pengayoman dan cahaya kebenaran. Bukan malah mengacaukan dan membingungkan. Kalau lisannya tidak bisa dipercaya, di mana lagi letak martabat manusia? (*)

Tulisan Ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jum’at 18 Juni 2010

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Ketika Bahasa Krisis Makna

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

MULUT MU HARIMAU MU, kata pepatah. Seseorang akan dihargai karena lisannya. Jika bicaranya benar, dia akan berwibawa dan mampu menaklukkan teman dan lawan.

Namun kalau omongannya tidak bisa dipegang dan dipercaya, dia akan menerkam dirinya.Maka hati-hatilah kalau berbicara.Terlebih jika seseorang menduduki jabatan publik, omongannya sangat dihormati, disegani, dan dinanti sebagai sumber pencerahan dan pedoman masyarakat sehingga omongan penguasa disebut sabda. Posisi tertinggi istilah sabda biasanya dilekatkan pada ucapan para nabi, lalu untuk Tuhan digunakan istilah firman. Namun dalam tradisi Nusantara, sabda juga sering dilekatkan pada penguasa. Kalau dulu raja,sekarang presiden dan pejabat tinggi.Ini hanya untuk menunjukkan betapa masyarakat sangat menghargai petuah penguasa, juga sebuah peringatan agar pejabat tinggi kalau berbicara atau membuat statemen mesti benar dan hati-hati karena implikasi sosialnya sangat besar.

Krisis Makna

Dengan membeludaknya arus informasi yang disebarkan melalui media massa, telinga dan otak masyarakat dibanjiri berbagai statemen politisi, pejabat tinggi negara, selebritas, dan pengamat sosial yang semakin riuh rendah dan saling berbenturan. Belum lagi penyebaran informasi melalui Facebook, Twitter, dan e-mail yang sesungguhnya tidak semuanya cocok disebut informasi, melainkan gosip. Dari berbagai obrolan ringan dengan warga masyarakat,mereka sering mengeluh tidak bisa lagi membedakan mana pernyataan publik yang benar dan salah, yang mesti dipegang dan dibuang? Terlebih ketika melihat sesama aparat negara pernyataannya saling berseberangan dan menyerang.

Di mata masyarakat, lembaga DPR, kepolisian, kejaksaan, KPK, menteri dan presiden, serta lembaga lain adalah aparatur negara karena digaji oleh negara. Suasana semakin membingungkan ketika oleh media televisi sengaja dibuat dramatisasi dan penajaman bahwa ada perbedaan pendapat dan sikap. Kalau saja pendidikan masyarakat sudah tinggi dan jajaran pemerintah memiliki wibawa di mata masyarakat, hiruk-pikuk dan benturan informasi itu tidak akan menimbulkan masalah karena rakyat bersikap kritis-selektif dan penjelasan pemerintah dapat diyakini kebenarannya. Namun saat ini terjadi krisis bahasa dan makna.

Berbagai peristiwa pembunuhan, korupsi dan proses hukum terkesan tidak jelas, tidak tuntas, dan tidak tegas penyelesaiannya sehingga sangat wajar kalau masyarakat juga menjadi ragu terhadap kebenaran sabda penguasa. Keraguan ini kian menjadi-jadi ketika penjelasan seputar peredaran film porno, misalnya, dinilai mengambang, berputar-putar, sementara masyarakat memiliki persepsi sendiri. Situasi ini menambah benang kusut lalu lintas informasi yang membuat bahasa krisis makna.Wacana politik yang datang dari panggung Senayan juga sering menambah lalu-lalang statemen, opini, dan gagasan yang ujungnya sering kali tidak jelas.

Yang seru tentu saja permainan logika kalangan advokat yang senang adu tafsiran tentang pasalpasal hukum yang kurang dipahami masyarakat yang konon besar bayarannya. Sepanjang sejarahnya,baru setengah abad terakhir ini masyarakat dunia memasuki kehidupan baru dalam suatu dunia jejaring dan dunia visual yang mengaburkan batas antara yang riil dan yang maya.Jika ada film porno yang mirip wajah artis yang sudah amat beken, apakah itu dunia nyata ataukah maya? Apakah itu rekayasa ataukah potret sebenarnya? Kalau memang maya,mengapa mesti diributkan dan masyarakat senang menontonnya? Demikianlah, perubahan masyarakat yang demikian drastis selalu menimbulkan berbagai masalah dan tantangan baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.Untuk mencari jawaban dan solusinya pun tidak mudah.

Jawabannya selalu tertinggal di belakang, jauh di belakang. Jarak antara problem dan solusi cenderung berbanding antara deret hitung dan deret ukur. Dalam situasi demikian, sangat penting agar orang tua,guru,dan pejabat tinggi menjaga lisan, hati-hati membuat pernyataan karena sabda mereka diharapkan berfungsi bagaikan atap yang memberi pengayoman dan cahaya kebenaran. Bukan malah mengacaukan dan membingungkan. Kalau lisannya tidak bisa dipercaya, di mana lagi letak martabat manusia? (*)

Tulisan Ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jum’at 18 Juni 2010

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah