Ketekunan Kunci Sukses Miliki Karier Bagus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Student Centre, UIN Online ­Konsultan karier dan Direktur Institut Manajemen Zakat (IMZ) Kushardanta SE MM, mempertanyakan anggapan sebagian orang yang menyatakan betapa susahnya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Menurutnya, kunci sukses seseorang dalam memiliki jenjang karier yang baik adalah memiliki ketekunan.

“Ketekunan adalah 95 persen dari kemajuan. Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena mereka tidak mampu, tetapi tidak tekun dan berkomitmen,” ujar Kushardanta dalam Job Shari’a, Job Fair, and Seminar : Plan Your Future Career yang digelar Lembaga Dakwah Kampus bekerja sama dengan BNI Syariah, Prudential Syariah, Lazis Al-Azhar Peduli Ummat, dan Institut Manajemen Zakat  (IMZ) di Student Centre, Kamis, (8/4).

Direktur IMZ ini menjelaskan, hidup adalah sebuah pilihan. Terdapat berjuta-juta pekerjaan di dunia ini. “Apapun pekerjaan yang telah dipilih, yakinlah bahwa Anda benar telah memilihnya. Karena Anda sendiri yang akan mempertanggungjawabkan pilihan anda tersebut. Laksanakan saja dan tekuni,” imbuhnya kepada peserta seminar.

Kushardanta mengajak peserta agar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.  Mencoba melihat kemampuan yang dimiliki dari berbagai sudut pandang. “Berusahalah menemukan yang sesuai bagi Anda hari ini, dan pekerjaan itu mungkin akan lebih baik dari apa yang ditinggalkan pada hari-hari yang lalu,” ajaknya.

Dalam mencari pekerjaan yang cocok, lanjutnya, ada yang perlu diperhatikan. Ia mengibaratkan dalam mencari pekerjaan seperti memburu nyamuk. “Nyamuk adalah guru yang terbaik,” ujarnya. Karena menurutnya, nyamuk tidak menunggu adanya lubang, nyamuklah si pembuat lubang tersebut.

“Artinya, pekerjaan dan lowongan kerja seperti fenomena gunung es. Ada penelitian yang menyebut lowongan kerja yang diiklankan di media hanya 11 persen dari total lowongan yang ada. Sisanya, 89 persen tidak diiklankan dan melalui jalur lain. Ini manfaat dari komunikasi dan koneksi. Anda harus membuat peluang tersebut ada, jangan hanya menunggu adanya lowongan,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Lazis Al-Azhar Peduli Ummat M Anwar Sani mengamini pernyataan Kushardanta. Menurutnya, banyak kisah yang menyebut kesuksesan seseorang berawal dari ketekunan seseorang dalam menjalani pekerjaan. “Orang yang tetap bekerja lebih baik dibanding bekerja tetap. Karena ketika di-PHK, orang yang bekerja tetap akan kelimpungan sementara orang lain tetap bekerja,” tandasnya.

Ia menceritakan kisah zaman Nabi Ibrahim ketika Siti Hajar memiliki ketekukan yang kuat dalam menemukan air untuk anaknya. Dengan panas yang menyengat dan jarak yang jauh antara bukit Safa dan Marwah, Siti Hajar dapat memperoleh air setelah mengelilingi kedua bukit tersebut sebanyak tujuh kali.

“Adalagi kisah pengusaha di Salatiga bernama Agus. Mengawali karier sebagai penjaga toko dengan gaji yang minim tahun 1997, namun dengan ketekunan dan kejujuran dalam waktu lima tahun ke depan ia bukan hanya berhasil mengembangkan toko tersebut, namun mendapatkan dari pemiliknya dengan omzet 500 juta pertahun di tahun 2002. Kini, ia tercatat sebagai salah satu konglomerat terpandang di Salatiga,” ujarnya.

Setelah acara berakhir, panitia memberikan kesempatan kepada peserta untuk memasukkan Curriculum Vitae sesuai minat mahasiswa dan sharing langsung untuk mengenal lebih dekat dengan institusi syariah semacam Prudential Syariah, IMZ, dan Bank BNI Syariah. []

Ketekunan Kunci Sukses Miliki Karier Bagus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Student Centre, UIN Online ­Konsultan karier dan Direktur Institut Manajemen Zakat (IMZ) Kushardanta SE MM, mempertanyakan anggapan sebagian orang yang menyatakan betapa susahnya mendapatkan pekerjaan yang bagus. Menurutnya, kunci sukses seseorang dalam memiliki jenjang karier yang baik adalah memiliki ketekunan.

“Ketekunan adalah 95 persen dari kemajuan. Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena mereka tidak mampu, tetapi tidak tekun dan berkomitmen,” ujar Kushardanta dalam Job Shari’a, Job Fair, and Seminar : Plan Your Future Career yang digelar Lembaga Dakwah Kampus bekerja sama dengan BNI Syariah, Prudential Syariah, Lazis Al-Azhar Peduli Ummat, dan Institut Manajemen Zakat  (IMZ) di Student Centre, Kamis, (8/4).

Direktur IMZ ini menjelaskan, hidup adalah sebuah pilihan. Terdapat berjuta-juta pekerjaan di dunia ini. “Apapun pekerjaan yang telah dipilih, yakinlah bahwa Anda benar telah memilihnya. Karena Anda sendiri yang akan mempertanggungjawabkan pilihan anda tersebut. Laksanakan saja dan tekuni,” imbuhnya kepada peserta seminar.

Kushardanta mengajak peserta agar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.  Mencoba melihat kemampuan yang dimiliki dari berbagai sudut pandang. “Berusahalah menemukan yang sesuai bagi Anda hari ini, dan pekerjaan itu mungkin akan lebih baik dari apa yang ditinggalkan pada hari-hari yang lalu,” ajaknya.

Dalam mencari pekerjaan yang cocok, lanjutnya, ada yang perlu diperhatikan. Ia mengibaratkan dalam mencari pekerjaan seperti memburu nyamuk. “Nyamuk adalah guru yang terbaik,” ujarnya. Karena menurutnya, nyamuk tidak menunggu adanya lubang, nyamuklah si pembuat lubang tersebut.

“Artinya, pekerjaan dan lowongan kerja seperti fenomena gunung es. Ada penelitian yang menyebut lowongan kerja yang diiklankan di media hanya 11 persen dari total lowongan yang ada. Sisanya, 89 persen tidak diiklankan dan melalui jalur lain. Ini manfaat dari komunikasi dan koneksi. Anda harus membuat peluang tersebut ada, jangan hanya menunggu adanya lowongan,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Lazis Al-Azhar Peduli Ummat M Anwar Sani mengamini pernyataan Kushardanta. Menurutnya, banyak kisah yang menyebut kesuksesan seseorang berawal dari ketekunan seseorang dalam menjalani pekerjaan. “Orang yang tetap bekerja lebih baik dibanding bekerja tetap. Karena ketika di-PHK, orang yang bekerja tetap akan kelimpungan sementara orang lain tetap bekerja,” tandasnya.

Ia menceritakan kisah zaman Nabi Ibrahim ketika Siti Hajar memiliki ketekukan yang kuat dalam menemukan air untuk anaknya. Dengan panas yang menyengat dan jarak yang jauh antara bukit Safa dan Marwah, Siti Hajar dapat memperoleh air setelah mengelilingi kedua bukit tersebut sebanyak tujuh kali.

“Adalagi kisah pengusaha di Salatiga bernama Agus. Mengawali karier sebagai penjaga toko dengan gaji yang minim tahun 1997, namun dengan ketekunan dan kejujuran dalam waktu lima tahun ke depan ia bukan hanya berhasil mengembangkan toko tersebut, namun mendapatkan dari pemiliknya dengan omzet 500 juta pertahun di tahun 2002. Kini, ia tercatat sebagai salah satu konglomerat terpandang di Salatiga,” ujarnya.

Setelah acara berakhir, panitia memberikan kesempatan kepada peserta untuk memasukkan Curriculum Vitae sesuai minat mahasiswa dan sharing langsung untuk mengenal lebih dekat dengan institusi syariah semacam Prudential Syariah, IMZ, dan Bank BNI Syariah. []