Kesetiaan Manjaga Semua Orang Beriman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online - $eorang Muslim hendaknya menjaga kesetiaan terhadap sesamanya. Hal ini harus menjadi tekad bulat semua Muslim. Sebab, tanpa kesetiaan seorang mukmin akan gagal menjaga kehormatannya.

“Sekali saja orang kehilangan kehormatan dirinya, maka secara berangsur-angsur dia mendekati titik hilangnya iman. Sesudah itu keadaan memburuk dengan sangat cepat dan dia kembali melakukan kebiasaan lama yang tercela seperti halnya yang orang kafir dan munafik lakukan,” ujar Dr Rusli Hasbi dalam khutbah Jumatnya di hadapan sivitas akademika UIN Jakarta di Masjid Al Jamiah, Jumat (8/8) lalu.

Menurutnya, kekafiran mendukung seseorang untuk melakukan penipuan. Pertama, orang tersebut melampaui batas dengan mencoba menyembunyikan ketidak-setiaannya dari orang beriman lainnya. Kemudian mulai berbohong dan melakukan usaha yang terus-menerus untuk mencurangi mereka. Lalu ‘bakat’nya dalam berbohong membuatnya merasa bahwa orang itu dapat benar-benar menipu orang beriman dan mulai mengadopsi cara hidup yang mencari keuntungan secara tidak adil dari mereka.

Hal ini, lanjut Rusli, menandakan keadaan pikiran di mana penipu tersebut tidak merasakan lagi cinta kepada orang beriman. Dalam keadaan seperti ini, penipu tersebut lebih mencari kerelaan manusia dari pada kerelaan Allah. Itulah sebabnya dia akan berjuang sekuat tenaga untuk membela gengsinya yang tinggi. Dia juga akan memandang segala sesuatu yang mungkin merusak gengsinya sebagai ancaman serius dan berusaha lebih keras melindungi dirinya dengan mengatakan lebih banyak lagi kebohongan.

Ketika orang beriman mulai merasakan kebohongannya, dia menunjukkan lebih banyak lagi ciri kemunafikan. Pada titik ini, dia mencoba mengakui kesalahan guna menyelamatkan muka. Tetapi usaha ini mengubah sepenuhnya menjadi jenis orang yang tidak ragu lagi bersekutu dengan orang kafir dan orang munafik.

Dari peristiwa tersebut, tambah dosen Fakults Dirasat Islamiyah ini, dapat diambil kesimpulan, ketidaksetiaan walaupun sedikit, dapat menyebabkan seseorang terjerumus kepada kemurtadan. Sebaliknya orang mukmin yang benar keimanannya tetap teguh bertekun dalam kebenaran sampai hari kematian, karena mereka merasa berhutang kepada Allah.

Dalam surat An Nisa ayat 80 Allah SWT berfirman “Barang siapa yang mentaati Rasul, berarti dia telah mentaati Allah dan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan siapa yang membangkang, maka Kami tidak mengutusmu untuk bertindak sebagai pemeliharanya”.

 

Tidak diragukan lagi, tanda terpenting dari kesetiaan adalah kepatuhan. Karena kepatuhan merupakan sifat penting orang beriman sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, yang merupakan kunci untuk mendapatkan rahmat Allah guna memperoleh surga dan meraih kemenangan atas orang kafir. (Nif/Ed)

 

Kesetiaan Manjaga Semua Orang Beriman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Hamzah

Masjid Al Jamiah, UINJKT Online - $eorang Muslim hendaknya menjaga kesetiaan terhadap sesamanya. Hal ini harus menjadi tekad bulat semua Muslim. Sebab, tanpa kesetiaan seorang mukmin akan gagal menjaga kehormatannya.

“Sekali saja orang kehilangan kehormatan dirinya, maka secara berangsur-angsur dia mendekati titik hilangnya iman. Sesudah itu keadaan memburuk dengan sangat cepat dan dia kembali melakukan kebiasaan lama yang tercela seperti halnya yang orang kafir dan munafik lakukan,” ujar Dr Rusli Hasbi dalam khutbah Jumatnya di hadapan sivitas akademika UIN Jakarta di Masjid Al Jamiah, Jumat (8/8) lalu.

Menurutnya, kekafiran mendukung seseorang untuk melakukan penipuan. Pertama, orang tersebut melampaui batas dengan mencoba menyembunyikan ketidak-setiaannya dari orang beriman lainnya. Kemudian mulai berbohong dan melakukan usaha yang terus-menerus untuk mencurangi mereka. Lalu ‘bakat’nya dalam berbohong membuatnya merasa bahwa orang itu dapat benar-benar menipu orang beriman dan mulai mengadopsi cara hidup yang mencari keuntungan secara tidak adil dari mereka.

Hal ini, lanjut Rusli, menandakan keadaan pikiran di mana penipu tersebut tidak merasakan lagi cinta kepada orang beriman. Dalam keadaan seperti ini, penipu tersebut lebih mencari kerelaan manusia dari pada kerelaan Allah. Itulah sebabnya dia akan berjuang sekuat tenaga untuk membela gengsinya yang tinggi. Dia juga akan memandang segala sesuatu yang mungkin merusak gengsinya sebagai ancaman serius dan berusaha lebih keras melindungi dirinya dengan mengatakan lebih banyak lagi kebohongan.

Ketika orang beriman mulai merasakan kebohongannya, dia menunjukkan lebih banyak lagi ciri kemunafikan. Pada titik ini, dia mencoba mengakui kesalahan guna menyelamatkan muka. Tetapi usaha ini mengubah sepenuhnya menjadi jenis orang yang tidak ragu lagi bersekutu dengan orang kafir dan orang munafik.

Dari peristiwa tersebut, tambah dosen Fakults Dirasat Islamiyah ini, dapat diambil kesimpulan, ketidaksetiaan walaupun sedikit, dapat menyebabkan seseorang terjerumus kepada kemurtadan. Sebaliknya orang mukmin yang benar keimanannya tetap teguh bertekun dalam kebenaran sampai hari kematian, karena mereka merasa berhutang kepada Allah.

Dalam surat An Nisa ayat 80 Allah SWT berfirman “Barang siapa yang mentaati Rasul, berarti dia telah mentaati Allah dan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan siapa yang membangkang, maka Kami tidak mengutusmu untuk bertindak sebagai pemeliharanya”.

 

Tidak diragukan lagi, tanda terpenting dari kesetiaan adalah kepatuhan. Karena kepatuhan merupakan sifat penting orang beriman sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, yang merupakan kunci untuk mendapatkan rahmat Allah guna memperoleh surga dan meraih kemenangan atas orang kafir. (Nif/Ed)