Kesempatan yang Hilang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Oleh: Azyumardi Azra

Apa yang boleh kita kenang dengan tahun 2009 yang segera tenggelam ke balik lembaran sejarah? Sebaliknya, apa yang kita ingin lupakan 2009 dari kesadaran, karena begitu mengganggu. Kita boleh mengingat 2009 sebagai tahun Pemilu legislatif dan presiden yang meski berjalan lancar dan damai, tapi menyisakan banyak keganjilan (irregularities).

Atau, tewasnya gembong teroris Noordin M Top setelah sekian lama begitu licin bak belut lari dari kejaran Densus 88, sambil merekrut kader-kader. Tetapi, peristiwa semacam ini mungkin tidak lagi signifikan memengaruhi perjalanan republik pada 2010 dan selanjutnya.

Tetapi, bagaimana dengan kasus Antasari Azhar yang sejumlah media elektronik menyebutnya sebagai Telenovela Antasari. Atau, ironi Prita versus RS Omni Internasional dan peradilan; sebuah ketidakadilan yang justru dikukuhkan pengadilan; sehingga menimbulkan perlawanan dengan pengumpulan koin rupiah picisan secara spketakuler.

Rasa keadilan juga tercederai hukuman tak setimpal yang dijatuhkan pengadilan terhadap para pelaku kasus remeh-temeh. Pameo ‘maling ayam dihukum berat, sedangkan maling besar berkeliaran’, menemukan wujudnya yang paling kasat.

Atau, skandal ‘Buaya versus Cicak’ Polri versus KPK, atau tegasnya Susno Duadji, Kabareskrim Polri versus Bibit-Chandra, dua pimpinan KPK yang sempat dinonaktifkan tanpa bukti-bukti meyakinkan. Bahkan, ‘Tim Delapan’ yang semula mungkin diharapkan dapat menjerat kedua pimpinan KPK, justru menghasilkan temuan-temuan yang sulit diingkari, yang memaksa Presiden Yudhoyono menerbitkan keputusan pengaktifan mereka kembali. Lagi-lagi tekanan publik secara damai menggagalkan skandal sangat memalukan kita semua sebagai bangsa.

Lalu, ada lagi ‘Skandal Bail-Out Bank Century’, yang kini kian terungkap. Ibarat bola salju yang terus menggelinding,  snow-balling effects-nya terus membesar. Pengungkapan demi pengungkapan dan bantahan demi bantahan, yang bukan membuat masalah kian jelas, tapi justru membuat tanda tanya publik makin membesar. Terlepas dari apa pun akhirnya yang bisa dihasilkan Panitia Khusus DPR untuk Angket Bank Century, sementara itu pula kredibilitas dan bahkan legitimasi moral kepemimpinan nasional bisa kian terkikis.

Tahun 2009 boleh berlalu, tetapi bayang-bayang skandal Bank Century terus membuntuti; bahkan mungkin semakin kelam dan membenamkan para pelakunya ke dalam lubang tanpa dasar. Dan 2010 serta tahun-tahun berikutnya, bayang-bayang kelam tampaknya tidak bisa lenyap begitu saja dengan perjalanan waktu.

Di tengah semua perkembangan tidak menyenangkan itu, yang agaknya pasti, sebuah kesempatan telah hilang (losing opportunity) untuk membuat negara-bangsa ini lebih baik dengan cara yang lebih cepat tetapi bertanggung jawab. Momentum kesempatan itu tertimbun skandal Bank Century.

Perkembangan ini kebalikan dari euforia publik dalam dan luar negeri ketika Yudhoyono memenangkan Pilpres 2004. Koran terkemuka  The Asian Wall Street Journal , edisi 29 September 2004 merefleksikan euforia tersebut dengan menurunkan tajuk rencana ‘Indonesia’s Golden Opportunity’ yang memandang terpilihnya Yudhoyono sebagai presiden dalam pilpres langsung pertama 2004 sebagai ”kesempatan emas” bagi Indonesia untuk melangkah maju, mengejar ketinggalannya dari negara-negara Asia lainnya.

Kini masih bisakah ASWJ berbicara kembali tentang ‘Indonesia’s golden opportunity’ itu? Sebaliknya, berbagai media internasional, bahkan melihat skandal Bank Century telah memunculkan dampak-dampak negatif terhadap kinerja pemerintahan Yudhoyono-Boediono. Sehingga, yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya ‘Indonesia’s losing’ opportunity kesempatan yang hilang, karena terganggu berbagai masalah sampingan yang sangat mengganggu, khususnya skandal Bank Century.

Gejala kehilangan kesempatan itu juga terlihat ketika hampir tidak ada lagi pembicaraan tentang ‘Program 100 Hari’ pemerintahan Yudhoyono-Boediono, baik dari kalangan para menteri maupun lingkungan publik umumnya. Bahkan, masyarakat tidak lagi antusias atau skeptis atau tidak lagi peduli tentang program-program 100 hari yang semula dimaksudkan sebagai percepatan kemajuan Indonesia dalam berbagai bidang.

Memang, kata banyak pengamat ekonomi, jika kesempatan itu tidak direbut secara serius sekalipun, ekonomi Indonesia tetap tumbuh, walaupun tidak sebesar yang diharapkan. Bahkan, kata mereka, sekalipun pemerintah tidur, ekonomi Indonesia juga bakal tetap tumbuh. Apakah pandangan yang sedikit optimistis ini betul menjadi kenyataan? Pastilah harus disaksikan sepanjang 2010.

Lantas apa yang bisa kita harap dari 2010? Agaknya, kita harus mengencangkan sabuk pengaman, karena boleh jadi turbulensi politik bakal berkelanjutan. Jika itu terjadi, jelas pula perkembangan ekonomi Indonesia sedikit banyak juga terganggu–dan pada gilirannya, ekonomi yang tidak bertumbuh baik sebaliknya memengaruhi situasi politik. Ibarat lingkaran setan saja.

Karena itu, kita berharap, gonjang-ganjing politik yang sekarang tengah berlangsung tidak kian memburuk pada 2010 dan seterusnya. Meski mungkin ada ”skenario” pesimistis tentang politik Indonesia di hari-hari mendatang, sepatutnyalah semua pihak tetap berusaha menghindari terjadinya krisis politik yang dapat memakan biaya besar. Selebihnya, kita perlu terus berikhtiar dan berdoa bagi yang terbaik untuk negara-bangsa ini.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 24 Desember 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kesempatan yang Hilang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Oleh: Azyumardi Azra

Apa yang boleh kita kenang dengan tahun 2009 yang segera tenggelam ke balik lembaran sejarah? Sebaliknya, apa yang kita ingin lupakan 2009 dari kesadaran, karena begitu mengganggu. Kita boleh mengingat 2009 sebagai tahun Pemilu legislatif dan presiden yang meski berjalan lancar dan damai, tapi menyisakan banyak keganjilan (irregularities).

Atau, tewasnya gembong teroris Noordin M Top setelah sekian lama begitu licin bak belut lari dari kejaran Densus 88, sambil merekrut kader-kader. Tetapi, peristiwa semacam ini mungkin tidak lagi signifikan memengaruhi perjalanan republik pada 2010 dan selanjutnya.

Tetapi, bagaimana dengan kasus Antasari Azhar yang sejumlah media elektronik menyebutnya sebagai Telenovela Antasari. Atau, ironi Prita versus RS Omni Internasional dan peradilan; sebuah ketidakadilan yang justru dikukuhkan pengadilan; sehingga menimbulkan perlawanan dengan pengumpulan koin rupiah picisan secara spketakuler.

Rasa keadilan juga tercederai hukuman tak setimpal yang dijatuhkan pengadilan terhadap para pelaku kasus remeh-temeh. Pameo ‘maling ayam dihukum berat, sedangkan maling besar berkeliaran’, menemukan wujudnya yang paling kasat.

Atau, skandal ‘Buaya versus Cicak’ Polri versus KPK, atau tegasnya Susno Duadji, Kabareskrim Polri versus Bibit-Chandra, dua pimpinan KPK yang sempat dinonaktifkan tanpa bukti-bukti meyakinkan. Bahkan, ‘Tim Delapan’ yang semula mungkin diharapkan dapat menjerat kedua pimpinan KPK, justru menghasilkan temuan-temuan yang sulit diingkari, yang memaksa Presiden Yudhoyono menerbitkan keputusan pengaktifan mereka kembali. Lagi-lagi tekanan publik secara damai menggagalkan skandal sangat memalukan kita semua sebagai bangsa.

Lalu, ada lagi ‘Skandal Bail-Out Bank Century’, yang kini kian terungkap. Ibarat bola salju yang terus menggelinding,  snow-balling effects-nya terus membesar. Pengungkapan demi pengungkapan dan bantahan demi bantahan, yang bukan membuat masalah kian jelas, tapi justru membuat tanda tanya publik makin membesar. Terlepas dari apa pun akhirnya yang bisa dihasilkan Panitia Khusus DPR untuk Angket Bank Century, sementara itu pula kredibilitas dan bahkan legitimasi moral kepemimpinan nasional bisa kian terkikis.

Tahun 2009 boleh berlalu, tetapi bayang-bayang skandal Bank Century terus membuntuti; bahkan mungkin semakin kelam dan membenamkan para pelakunya ke dalam lubang tanpa dasar. Dan 2010 serta tahun-tahun berikutnya, bayang-bayang kelam tampaknya tidak bisa lenyap begitu saja dengan perjalanan waktu.

Di tengah semua perkembangan tidak menyenangkan itu, yang agaknya pasti, sebuah kesempatan telah hilang (losing opportunity) untuk membuat negara-bangsa ini lebih baik dengan cara yang lebih cepat tetapi bertanggung jawab. Momentum kesempatan itu tertimbun skandal Bank Century.

Perkembangan ini kebalikan dari euforia publik dalam dan luar negeri ketika Yudhoyono memenangkan Pilpres 2004. Koran terkemuka  The Asian Wall Street Journal , edisi 29 September 2004 merefleksikan euforia tersebut dengan menurunkan tajuk rencana ‘Indonesia’s Golden Opportunity’ yang memandang terpilihnya Yudhoyono sebagai presiden dalam pilpres langsung pertama 2004 sebagai ”kesempatan emas” bagi Indonesia untuk melangkah maju, mengejar ketinggalannya dari negara-negara Asia lainnya.

Kini masih bisakah ASWJ berbicara kembali tentang ‘Indonesia’s golden opportunity’ itu? Sebaliknya, berbagai media internasional, bahkan melihat skandal Bank Century telah memunculkan dampak-dampak negatif terhadap kinerja pemerintahan Yudhoyono-Boediono. Sehingga, yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya ‘Indonesia’s losing’ opportunity kesempatan yang hilang, karena terganggu berbagai masalah sampingan yang sangat mengganggu, khususnya skandal Bank Century.

Gejala kehilangan kesempatan itu juga terlihat ketika hampir tidak ada lagi pembicaraan tentang ‘Program 100 Hari’ pemerintahan Yudhoyono-Boediono, baik dari kalangan para menteri maupun lingkungan publik umumnya. Bahkan, masyarakat tidak lagi antusias atau skeptis atau tidak lagi peduli tentang program-program 100 hari yang semula dimaksudkan sebagai percepatan kemajuan Indonesia dalam berbagai bidang.

Memang, kata banyak pengamat ekonomi, jika kesempatan itu tidak direbut secara serius sekalipun, ekonomi Indonesia tetap tumbuh, walaupun tidak sebesar yang diharapkan. Bahkan, kata mereka, sekalipun pemerintah tidur, ekonomi Indonesia juga bakal tetap tumbuh. Apakah pandangan yang sedikit optimistis ini betul menjadi kenyataan? Pastilah harus disaksikan sepanjang 2010.

Lantas apa yang bisa kita harap dari 2010? Agaknya, kita harus mengencangkan sabuk pengaman, karena boleh jadi turbulensi politik bakal berkelanjutan. Jika itu terjadi, jelas pula perkembangan ekonomi Indonesia sedikit banyak juga terganggu–dan pada gilirannya, ekonomi yang tidak bertumbuh baik sebaliknya memengaruhi situasi politik. Ibarat lingkaran setan saja.

Karena itu, kita berharap, gonjang-ganjing politik yang sekarang tengah berlangsung tidak kian memburuk pada 2010 dan seterusnya. Meski mungkin ada ”skenario” pesimistis tentang politik Indonesia di hari-hari mendatang, sepatutnyalah semua pihak tetap berusaha menghindari terjadinya krisis politik yang dapat memakan biaya besar. Selebihnya, kita perlu terus berikhtiar dan berdoa bagi yang terbaik untuk negara-bangsa ini.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 24 Desember 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta