UIN Jakarta, Berita UIN OnlineUIN Syarif Hidayatullah Jakarta sangat peduli terhadap kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya mahasiswa asing yang berbeda keyakinan namun menempuh pendidikan di kampus yang saat ini ingin menuju World Calss University.

Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Zainun Kamaluddin Fakih mengungkapkan, pengaplikasian kerukunan umat begama sudah berjalan di UIN Jakarta, khususnya di Fakultas Ushuluddin. Bahkan hampir setiap tahun berbagai mahasiswa yang berbeda keyakinan menjadi mahasiswa UIN Jakarta.

“Kita secara aplikasinya di UIN sudah dilaksanakan juga, saya contohkan kita di UIN ini di Fakutas Ushuludin itu ada yang dari konghuchu sudah kita terima setiap tahun 15 orang dan ini sudah tahun ke 4,” ungkap Zainun saaat ditemui Berita UIN Online beberapa waktu lalu.

Hal ini tentunya menjadi contoh yang baik agar kerukunan umat beragama di Indonesia terhindar dari friksi yang mengatasnamakan suku, ras dan agama. “Bahkan ada dari khatolik sudah jadi doktor di UIN Jakarta yang setelah lulus mereka jadi pendeta dan pastur. Coba bayangkan apa kurangnya kita merealisasikan kerukunan antarumat beragama,” tambah Zainun.

Isu terkait dengan penerangan ataupun dakwah agama yang disampaikan kepada penganut agama lain tentang pendirian rumah ibadah juga dapat menjadi pemicu ketegangan. Seharusnya para tokoh agama di Indonesia tidak hanya mengambil kesempatan yang bersifat elitis terhadap setiap kasus. Sebenarnya hal ini merupakan langkah yang bagus dilakukan, namun hanya mampu bertahan dalam jangka waktu yang pendek.

“Saya sangat mengharapkan para tokoh-tokoh agama di indonesia tidak hanya semata-mata mengambil sifat-sifat kesempatan yang elitis terhadap setiap kasus, pendekatannya selalu seperti itu. Sebenarnya itu bagus untuk menyelesaikan persoalan ke masyarakat bawah,” papar Irfan Abu Bakar, Direkur CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pendirian komunitas keagamaan dengan menanamkan sifat kekeluargaan sangat penting dilakukan untuk meredahkan ketegangan. “Namun untuk jangka panjang seharusnya dibangun sifat-sifat kekeluargaan pada setiap komunitas keagamaan bahwa setiap orang itu membutuhkan rumah ibadah,” jelas Irfan menambahkan. (lrf/aw)