Auditorium FISIP, BERITA UIN ONLINEDalam rangka mengenang wafatnya Guru Besar Ilmu Sosial UIN Jakarta Prof. Dr. Bambang Pranowo, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta menyelenggarakan seminar Nasional bertajuk Islam Nusantara: Tantangan dan Prospek di Auditorium FISIP, Selasa (07/03/2018). Seminar yang diisi launching buku Islam Nusantara dalam Konteks menghadirkan dua pembicara, penulis buku Dr.Phil. Syafiq Hasyim dan budayawan Muhammad Sobary MA. Seminar dipandu peneliti Balitbang Kemenag RI Dr Muhammad Adlin Sila.

Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UIN Jakarta Dr. Dzuriyatun Thoyibah saat menyampaikan sambutan acar mengungkapkan seminar nasional bertemakan Islam Nusantara merupakan penghormatan terhadap almarhum Bambang Pranowo. Sebagai akademisi, almarhum Bambang merupakan akademisi yang disiplin dan tekun dalam mengkaji bidang ilmu yang dikajinya. “Almarhum merupakan guru bagi seluruh civitas akademik UIN Jakarta, khususnya FISIP, yang mengajarkan kedisiplinan dan ketekunan,” ujarnya Dzuriyatun.

Bukti kedisiplinan dan ketekunan almarhum, jelasnya, bisa dilihat dari sejumlah karya akademiknya yang produktif dan mendalam. Salah satunya, Memahami Islam Jawa, sebagai salah satu karya terbaik Bambang. Di buku ini, ia turut menantang pemilahan “santri-abangan” antropolog Clifford Geertz atas masyarakat Muslim Jawa yang cukup mendominasi wacana sosial, budaya, dan politik Indonesia.

Diketahui, Guru Besar Sosiologi Agama UIN Jakarta Prof. Dr. H.M. Bambang Pranowo meninggal dunia pada Jum’at, 5 Januari 2018 lalu di Jakarta. Bambang wafat setelah sempat dirawat beberapa saat karena sakit di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Semasa hidupnya, lelaki kelahiran Magelang 27 Agustus 1947 ini aktif dan produktif dalam melakukan sejumlah riset tentang Islam dan Masyarakat Jawa. Disertasi doktoralnya di Department of Anthropology and Sociology, Monash University, Australia (1985-1991), Creating Islamic Tradition in Rural Java menjadi penanda penting perhatiannya terhadap dinamika Islam dan Masyarakat Muslim di Jawa.

Dalam disertasi yang selanjutnya diterbitkan dalam edisi berbahasa Indonesia, Memahami Islam Jawa (2009), Bambang turut mengkritik pemilahan “santri-abangan” antropolog Clifford Geertz atas masyarakat Muslim Jawa yang cukup mendominasi wacana sosial, budaya, dan politik Indonesia. Riset etnografisnya mencatat, Islam di Jawa merupakan satu hal yang kompleks dan majemuk, sebuah sistem religiusitas yang tidak sekadar proses ‘mengada’ (state of being) melainkan proses ‘menjadi’ (state of becoming).

Selain Memahami Islam Jawa, almarhum Bambang juga mewariskan sejumlah karya akademik lain beurpa opini di berbagai media, artikel di berbagai jurnal ilmiah, dan sejumlah buku dengan tema yang menjadi concern keilmuannya seperti Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial (1988), Islam Faktual: Antara Tradisi Dan Relasi Kuasa (1998), Runtuhnya Dikotomi Santri-Abangan: Refleksi Sosiologis Atas Perkembangan Islam Di Jawa Pasca 1965 (2001), dan Orang Jawa Jadi Teroris (2011). (farah/wildan/zm)