Kemuliaan di Balik Hidup Sederhana

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

HIDUP sederhana tidak be­rarti miskin, pelit, dan menyiksa diri. Sikap ini muncul justru dari pribadi yang kaya hati, kuat mengendalikan diri, dan peduli terhadap sesama.

Orang yang biasa hidup sederhana akan lebih jernih memandang dan membaca dunia sekitar karena melihatnya dengan hati yang lebih bening, tidak terhalang aksesori untuk memancing pujian orang. Dalam bentuk bangunan fisik, bangunan sederhana yang amat anggun dan sangat magnetis tentu saja Kakbah. Sejak dari warna, bentuk hingga isinya serba sederhana, tetapi di balik kesederhanaannya itu Kakbah menyimpan sejarah dan cita-cita sangat mulia yang diwariskan Nabi Ibrahim untuk mengajak umat manusia agar mengenali siapa dirinya.

Bahwa seluruh manusia itu pada dasarnya bersaudara.Semuanya berasal dari Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Tokoh-tokoh besar penggubah jalan sejarah dan pembangun peradaban besar umumnya hidup secara sederhana. Yang besar adalah jiwanya, menjulang tinggi cita-cita dan nalar kreatifnya. Sampai sampai soal makan, pakaian, dan tempat tinggal tidak dipikirkan kecuali sebatas menjaga kesehatan dan keamanan dirinya untuk berkarya. Tokoh yang masih mudah dikenang, di luar jajaran Nabi, adalah Mahatma Gandhi, Ayatullah Khumaini, dan Nelson Mandela.

Mereka begitu sederhana gaya hidupnya. Kita jadi prihatin dan merenung, mengapa politisi dan pejabat tinggi kita terjebak ke dalam alam pikir dan gaya hidup yang dangkal? Yang menempatkan gaya hidup konsumtif dan kekayaan materi sedemikian tingginya sehingga tidak segan-segan melakukan korupsi yang berakibat pada kehancuran martabat negara, bangsa, rakyat, dan dirinya sendiri. Sikap sederhana muncul jika seseorang lebih menghargai kualitas hidup yang lebih dalam, bukannya pada kemasan atau gaya hidup yang lebih menampakkan kulit luar saja.

Orang yang sangat mementingkan kemasan luar bisa jadi tengah mengalami krisis kepercayaan diri. Atau memang sudah dari dulu terbiasa hidup serbamewah dan glamor. Bagi seorang pemimpin sangat penting membiasakan hidup sederhana agar tidak tercipta jarak yang menganga dengan rakyat. Yang lebih penting dari hidup sederhana adalah pada perilaku dan tutur katanya. Bisa jadi seseorang melimpah kekayaannya, tetapi itu tidak membuatnya silau dan ia tidak menjadi tawanan dari kekayaannya.

Harta adalah instrumen atau pelayan yang mesti mengabdi kepada pemiliknya, jangan terbalik. Ada orang berpendapat, sebagian masyarakat kita sudah termanjakan oleh gaya hidup konsumtif dengan biaya mahal sejak masa Orde Baru. Bangunan hotel, restoran, mal, dan showroom mobil selalu bermunculan yang kemewahannya jauh mengalahkan bangunan sekolah, universitas, dan gedung kesenian.

Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai pangsa pasar yang sangat subur bagi produk telepon genggam dan parfum produk mutakhir. Di Jakarta Selatan terdapat lebih dari 10 mal dan pusat-pusat belanja yang cukup mewah. Itu pun selalu ramai dikunjungi orang. Ketika terjadi krisis ekonomi dan lingkungan, terutama akibat banjir dan macet, keluarga kelas menengah kita sangat mudah berkeluh kesah dan hampir putus asa bagaimana mengatasinya.

Kita memang sudah begitu lama hidup dimanjakan oleh berbagai fasilitas pembangunan mewah warisan Orde Baru meskipun dari uang utang luar negeri sehingga berat kalau diturunkan gaya hidupnya. Yang berbahaya adalah jika mental ini menular kepada anak-anak kita. Pada generasi awal, yaitu generasi pejuang yang mengadu nasib merintis karier di kota besar, mereka masih memiliki ingatan atau mental database bagaimana hidup susah.

Namun generasi baru yang terlahir di masa Orde Baru yang merasa serba berkecukupan, lalu sekarang situasi memburuk, mental mereka tidak cukup kuat menghadapi kerasnya kehidupan. Mungkin faktor ini ikut mendorong untuk memilih jalan pintas tanpa memperhatikan halal haram. Lalu orang tua pun ingin melestarikan status quo pada wilayah comfort zone bagi dirinya dan keluarganya sehingga, lagi-lagi, tidak segan-segan melakukan korupsi. Sesungguhnya gaya hidup sederhana sudah dicontohkan oleh para pejuang pendiri bangsa.

Dulu pun pernah pula semasa Pak Harto muncul seruan hidup sederhana. Namun rupanya sekadar seruan, tidak terwujud dalam pelaksanaan. Di lingkungan pendidikan pun terjadi krisis pendidikan character building. Ambisi untuk lulus ujian nasional menjadi agenda utama setiap sekolah dengan mengurangi perhatian pada pengembangan bakat dan pendidikan karakter.

Padahal, sebuah bangsa akan bangkit dan maju kalau pemerintah dan masyarakatnya kompak berani hidup sederhana, lalu diikat oleh semangat dan cita-cita untuk membangun kebanggaan sebagai sebuah bangsa dan negara sebagaimana yang dicontohkan oleh peristiwa historis Sumpah Pemuda 1928. Dari sisi materi, mereka sederhana hidupnya, tetapi sangat kaya dengan imajinasi, cita-cita mulia, dan altruistis, yaitu perasaan bahagia dan bermakna hidupnya dengan banyak memberi, bukannya mengambil atau menerima belas kasih orang.(*)