Kembangkan Jadi Institut, STID Mohammad Natsir Silaturrahim ke UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FITK, BERITA UIN Online–Guna mengembangkan kampus dari sekolah tinggi menjadi institut, Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) melakukan silaturrahim ke Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Prodi Mu’amalat (Ekonomi Syariah) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH).

Rombongan STID dipimpin langsung Ketua Bidang Pendidikan DDII, Dr. Mohammad Noer dan diterima langsung Ketua Prodi MPI Drs. Rusydi Zakaria MPhil, M.Ed di ruang kerjanya, Gedung FITK Lt.5, Jum’at (31/5/2013).

Sementara di FSH, rombongan di terima Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. KH. Mukri Aji, MA, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan JM. Muslimin, PhD dan Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Drs. Sadeli di Aula Madya FSH pada hari yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, Noer menyampaikan, bahwa STID Mohammad Natsir berencana membuka sejumlah prodi baru, antara lain Prodi MPI, Ekonomi Islam dengan konsentrasi Zakat, Sedekah, dan Wakaf, dan Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Usaha tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan pengembangan STID menjadi Institut Da’wah Mohammad Natsir. “Kita melakukan studi banding ini untuk belajar dan mengetahui silabus serta bagaimana proses pembukaan prodi-prodi tersebut UIN Jakarta,” ujarnya.

Menurutnya, STID Mohammad Natsir sebagai bagian sayap strategis DDII dalam mengembangkan da’wah, ingin mengembangkan da’wah melalui dunia pendidikan. “Kita sekarang memahami da’wah secara luas. Apalagi DDII punya program pengiriman da’i-da’i ke daerah terpencil, maka pendidikan adalah hal utama yang harus dikembangkan,” sambung dia.

Ia menambahkan, untuk pembukaan prodi baru ini, selain studi banding UIN Jakarta, pihaknya juga telah melakukan silaturrahim ke Kementerian Agama (Kemenag), Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, ormas-ormas Islam dan sejumlah pakar.

Dalam kesempatan itu, Ketua Bidang Pendidikan Tinggi DDII, Dr. Imam Zamroji, menambahkan, semula DDII menyerahkan urusan pendidikan kepada ormas-ormas Islam yang lain.

“Tapi mengingat kebutuhan dai-dai kita yang lebih profesional dan ahli dalam bidang keilmuan, maka kita berpikir perlu sebuah lembaga pendidikan tinggi untuk mereka,” katanya.

Sementara Rusydi Zakaria menyatakan, pihaknya menyambut baik langkah STID Mohammad Natsir mengembangkan diri menjadi institut. “Saran saya, sebaiknya STID membuka Prodi MP dulu untuk membekali dai-dainya itu. Karena dari sini diharapkan lahir para pemikir dan manajer lembaga pendidikan,” terangnya.

Pada  kesempatan terpisah, Muslimin mengatakan, pembukaan konsentrasi baru di STID sebaiknya menggunakan nomenklatur yang lebih marketable, sehingga menarik minat masyarakat untuk belajar. “Itu nanti bisa menjadi nilai pembeda dengan konsentrasi yang sudah ada,” katanya.

Selain itu, sambung dia, perlu dibuat pula distingsi dan keunggulan alumni dari Prodi Ekonomi Islam yang dimiliki Institut Dakwah Mohammad Natsir. “Inilah yang menjadi nilai lebih dibanding dengan kampus lain,” tandasnya. (D Antariksa/ Saifudin)