Kemajuan Bangsa Terkait Pengelolaan Sistem Pendidikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone







 

Reporter: Tursina Istibaraq

 

Gedung PSQ, UINJKT Online – Kemajuan suatu bangsa terkait erat dengan pengelolaan sistem pendidikannya. Karut marutnya kehidupan publik bangsa kita juga tak lepas dari kerancuan dalam sistem pendidikan yang tampaknya tidak pernah ditangani secara serius.


Demikian disampaikan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Dr Ary Muchtar Pedju dalam Sarasehan bertema ”Menggagas Pendidikan Nasional Visioner” (In Memoriam Prof Dr Mastuhu Med, guru besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta) yang digelar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) dan Lentera Hati, Senin (20/10) di gedung PSQ Ciputat.

 

Menurut Ary, persoalan-persoalan bangsa penyelesaiannya, tak bisa tidak, harus dimulai dari penataan sistem pendidikan. Paradigma pendidikan yang berjalan selama ini harus dibongkar dan diganti dengan paradigma baru, yang diberi nama Sistem Pendidikan Nasional Visioner atau SPNV.

 

Untuk itu, Prof Dr Mastuhu MEd telah menulis buku berjudul Sistem Pendidikan Nasional Visioner. Dalam buku tersebut, lanjut Ary, penulis menguraikan bagaimana sistem pendidikan seharusnya dikelola, apa karakter-karakter yang harus dimiliki oleh mereka yang terlibat dalam kerja pendidikan. ”Yang tak kalah penting adalah bagaimana persoalan-persoalan yang muncul dalam pengelolaan pendidikan itu seharusnya disikapi,” katanya.

 

Sementara itu, guru besar pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Ana Suhaenah mengenal sosok Mastuhu sebagai seorang yang memilih hidup secara sederhana. Dalam perjalanan hidup dan karirnya dilakoni dengan ikhlas dan penuh kejujuran. ”Tutur bahasanya halus, tak pernah terdengar nada tinggi dalam diskusi, maupun berkomunikasi baik dengan mahasiswa, kolega atau lawan bicaranya,” ujarnya.  

 

Prof Dr Mastuhu wafat pada 20 Oktober 2007 di RSCM karena sakit. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.*

 

Kemajuan Bangsa Terkait Pengelolaan Sistem Pendidikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone







 

Reporter: Tursina Istibaraq

 

Gedung PSQ, UINJKT Online – Kemajuan suatu bangsa terkait erat dengan pengelolaan sistem pendidikannya. Karut marutnya kehidupan publik bangsa kita juga tak lepas dari kerancuan dalam sistem pendidikan yang tampaknya tidak pernah ditangani secara serius.


Demikian disampaikan Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Dr Ary Muchtar Pedju dalam Sarasehan bertema ”Menggagas Pendidikan Nasional Visioner” (In Memoriam Prof Dr Mastuhu Med, guru besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta) yang digelar Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) dan Lentera Hati, Senin (20/10) di gedung PSQ Ciputat.

 

Menurut Ary, persoalan-persoalan bangsa penyelesaiannya, tak bisa tidak, harus dimulai dari penataan sistem pendidikan. Paradigma pendidikan yang berjalan selama ini harus dibongkar dan diganti dengan paradigma baru, yang diberi nama Sistem Pendidikan Nasional Visioner atau SPNV.

 

Untuk itu, Prof Dr Mastuhu MEd telah menulis buku berjudul Sistem Pendidikan Nasional Visioner. Dalam buku tersebut, lanjut Ary, penulis menguraikan bagaimana sistem pendidikan seharusnya dikelola, apa karakter-karakter yang harus dimiliki oleh mereka yang terlibat dalam kerja pendidikan. ”Yang tak kalah penting adalah bagaimana persoalan-persoalan yang muncul dalam pengelolaan pendidikan itu seharusnya disikapi,” katanya.

 

Sementara itu, guru besar pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof Dr Ana Suhaenah mengenal sosok Mastuhu sebagai seorang yang memilih hidup secara sederhana. Dalam perjalanan hidup dan karirnya dilakoni dengan ikhlas dan penuh kejujuran. ”Tutur bahasanya halus, tak pernah terdengar nada tinggi dalam diskusi, maupun berkomunikasi baik dengan mahasiswa, kolega atau lawan bicaranya,” ujarnya.  

 

Prof Dr Mastuhu wafat pada 20 Oktober 2007 di RSCM karena sakit. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak.*