Kelas Menengah Muslim Indonesia (1)

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pembicaraan publik tentang ‘kelas menengah’ Indonesia meningkat menjelang akhir 2011. Dalam berbagai diskusi dan pemberitaan media terungkap, jumlah kelas menengah Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah mereka kini diperkirakan atau bahkan lebih dari separuh jumlah total penduduk Indonesia-sekitar 130-140 juta orang.

Apa ukuran seseorang atau satu keluarga tertentu termasuk kelas menengah (middle class)? Secara sederhana, ukurannya adalah perbelanjaan per kapita sekitar 5-20 dolar AS (Rp 45 ribu-1,8 juta) per hari. Sebaliknya, mereka dengan pendapatan kurang dari jumlah itu, apalagi cuma dua dolar per hari, termasuk kelas bawah (lower class), tegasnya bahkan miskin.
Dalam sebuah ukuran lain, sebuah keluarga disebut termasuk kelas menengah jika memiliki gelar sarjana, pekerjaan tetap (apakah ayah atau ibu atau kedua-duanya) dengan pemasukan tetap, rumah dan kendaraan (meski secara cicilan), serta sejumlah tabungan. Ukuran tambahan lain; mampu membiayai liburan dengan segenap anggota keluarga minimal sekali dalam setahun.

Apakah Anda atau keluarga Anda termasuk golongan kelas menengah? Silakan dihitung-hitung dan dirasakan sendiri. Tapi, hampir bisa dipastikan, sebagian besar pelanggan dan pembaca Harian Republika ini termasuk kelas menengah; apakah kelas menengah atas (upper middle class), kelas menengah tengah (middle middle class), atau kelas menengah bawah (lower middle class). Para pelanggan dan pembaca Republika jelas sudah memiliki sedikit atau banyak kelebihan penghasilan sehingga mampu melanggan koran ini.

Maka, jika berbicara tentang pertumbuhan kelas menengah Indonesia, mau tidak mau kita harus berbicara tentang peningkatan jumlah kelas menengah Muslim negeri ini. Hal ini sama sebangun dengan pembicaraan tentang kelas bawah dan miskin di negeri ini, yang hampir bisa dipastikan pula sebagian besarnya adalah kaum Muslim. Inilah ‘takdir’ demografis Indonesia, yang sekitar 88,2 persen penduduknya beragama Islam; sehingga ada orang yang berkata, jika batu dilemparkan ke tengah kumpulan orang, ‘pastilah’ yang terkena lemparan itu orang Muslim.

Karena itu, penerima (beneficiaries)-positif atau negatif-perkembangan ekonomi negeri ini adalah kaum Muslimin. Memang sering dikatakan orang, ekonomi dan kekayaan Indonesia dikuasai segelintir konglomerat atau tycoon, yang termasuk ke dalam 20 atau 40 orang terkaya Indonesia, yang sebagian besarnya adalah non-Muslim dan sekaligus merupakan warga keturunan. Tanpa harus bersikap rasis, masih perlu waktu bagi kian pertumbuhan jumlah konglomerat/tycoon Muslim.

Terlepas dari itu, pada lapisan kelas menengah jelas kaum Muslim-sedikitnya dari segi jumlah-merupakan pihak yang paling banyak terkena, apakah jika ekonomi Indonesia membaik, atau sebaliknya merosot. Sekali lagi, meski masih ada sekitar 30 sampai 50 juta warga miskin di negeri ini-yang umumnya Muslim-secara kasat mata orang juga bisa melihat pertumbuhan kelas menengah Muslim sedikitnya dalam tiga dasawarsa terakhir.

Pertumbuhan kelas menengah Muslim bermula dengan tersedianya pendidikan-khususnya pendidikan tinggi agama Islam (PTAI). Inilah salah satu buah kemerdekaan karena sepanjang masa penjajahan Belanda sampai dasawarsa pertama kemerdekaan, terdapat hanya dua pendidikan tinggi di negeri ini; sekolah tinggi teknik (yang kemudian menjadi ITB) di Bandung dan STOVIA (Sekolah Tinggi Kedokteran yang kemudian menjadi UI) di Jakarta.

Berkat kemerdekaan, sejak akhir 1950-an terjadi ekspansi kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak bangsa pada berbagai tingkatannya. Pada tingkat pendidikan tinggi, di kalangan kaum Muslim ini ditandai berdirinya PTAIN di Yogyakarta dan ADIA di Jakarta, yang pada 1960 berubah menjadi IAIN. Sejak saat itu sampai awal 1970-an berdiri pula IAIN di berbagai ibu kota provinsi dengan fakultas-fakultas cabangnya (yang pada 1996 menjadi STAIN) di kota-kota tingkat kabupaten.

Pada periode yang sama, perguruan tinggi umum (PTU) juga berdiri di hampir seluruh ibu kota provinsi. PTU-PTU ini juga memberikan akses lebih besar kepada putri-putri kaum Muslim untuk mempelajari bidang ilmu. Pada tingkat sarjana lengkap (Drs), PTU juga memberikan tempat bagi para sarjana muda (BA) lulusan IAIN untuk melanjutkan studinya.

Hasil ekspansi pendidikan tinggi ini jelas sudah. Sejak akhir 1960-an dan selanjutnya sampai sekarang, terjadilah apa yang disebut almarhum Nurcholish Madjid sebagai ‘panen sarjana’ kaum Muslimin Indonesia. Jumlah sarjana muda (BA) dan sarjana lengkap (Drs/Dra), apakah lulusan PTAI ataupun PTU (baik negeri maupun swasta), selalu bertambah dalam jumlah berlipat ganda dari tahun ke tahun. Dan, mereka ini memunculkan berbagai perkembangan yang bahkan tidak pernah terbayangkan pada masa sebelumnya, baik pada lingkungan umat Islam sendiri maupun negara-bangsa secara keseluruhan.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, Kamis (29/12).