Kelas Menengah Muslim Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Salah satu gejala menarik dalam perkembangan masyarakat-masyarakat Muslim dewasa ini adalah terus berlanjutnya pertumbuhan dan peningkatan peran kelas menengah Muslim. Mereka menjadi salah satu faktor terpenting tidak hanya dalam pertumbuhan lembaga-lembaga baru Islam; tetapi juga dalam perubahan-perubahan praktik-praktik keagamaan, sosial, budaya, dan juga politik di berbagai masyarakat dan negara Muslim.

Pentingnya kelas menengah Muslim itu, misalnya, tecermin dalam ungkapan Vali Nasr, guru besar keturunan Iran yang kini mengajar di Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University, Amerika Serikat. Nasr yang sebelumnya menghasilkan buku The Shi’a Revival , menyebut kelas menengah Muslim sebagai ‘kekuatan keberuntungan’. Argumen ini menjadi judul utama bukunya Forces of Fortune: The Rise of the New Muslim Middle Class and What It Will Mean for Our World (New York: 2009).

Nasr menggunakan istilah ‘kelas menengah Muslim baru’ yang bagi saya mengisyaratkan adanya ‘kelas menengah Muslim lama’. Tetapi, Nasr tidak menjelaskan perbandingan dan perbedaan antara kedua kelompok kelas menengah Muslim tersebut. Namun, dalam pandangan saya, secara historis dalam masyararakat-masyarakat Muslim pada berbagai kurun sejarah selalu terdapat kelas menengah yang diwakili, misalnya, oleh lapisan tertentu di kalangan para ulama dan guru, pedagang, dan seniman. Karakter mereka ini pada dasarnya berbeda dengan ‘kelas menengah Muslim’ modern-kontemporer, yang memiliki kecenderungan sikap politis dan bahkan juga konsumerisme, seperti dilihat Nasr.

Seperti diungkapkan Nasr, konsumerisme menjadi salah satu karakter menonjol kelas menengah Muslim baru di negara Muslim yang mengalami economic booming seperti UAE (Abu Dhabi dan Dubai khususnya), Arab Saudi, dan Iran. ‘Krisis’ ekonomi pada akhir 2008 yang bermula di AS dan selanjutnya di Dubai awal 2010, ternyata tidak berdampak banyak terhadap gaya hidup kelas menengah Muslim baru; mereka umumnya tetap mempertahankan gaya hidup konsumtif. Hemat saya, ke dalam daftar ini dapat juga dimasukkan Indonesia, di mana kelas menengah Muslim baru juga menunjukkan gejala konsumerisme.

Tetapi, itu hanya sebagian saja dari keseluruhan kisah kelas menengah baru Muslim. Cukup banyak di antara mereka justru melanjutkan peningkatan keagamaan dan spiritualitas yang dalam istilah populer di Indonesia kita kenal sebagai ‘santrinisasi’. Berbarengan dengan tumbuhnya gaya hidup mereka yang relatif khas itu, ‘santrinisasi’ pada gilirannya juga menumbuhkan gejala yang kian lazim disebut sebagai ‘komodifikasi Islam’. Lagi-lagi dalam konteks kelas menengah Muslim baru ini terlihat, misalnya, dari pergi naik haji atau umrah dengan paket khusus, atau busana Muslim yang fashionable dan mahal.

Cepat atau lambatnya pertumbuhan kelas menengah dalam masyarakat Muslim tertentu sangat bergantung pada realitas politik, ekonomi, dan sosial. Karena itu, bisa dipastikan, sistem politik otoritarianisme yang dapat berkombinasi dengan pertumbuhan ekonomi yang lamban–seperti dapat disaksikan di banyak negara Muslim lain di Timur Tengah dan Afrika mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan kelas menengah. Sebaliknya, kelas menengah dapat tumbuh pelahan tapi pasti di tengah perbaikan ekonomi, meski rezim yang berkuasa sangat otoriter. Dan, kelas menengah Muslim yang tumbuh itu bisa pula bersikap apolitis karena tergantung dan dikooptasi rezim penguasa, seperti bisa disaksikan di banyak negara Muslim Timur Tengah, dan juga Malaysia. Tetapi, di negara Muslim lainnya semacam Indonesia, sepanjang sejarah kebangkitannya, kelas menengah Muslim baru semula bersikap apolitis vis-a-vis rezim Soeharto; tetapi dengan segera mereka menjadi salah satu pilar utama gerakan menuju demokratisasi Indonesia.

Lebih daripada itu, pengalaman Indonesia dengan kelas menengah Muslim baru mengandung banyak nuansa. Misalnya saja, dalam dua dasawarsa terakhir, Indonesia mengalami kemunculan lembaga-lembaga baru sejak dari perbankan syariah, BMT, BPRS, Takaful, sekolah elite Islam, pesantren urban, lembaga filantropi dan banyak lagi. Tidak ragu lagi, lembaga-lembaga ini muncul dan berkembang berkat dukungan kekuatan ekonomi, sosialdan kultural kelas menengah Muslim baru yang terus mengalami peningkatan semangat dan antusiasme keagamaan.

Tetapi, masih banyak agenda yang juga menjadi tanggung jawab kelas menengah Muslim baru ini. Mereka tidak cukup hanya sibuk dengan enjoyment of life bagi diri mereka sendiri. Tetapi semestinya meningkatkan peran sosial mereka dalam pemberantasan berbagai ‘penyakit’ bangsa yang masih merajalela semacam korupsi dan kemiskinan-kebodohan. Jika, kelas menengah Muslim baru lebih aktif dalam memainkan peran ini, kita tidak perlu menunggu terlalu lama bagi terwujudnya negara-bangsa Indonesia yang bebas atau setidaknya langka dari korupsi dan kemiskinan-kebodohan.

Kelas Menengah Muslim Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Salah satu gejala menarik dalam perkembangan masyarakat-masyarakat Muslim dewasa ini adalah terus berlanjutnya pertumbuhan dan peningkatan peran kelas menengah Muslim. Mereka menjadi salah satu faktor terpenting tidak hanya dalam pertumbuhan lembaga-lembaga baru Islam; tetapi juga dalam perubahan-perubahan praktik-praktik keagamaan, sosial, budaya, dan juga politik di berbagai masyarakat dan negara Muslim.

Pentingnya kelas menengah Muslim itu, misalnya, tecermin dalam ungkapan Vali Nasr, guru besar keturunan Iran yang kini mengajar di Fletcher School of Law and Diplomacy, Tufts University, Amerika Serikat. Nasr yang sebelumnya menghasilkan buku The Shi’a Revival , menyebut kelas menengah Muslim sebagai ‘kekuatan keberuntungan’. Argumen ini menjadi judul utama bukunya Forces of Fortune: The Rise of the New Muslim Middle Class and What It Will Mean for Our World (New York: 2009).

Nasr menggunakan istilah ‘kelas menengah Muslim baru’ yang bagi saya mengisyaratkan adanya ‘kelas menengah Muslim lama’. Tetapi, Nasr tidak menjelaskan perbandingan dan perbedaan antara kedua kelompok kelas menengah Muslim tersebut. Namun, dalam pandangan saya, secara historis dalam masyararakat-masyarakat Muslim pada berbagai kurun sejarah selalu terdapat kelas menengah yang diwakili, misalnya, oleh lapisan tertentu di kalangan para ulama dan guru, pedagang, dan seniman. Karakter mereka ini pada dasarnya berbeda dengan ‘kelas menengah Muslim’ modern-kontemporer, yang memiliki kecenderungan sikap politis dan bahkan juga konsumerisme, seperti dilihat Nasr.

Seperti diungkapkan Nasr, konsumerisme menjadi salah satu karakter menonjol kelas menengah Muslim baru di negara Muslim yang mengalami economic booming seperti UAE (Abu Dhabi dan Dubai khususnya), Arab Saudi, dan Iran. ‘Krisis’ ekonomi pada akhir 2008 yang bermula di AS dan selanjutnya di Dubai awal 2010, ternyata tidak berdampak banyak terhadap gaya hidup kelas menengah Muslim baru; mereka umumnya tetap mempertahankan gaya hidup konsumtif. Hemat saya, ke dalam daftar ini dapat juga dimasukkan Indonesia, di mana kelas menengah Muslim baru juga menunjukkan gejala konsumerisme.

Tetapi, itu hanya sebagian saja dari keseluruhan kisah kelas menengah baru Muslim. Cukup banyak di antara mereka justru melanjutkan peningkatan keagamaan dan spiritualitas yang dalam istilah populer di Indonesia kita kenal sebagai ‘santrinisasi’. Berbarengan dengan tumbuhnya gaya hidup mereka yang relatif khas itu, ‘santrinisasi’ pada gilirannya juga menumbuhkan gejala yang kian lazim disebut sebagai ‘komodifikasi Islam’. Lagi-lagi dalam konteks kelas menengah Muslim baru ini terlihat, misalnya, dari pergi naik haji atau umrah dengan paket khusus, atau busana Muslim yang fashionable dan mahal.

Cepat atau lambatnya pertumbuhan kelas menengah dalam masyarakat Muslim tertentu sangat bergantung pada realitas politik, ekonomi, dan sosial. Karena itu, bisa dipastikan, sistem politik otoritarianisme yang dapat berkombinasi dengan pertumbuhan ekonomi yang lamban–seperti dapat disaksikan di banyak negara Muslim lain di Timur Tengah dan Afrika mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan kelas menengah. Sebaliknya, kelas menengah dapat tumbuh pelahan tapi pasti di tengah perbaikan ekonomi, meski rezim yang berkuasa sangat otoriter. Dan, kelas menengah Muslim yang tumbuh itu bisa pula bersikap apolitis karena tergantung dan dikooptasi rezim penguasa, seperti bisa disaksikan di banyak negara Muslim Timur Tengah, dan juga Malaysia. Tetapi, di negara Muslim lainnya semacam Indonesia, sepanjang sejarah kebangkitannya, kelas menengah Muslim baru semula bersikap apolitis vis-a-vis rezim Soeharto; tetapi dengan segera mereka menjadi salah satu pilar utama gerakan menuju demokratisasi Indonesia.

Lebih daripada itu, pengalaman Indonesia dengan kelas menengah Muslim baru mengandung banyak nuansa. Misalnya saja, dalam dua dasawarsa terakhir, Indonesia mengalami kemunculan lembaga-lembaga baru sejak dari perbankan syariah, BMT, BPRS, Takaful, sekolah elite Islam, pesantren urban, lembaga filantropi dan banyak lagi. Tidak ragu lagi, lembaga-lembaga ini muncul dan berkembang berkat dukungan kekuatan ekonomi, sosialdan kultural kelas menengah Muslim baru yang terus mengalami peningkatan semangat dan antusiasme keagamaan.

Tetapi, masih banyak agenda yang juga menjadi tanggung jawab kelas menengah Muslim baru ini. Mereka tidak cukup hanya sibuk dengan enjoyment of life bagi diri mereka sendiri. Tetapi semestinya meningkatkan peran sosial mereka dalam pemberantasan berbagai ‘penyakit’ bangsa yang masih merajalela semacam korupsi dan kemiskinan-kebodohan. Jika, kelas menengah Muslim baru lebih aktif dalam memainkan peran ini, kita tidak perlu menunggu terlalu lama bagi terwujudnya negara-bangsa Indonesia yang bebas atau setidaknya langka dari korupsi dan kemiskinan-kebodohan.