Kekayaan Laut Indonesia 6 Kali APBN

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, BERITA UIN Online – Meskipun Indonesia merupakan negara yang kaya laut, tapi potensi kelautannya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh bangsa Indonesia, terutama oleh pemerintah.

Menurut Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI) Dr. Yulius Paonganan, M.Sc, potensi laut Indoensia mencapai enam kali lipat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ini potensi yang sangat besar.

“Total potensi ekonomi maritim Indonesia sangat besar. Diperkirakan mencapai Rp 7.200 triliun per tahun, atau enam kali lipat dari APBN 2011 (Rp 1.299 triliun) dan satu setengah kali Product Domestic Bruto (PDB) saat ini,”ujar Yulius pada seminar bertajuk “Menggagas Maritime Policy di Negeri Bahari” di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, Kamis (14/4).

Dijelaskannya, potensi kelautan yang begitu besar pada dasarnya dapat mendorong pembukaan lapangan kerja. Namun, lantaran tidak dikelola dengan baik, maka hasilnya pun minim. “Ditaksir lapangan kerja yang tersedia sekitar 30 juta orang,” imbuhnya.

Terkait dengan hal itu, aku Yulius, pihaknya telah melakukan road show guna menyosialisasikan potensi maritim laut Indonesia. “Seminar ini bertujuan untuk membuka cakwarawala pemikiran mahasiswa, sehingga akan lahir pemuda-pemuda yang bervisi maritim,” tambahnya.

Sementara Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat mengatakan, UIN Jakarta terus berbenah dan mengembangkan kajian-kajian yang dibutuhkan dunia saat ini. Karena itu pula, UIN Jakarta membuka berbagai program studi guna menjawab kebutuhan tersebut.

“Di UIN Jakarta ada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) dengan tujuan agar umat Islam bisa sehat dan terjaga kesehatannya, ada juga Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), agar umat Islam mampu memanej perekonomian bangsa ini dengan lebih baik, dan ada juga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), agar umat Islam mampu mengetahui fenomena sosial budaya bangsa ini. Masalah kelautan ini adalah bagian dari studi mata kuliah sejarah di FISIP,”katanya.

Menurutnya, pendirian dan pembukaan program studi baru itu sebagai bentuk elaborasi teologis dan logis yang menandakan bahwa tidak ada pemisahan ilmu umum dan agama.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) TNI Soeparno yang yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Laksma TNI Desi Albert Mamahit, M.Sc, berharap seminar ini dapat menghasilkan ide-ide yang komplementatif dalam membangun kelautan dan mahasiswa dapat diajak untuk membangun negara maritim secara komprehensif.

“Kemampuan kelautan di perairan nasional menjadi sangat signifikan dengan sumber daya alam yang besar dan harus diamalkan dan lindungi untuk kepentingan nasional dalam rangka memakmurkan rakyat, bukan untuk kepentingan pihak lain,”tandasnya. (Furqan)