Direktur SPs UIN Jakarta Prof Dr Masykuri Abdillah membuka Workshop Percepatan Studi bagi para mahasiswa program Doktor di Hotel Sahira, Bogor, pada 30-31 Oktober 2015.  Workshop diharap membantu para mahasiswanya menyelesaikan studi secara tepat waktu.

Direktur SPs UIN Jakarta Prof Dr Masykuri Abdillah membuka Workshop Percepatan Studi bagi para mahasiswa program Doktor di Hotel Sahira, Bogor, pada 30-31 Oktober 2015. SPs UIN Jakarta berkomitmen mendorong para mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu.

Bogor, BERITA UIN Online – Untuk mengejar target program “5.000 Doktor”, Sekolah Pascasarjana (SPs) Jakarta berupaya membantu para mahasiswanya menyelesaikan studi secara tepat waktu. Salah satunya melalui Workshop Percepatan Studi bagi para mahasiswa program Doktor tingkat akhir.
Workshop digelar di Hotel Sahira, Bogor, pada 30-31 Oktober 2015 dan diikuti oleh sedikitnya 21 mahasiswa Program Doktor penerima beasiswa Kementerian Agama tahun angkatan 2014. Mereka adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menulis disertasi.
Workshop percepatan studi dibuka Direktur SPs UIN Jakarta Prof Dr Masykuri Abdillah serta diisi dua pemateri utama, yakni Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Prof Dr Atho Mudzhar dan Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Rochman Achwan. Turut pula hadir Ketua Program Doktor Prof Dr Didin Saepuddin dan Ketua Program Magister Dr JM Muslimin.
Seusai tema, workshop percepatan studi kali ini lebih difokuskan pada pendalaman metodologi penelitiandalam penulisan disertasi. Hal itu penting mengingat penelitian merupakan salah satu metode untuk mencari dan menemukan hal-hal baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan, baik secara teoritis maupun praktis.
“Pembahasan mengenai metodologi penelitian selain untuk mempercepat studi mahasiswa, juga membantu pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, dalam menyukseskan program 5.000 Doktor di seluruh Indonesia,” kata Masykuri.
Atho Mudzhar mengatakan, selama ini masih ditemukan adanya kesalahan-kesalahan penulisan tesis atau disertasi. Kesalahan meliputiaspek penggunaan metode penelitian, laporan hasil penelitian dan penulisan, dan bahkan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah.
“Saya sering menjadi pembimbing dan penguji. Saya melihat ada sekian banyak kesalahan penulisan maupun metode. Nah, saya berharap dengan kajian seperti ini tidak ada lagi mahasiswa program Doktor yang salah menulis dan melaporkan hasil penelitian,” jelasnya.
Secara umum, menurut Ketua Senat UIN Jakarta tersebut, sering ditemukan adanya pembahasan yang cenderung melebar atas hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa. Dalam penelitian sejarah misalnya, pembatasan tersebut penting agar penelitian lebih fokus. Pembatasan masalah bukan semata pada tataran konsep, melainkan juga tempat dan waktu.
Workshop selain menyajikan sesi materi juga diskusi atas hasil penelitian mahasiswa, baik berupa proposal maupun penulisan akhir (laporan). Pada sesi kedua ini peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dengan berbagai bidang peminatan (konsentrasi) studi. (NS)

Share This