Keharuan, Warnai Wisuda Sarjana Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

 

Secercah matahari pagi itulah gambaran semangat para wisudawan/wati yang pada pagi hari itu tengah asyik mengikuti acara wisuda ke-72 yang digelar di gedung Auditorium Utama, Sabtu (19/7). Dengan wajah bangga, mereka mengenakan pakaian kebesaran Universitas Islam Negeri (UIN). Dan acara yang berlangsung selama tiga jam itu tampaknya cukup ”menguras” air mata haru para orang tua wisudawan/wati.

Saya merasa sangat bersyukur dan terharu dengan diwisudanya anak saya. Mudah-mudahan dia cepat mendapat pekerjaan,” tutur Masnah (50), ibu dari Dede Syahri, salah satu wisudawan lulusan Administrasi Keperdataan Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), dengan mata yang berkaca-kaca.

 

Bercerita tentang suasana hati memang menimbulkan kesan tersendiri bagi para orangtua yang saat itu tengah menghadiri wisuda putra-putri mereka. Betapa tidak, untuk meraih sarjana, mahasiswa harus menempuhnya dengan waktu yang lama dan bahkan terkadang melelahkan. ”Kami memang berasal dari keluarga yang tidak banyak mengenyam pendidikan tinggi. Alhamdulillah, kali ini saya bangga karena anak saya berhasil jadi sarjana,” kata Abdul Rahman, orangtua Dede Mahmudah, sarjana lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Berbeda dengan Abdul Rahman, calon sarjana dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (sebut saja) Zarkasih, tahun ini mengaku belum dapat diwisuda. Pasalnya, ia belum mampu menyelesaikan tugas akhir perkuliahannnya lantaran masih memiliki kesibukan. ”Saya belum dapat diwisuda karena belum selesai mengerjakan skripsi,” aku pria bertubuh tambun yang kini akan menginjak semester 10 ini. Ia sendiri sebenarnya sangat kecewa tak dapat diwisuda tahun ini. Namun, ia juga merasa senang karena termotivasi kembali untuk segera menyelesaikan skripsinya.

Saya sangat kecewa juga karena tidak dapat diwisuda tahun ini. Padahal, kalau tidak ada kendala saya ingin diwisuda bersama teman-teman,” ungkapnya.

Selain ungkapan rasa syukur dan haru dari para orang tua dan mahasiswa, banyak hal menarik lain dari acara wisuda tahun ini. Terlihat sejumlah pedagang, mulai dari makanan hingga mainan, ikut sibuk menjajakan dagangannya masing-masing. Tak hanya itu, suasana di area wisuda juga persis seperti taman wisata yang dipadati para pengunjung, terutama sanak keluarga dari para wisudawan/wisudawati.

Menariknya, layaknya di sebuah taman wisata, hampir seluruh sanak keluarga itu menggelar tikar untuk makan dan minum bersama. Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang melepas lelah dengan cara tiduran di halaman sekitar Auditorium Utama.

Keharuan, Warnai Wisuda Sarjana Baru

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Nina Rahayu

 

Secercah matahari pagi itulah gambaran semangat para wisudawan/wati yang pada pagi hari itu tengah asyik mengikuti acara wisuda ke-72 yang digelar di gedung Auditorium Utama, Sabtu (19/7). Dengan wajah bangga, mereka mengenakan pakaian kebesaran Universitas Islam Negeri (UIN). Dan acara yang berlangsung selama tiga jam itu tampaknya cukup ”menguras” air mata haru para orang tua wisudawan/wati.

Saya merasa sangat bersyukur dan terharu dengan diwisudanya anak saya. Mudah-mudahan dia cepat mendapat pekerjaan,” tutur Masnah (50), ibu dari Dede Syahri, salah satu wisudawan lulusan Administrasi Keperdataan Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), dengan mata yang berkaca-kaca.

 

Bercerita tentang suasana hati memang menimbulkan kesan tersendiri bagi para orangtua yang saat itu tengah menghadiri wisuda putra-putri mereka. Betapa tidak, untuk meraih sarjana, mahasiswa harus menempuhnya dengan waktu yang lama dan bahkan terkadang melelahkan. ”Kami memang berasal dari keluarga yang tidak banyak mengenyam pendidikan tinggi. Alhamdulillah, kali ini saya bangga karena anak saya berhasil jadi sarjana,” kata Abdul Rahman, orangtua Dede Mahmudah, sarjana lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Berbeda dengan Abdul Rahman, calon sarjana dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi (sebut saja) Zarkasih, tahun ini mengaku belum dapat diwisuda. Pasalnya, ia belum mampu menyelesaikan tugas akhir perkuliahannnya lantaran masih memiliki kesibukan. ”Saya belum dapat diwisuda karena belum selesai mengerjakan skripsi,” aku pria bertubuh tambun yang kini akan menginjak semester 10 ini. Ia sendiri sebenarnya sangat kecewa tak dapat diwisuda tahun ini. Namun, ia juga merasa senang karena termotivasi kembali untuk segera menyelesaikan skripsinya.

Saya sangat kecewa juga karena tidak dapat diwisuda tahun ini. Padahal, kalau tidak ada kendala saya ingin diwisuda bersama teman-teman,” ungkapnya.

Selain ungkapan rasa syukur dan haru dari para orang tua dan mahasiswa, banyak hal menarik lain dari acara wisuda tahun ini. Terlihat sejumlah pedagang, mulai dari makanan hingga mainan, ikut sibuk menjajakan dagangannya masing-masing. Tak hanya itu, suasana di area wisuda juga persis seperti taman wisata yang dipadati para pengunjung, terutama sanak keluarga dari para wisudawan/wisudawati.

Menariknya, layaknya di sebuah taman wisata, hampir seluruh sanak keluarga itu menggelar tikar untuk makan dan minum bersama. Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang melepas lelah dengan cara tiduran di halaman sekitar Auditorium Utama.