Kecerdasan, Faktor Utama Sukses Belajar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Ruang Diorama, UIN Online – Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Dr Syihabuddin mengatakan, kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik dalam belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.

Hal itu dikemukakan Syihabuddin pada seminar bertema “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Multi Intellegences” yang di selengarakan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Jakarta di Ruang Diorama, Sabtu (5/6). Acara dihadiri Dekan FITK Prof Dr Dede Rosyada serta sejumlah dosen dan mahasiswa STAIN, IAIN, dan UIN se Indonesia.

Syihabuddin menegaskan, kecerdasan majemuk merupakan model kognitif yang berupaya menjelaskan bagaimana seseorang menggunakan berbagai kecerdasannya untuk mengatasi masalah suatu produk yang bermanfaat.

Menurut Syihabuddin, ada delapan kecerdasan yang mendukung proses pembelajaran bahasa Arab menjadi efektif dan efisien, yaitu kecerdasan linguistic, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

“Dengan beragamnya kecerdasan manusia, menjadikan peran guru amat penting untuk memberikan arahan pada apa yang cocok dan sesuai bagi para siswanya, “ujarnya.

Senada dengan Syihabuddin, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK Dr Muhbib Abdul Wahab menegaskan, ada satu keceradasan yang mulai ditinggalkan banyak orang, yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang paling dahsyat, tanpa kecerdasan spiritual seseorang tidak dapat melakukan sesuatu.

“Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang langsung berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, karena itu sudah lazimnya seseorang yang mau melakukan sesuatu harus menggabungkan kecerdasan ini pada setiap akan melakukan pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Muhbib, dunia pendidikan kini mulai meninggalkan kecerdasan spiritual, hal ini terlihat dari jumlah kelulusan Ujian Nasional yang menurun. “Sebab itu sewajarnya seorang pendidik harus dapat menanamkan kecerdasan ini pada peserta didiknya,” tandasnya.

Ia menambahkan, setiap manusia memiliki semua jenis kecerdasan itu, namun hanya ada beberapa yang dominan atau menonjol dalam diri seseorang. “Kita perlu mengetahui kecerdasan dominan kita, sehingga kita dapat lebih mengembangkannya, tambahnya. []

Kecerdasan, Faktor Utama Sukses Belajar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Ruang Diorama, UIN Online – Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof Dr Syihabuddin mengatakan, kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik dalam belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.

Hal itu dikemukakan Syihabuddin pada seminar bertema “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Multi Intellegences” yang di selengarakan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Jakarta di Ruang Diorama, Sabtu (5/6). Acara dihadiri Dekan FITK Prof Dr Dede Rosyada serta sejumlah dosen dan mahasiswa STAIN, IAIN, dan UIN se Indonesia.

Syihabuddin menegaskan, kecerdasan majemuk merupakan model kognitif yang berupaya menjelaskan bagaimana seseorang menggunakan berbagai kecerdasannya untuk mengatasi masalah suatu produk yang bermanfaat.

Menurut Syihabuddin, ada delapan kecerdasan yang mendukung proses pembelajaran bahasa Arab menjadi efektif dan efisien, yaitu kecerdasan linguistic, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

“Dengan beragamnya kecerdasan manusia, menjadikan peran guru amat penting untuk memberikan arahan pada apa yang cocok dan sesuai bagi para siswanya, “ujarnya.

Senada dengan Syihabuddin, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK Dr Muhbib Abdul Wahab menegaskan, ada satu keceradasan yang mulai ditinggalkan banyak orang, yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang paling dahsyat, tanpa kecerdasan spiritual seseorang tidak dapat melakukan sesuatu.

“Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang langsung berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, karena itu sudah lazimnya seseorang yang mau melakukan sesuatu harus menggabungkan kecerdasan ini pada setiap akan melakukan pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Muhbib, dunia pendidikan kini mulai meninggalkan kecerdasan spiritual, hal ini terlihat dari jumlah kelulusan Ujian Nasional yang menurun. “Sebab itu sewajarnya seorang pendidik harus dapat menanamkan kecerdasan ini pada peserta didiknya,” tandasnya.

Ia menambahkan, setiap manusia memiliki semua jenis kecerdasan itu, namun hanya ada beberapa yang dominan atau menonjol dalam diri seseorang. “Kita perlu mengetahui kecerdasan dominan kita, sehingga kita dapat lebih mengembangkannya, tambahnya. []