Daur ulang adalah proses pengolahan suatu barang yang sudah tidak digunakan menjadi produk lain yang lebih bermanfaat. Tujuan daur ulang adalah mengurangi jumlah sampah, menghindari kerusakan lingkungan, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Adanya  kreativitas, berbagai macam sampah  dapat didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Jumlah sampah yang berlebihan merupakan suatu masalah yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang sangat penting saat ini dan merupakan salah satu solusi baik dalam mengendalikan jumlah sampah maupun mengurangi efeknya terhadap kesehatan masyarakat. Tangerang Selatan khususnya Kecamatan Ciputat Timur merupakan produsen sampah yang  berlimpah. Sampah yang berlimpah ini bila tidak dikelola dengan baik akan mengangggu kesehatan, kebersihan serta keindahan lingkungan. Namun sebaliknya sampah yang berlimpah ruah ini dapat menjadi sumber tambahan penghasilan masyarakat, seperti sampah organik dapat diolah menjadi pupuk organik (kompos). Sampah kaleng Sprite, coca cola  dapat di olah jadi tempat pensil cantik.

Persoalan sampah di lingkungan Kampus UIN Jakarta saat ini dikelola melalui  “Rumah Kompos”. Berikut adalah beberapa programnya:

A. Pembuatan Pupuk Kompos UIN Jakarta

Bahan baku sampah organik yang berupa dedaunan dan rumput diperoleh dari kampus 1 dan 2 UIN Jakarta, dan dari masyarakat sekitar komplek UIN Jakarta. Sampah dedaunan yang terdapat di kampus UIN Jakarta yang sudah dikumpulkan dan dimasukan ke dalam karung oleh petugas kebersihan kampus. Sampah organik yang telah diangkut kemudian ditimbang lalu di cacah dengan menggunakan mesin pencacah.

Gambar 1.A Proses pencacahan sampah organik dengan mesin pencacah

Gambar 1.B Sampah organik hasil pencacahan

Sampah organik yang sudah dicacah dan ditimbang lalu dimasukkan ke dalam bak fermentasi 1. Tujuannya adalah agar mempermudah di dalam proses fermentasi. Ketika sampah organik berada di dalam bak fermentasi 1, kemudian dilakukan penyiraman EM-10 dengan menggunakan penyiram (Gambar 4). Penyiraman EM-10 dilakukan setiap 2 hari sekali sampai sampah organik dalam keadaan lembab tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Tujuan dari penyiraman EM-10 yaitu untuk mempecepat proses fermentasi. Waktu dalam fermentasi ini yaitu antara 5 – 8 hari.

Gambar 2. Penyiraman EM-10 pada bak fermentasi 1 yang berisi sampah organik

Gambar 3.  Proses pengayakan pupuk organik dengan menggunakan ayakan yang  ukuran lubang atau mesh 1x1 cm

Pupuk kompos yang sudah halus dan ditimbang kemudian dicampur dengan kotoran sapi dan sekam bakar. Komposisi kotoran sapi 40% dan sekam bakar 10%. Semua bahan dicampur sampai rata. Tujuan dari pencampuran ini adalah untuk mendapatkan pupuk kompos yang berkualitas tinggi. Kompos siap digunakan sebagai media tanaman bayam dan kangkung (Gambar 4).

Gambar 4. Kompos UIN Jakarta  bekualitas baik untuk  media tanam

B. Pembuatan Pupuk Organik Cair EM-10

EM-10 merupakan pupuk organik cair  dan juga sebagai aktivator sampah organik yang dapat mempercepat dekomposisi sampah organik, meningkatkan pertumbuhan tanaman dan EM-10 ini juga menyebabkan sampah organik tidak bau. Aktivator berupa kultur cair dapat disebarkan di lingkungan, dan masyarakat dapat memperbanyak sendiri sesuai dengan kebutuhan masing-masing dalam bentuk kultur cair.

Gambar 5. Pupuk Organik Cair EM-10

Share This