Keberislaman Rakyat Nusantara

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
CARA Islam masuk dan berkembang di wilayah Nusantara ini memiliki keunikan tersendiri, ditandai dengan damai dan lebih menekankan ajaran tasawuf yang sangat memperhatikan kehalusan budi.

Sungguh disesalkan karakter dan citra Islam Nusantara yang ramah dan damai ini lalu rusak oleh ideologi dan tradisi luar yang mempromosikan kekerasan. Adalahparapedagangyangawal mula mengenalkan Islam ke wilayah ini. Mereka berdagang sekalian berdakwah. Ciri pedagang tentu saja senang menjalin persahabatan baru dengan siapa pun juga yang dijumpai serta berusaha membangun kepercayaan (trust).Karakter ini tentu sejalan dengan aktivitas dakwah yang mesti simpatik di mata warga sekeliling.

Kalau tidak, dagangannya akan merugi dan dakwahnya sulit menyebar karena apa yang ditawarkan, baik perdagangan maupun dakwahnya, tidak akan laku. Sikap ramah dan inklusif ini diperkuat lagi dengan muatan Islam yang berciri tasawuf, yang menekankan kehalusan budi, kesantunan dan kerendahan hati, baik di mata Allah maupun sesama. Maka perpaduan ketiganya itu membuat Islam sangat cepat tersebar di Nusantara.

Bayangkan saja, wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, yang pernah menjadi pusat kekuasaan Hindu-Buddha secara sangat drastis berubah total menjadi kantong-kantong umat Islam terbesar di muka bumi. Logikanya, wilayah Nusantara ini mestinya menjadi pusat agama Hindu,mengingat secara geografis lebih berdekatan dengan India ketimbang Mekkah-Madinah yang teramat jauh.

Di kalangan ilmuwan sosial memang terdapat beragam teori yang menjelaskan mengapa Islam begitu cepat berkembang di Nusantara ini dengan cirinya yang ramah dan damai. Umatnya tidak senang beragama disertai kekerasan.

Islam yang Membudaya

Semua agama tentu saja tumbuh bersama budaya setempat, keduanya saling isi-mengisi. Pengaruh budaya masyarakat padang pasir di Timur Tengah ketika Islam lahir tentu berbeda dengan budaya masyarakat Islam Nusantara, yang merupakan bangsa maritim dengan tanahnya yang subur.

Mobilitas pedagang, penyebaran dakwah Islam, dan penyebaran bahasa Melayu berlangsung serempak dengan mengambil pusat di kota-kota pantai di seluruh kepulauan Nusantara, misalnya saja Banten, Batavia, Cirebon, Semarang, Surabaya, Makassar,dan kota pelabuhan lain. Perkembangan ini pada urutannya menjadikan Islam dan bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi dan pengikat kohesi sosial penduduk Nusantara dengan wataknya yang egaliter serta menyebarkan etos entrepreneur.

Ikatan serta penguatan identitas Nusantara ini diperkokoh dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928 yang menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya rumah berbangsa dari sekian ratus etnis yang ada dan rela melebur sebagai pilar penyangga semangat keindonesiaan. Kata Indonesia waktu itu merupakan suatu cita-cita dan imajinasi politik yang masih abstrak,namun secara ideologis pengaruhnya sangat nyata sehingga mengantarkan peristiwa historis Proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahwa rumah kita semua adalah Republik Indonesia dengan batas teritorial yang jelas dan orang asing yang masuk mesti permisi. Siapa pun yang akan merusak ketenteraman dan identitas keindonesiaan, berarti merusak karakter keberislaman kita dan mengkhianati para pendiri bangsa. Mengingat mayoritas warganya dan para pejuang kemerdekaan serta pendiri bangsa adalah muslim, sementara budaya dan agama rakyatnya sangat majemuk, maka Pancasila disepakati sebagai ideologi bangsa dan negara.

Ini merupakan ijtihad politik yang sangat jenius dan sangat cocok bagi karakter keberislaman masyarakat Nusantara,yang sejak awal bersifat inklusif dan sangat menekankan kesantunan beragama tanpa mengabaikan substansinya.Kalau saja tokoh-tokoh Islam pendiri bangsa memilih jalan voting untuk mendirikan model negara, pasti “negara Islam”atau sistem “kekhalifahan” akan menjadi suara mayoritas.

Namun mereka berpikir pilihan itu justru akan mempersempit ruang gerak Islam di Indonesia dan sangat mungkin warga Nusantara akan disibukkan oleh konflik berkepanjangan antarsuku dan agama. Perpaduan antara sistem demokrasi model Barat dengan ideologi Pancasila telah menjadikan Indonesia tidak bisa dikatakan sebagai negara sekuler yang sering dituduhkan oleh mereka yang beraliran keras,yang menilai demokrasi yang tengah dikembangkan ini sebagai manifestasi peminggiran Islam.

Di negeri ini justru Islam mendapatkan rumahnya yang luas untuk menunjukkan diri sebagai agama pembawa rahmat dan peradaban bagi semesta yang dimulai dari rumahnya sendiri, yaitu Indonesia. Pancasila memberikan rumah yang luas bagi perkembangan agama-agama, terutama Islam, sementara sistem demokrasi mempermudah Indonesia untuk memasuki pergaulan dan kemitraan dengan negara-negara yang lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan industri.

Jadi, apakah modernisasi akan menyudutkan perkembangan Islam, ataukah Islam akan ikut masuk dalam dunia modern, itu merupakan pertanyaan dan tantangan yang mesti dijawab oleh umat Islam sendiri. Yang pasti,berbagai tindakan kekerasan atas nama jihad Islam yang puncaknya adalah bom bunuh diri, yang katanya dialamatkan ke Amerika Serikat dan sekutunya, yang terkena getahnya adalah bangsa, negara, dan warga Indonesia sendiri. Tindakan itu hanya meninggalkan fitnah dan kesengsaraan bagi banyak orang, bahkan juga keluarga pelakunya sendiri.

Memang terdapat perdebatan yang tak kunjung habis, siapa sesungguhnya para teroris itu dan mengapa belum juga tertangkap. Namun, jika kita mengamati watak keberislaman warga Nusantara yang pada awalnya senang damai, santun, dan apresiatif pada budaya setempat, berbagai kekacauan muncul selalu datangnya dari luar. Ada tiga pengaruh besar yang telah mengganggu kedamaian hidup beragama di Indonesia,yaitu pengaruh ideologi komunisme, masuknya imperialisme Barat,dan radikalisme yang datang dari Timur Tengah.

Pada abad-19, jika disebut imperialisme Barat berarti Eropa, namun sekarang konotasinya adalah Amerika Serikat. Dulu persepsi umat Islam tentang Timur Tengah itu adalah Mekkah-Madinah dan Mesir, pusat peribadatan dan ilmu keislaman, tetapi sekarang konotasinya telah berubah. Yang terbayang adalah wilayah yang selalu ribut, khususnya di Palestina dan sekitarnya, wilayah yang terbagi ke dalam kekuasaan para dinasti yang tak berdaya menghadapi tekanan hegemoni Barat dengan Israel sebagai ujung tombaknya.

Mengingat posisi geografisnya yang jauh,alamnya kaya raya,serta dukungan penduduknya yang banyak, mestinya Indonesia pandai-pandai menjaga dan memajukan dirinya tanpa harus terlibat dalam pusaran konflik yang berlangsung di Timur Tengah.Kita hendaknya tampil sebagai contoh bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang damai, kaya dengan pluralitas budaya, sebagai ahli waris dan penerus kejayaan Islam di abad tengah yang sangat menonjol dengan inovasi budaya dan prestasi peradabannya.

Tetapi peluang itu akan hilang jika bangsa ini tidak mampu menunjukkan sikap mandiri dan secara tegas berani menolak tekanan dan intervensi ideologi luar yang akan merusak jati diri bangsa serta karakter keberislaman warganya yang dari dulu dikenal ramah, santun,dan toleran. (*)



Keberislaman Rakyat Nusantara

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
CARA Islam masuk dan berkembang di wilayah Nusantara ini memiliki keunikan tersendiri, ditandai dengan damai dan lebih menekankan ajaran tasawuf yang sangat memperhatikan kehalusan budi.

Sungguh disesalkan karakter dan citra Islam Nusantara yang ramah dan damai ini lalu rusak oleh ideologi dan tradisi luar yang mempromosikan kekerasan. Adalahparapedagangyangawal mula mengenalkan Islam ke wilayah ini. Mereka berdagang sekalian berdakwah. Ciri pedagang tentu saja senang menjalin persahabatan baru dengan siapa pun juga yang dijumpai serta berusaha membangun kepercayaan (trust).Karakter ini tentu sejalan dengan aktivitas dakwah yang mesti simpatik di mata warga sekeliling.

Kalau tidak, dagangannya akan merugi dan dakwahnya sulit menyebar karena apa yang ditawarkan, baik perdagangan maupun dakwahnya, tidak akan laku. Sikap ramah dan inklusif ini diperkuat lagi dengan muatan Islam yang berciri tasawuf, yang menekankan kehalusan budi, kesantunan dan kerendahan hati, baik di mata Allah maupun sesama. Maka perpaduan ketiganya itu membuat Islam sangat cepat tersebar di Nusantara.

Bayangkan saja, wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, yang pernah menjadi pusat kekuasaan Hindu-Buddha secara sangat drastis berubah total menjadi kantong-kantong umat Islam terbesar di muka bumi. Logikanya, wilayah Nusantara ini mestinya menjadi pusat agama Hindu,mengingat secara geografis lebih berdekatan dengan India ketimbang Mekkah-Madinah yang teramat jauh.

Di kalangan ilmuwan sosial memang terdapat beragam teori yang menjelaskan mengapa Islam begitu cepat berkembang di Nusantara ini dengan cirinya yang ramah dan damai. Umatnya tidak senang beragama disertai kekerasan.

Islam yang Membudaya

Semua agama tentu saja tumbuh bersama budaya setempat, keduanya saling isi-mengisi. Pengaruh budaya masyarakat padang pasir di Timur Tengah ketika Islam lahir tentu berbeda dengan budaya masyarakat Islam Nusantara, yang merupakan bangsa maritim dengan tanahnya yang subur.

Mobilitas pedagang, penyebaran dakwah Islam, dan penyebaran bahasa Melayu berlangsung serempak dengan mengambil pusat di kota-kota pantai di seluruh kepulauan Nusantara, misalnya saja Banten, Batavia, Cirebon, Semarang, Surabaya, Makassar,dan kota pelabuhan lain. Perkembangan ini pada urutannya menjadikan Islam dan bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi dan pengikat kohesi sosial penduduk Nusantara dengan wataknya yang egaliter serta menyebarkan etos entrepreneur.

Ikatan serta penguatan identitas Nusantara ini diperkokoh dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928 yang menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya rumah berbangsa dari sekian ratus etnis yang ada dan rela melebur sebagai pilar penyangga semangat keindonesiaan. Kata Indonesia waktu itu merupakan suatu cita-cita dan imajinasi politik yang masih abstrak,namun secara ideologis pengaruhnya sangat nyata sehingga mengantarkan peristiwa historis Proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahwa rumah kita semua adalah Republik Indonesia dengan batas teritorial yang jelas dan orang asing yang masuk mesti permisi. Siapa pun yang akan merusak ketenteraman dan identitas keindonesiaan, berarti merusak karakter keberislaman kita dan mengkhianati para pendiri bangsa. Mengingat mayoritas warganya dan para pejuang kemerdekaan serta pendiri bangsa adalah muslim, sementara budaya dan agama rakyatnya sangat majemuk, maka Pancasila disepakati sebagai ideologi bangsa dan negara.

Ini merupakan ijtihad politik yang sangat jenius dan sangat cocok bagi karakter keberislaman masyarakat Nusantara,yang sejak awal bersifat inklusif dan sangat menekankan kesantunan beragama tanpa mengabaikan substansinya.Kalau saja tokoh-tokoh Islam pendiri bangsa memilih jalan voting untuk mendirikan model negara, pasti “negara Islam”atau sistem “kekhalifahan” akan menjadi suara mayoritas.

Namun mereka berpikir pilihan itu justru akan mempersempit ruang gerak Islam di Indonesia dan sangat mungkin warga Nusantara akan disibukkan oleh konflik berkepanjangan antarsuku dan agama. Perpaduan antara sistem demokrasi model Barat dengan ideologi Pancasila telah menjadikan Indonesia tidak bisa dikatakan sebagai negara sekuler yang sering dituduhkan oleh mereka yang beraliran keras,yang menilai demokrasi yang tengah dikembangkan ini sebagai manifestasi peminggiran Islam.

Di negeri ini justru Islam mendapatkan rumahnya yang luas untuk menunjukkan diri sebagai agama pembawa rahmat dan peradaban bagi semesta yang dimulai dari rumahnya sendiri, yaitu Indonesia. Pancasila memberikan rumah yang luas bagi perkembangan agama-agama, terutama Islam, sementara sistem demokrasi mempermudah Indonesia untuk memasuki pergaulan dan kemitraan dengan negara-negara yang lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan industri.

Jadi, apakah modernisasi akan menyudutkan perkembangan Islam, ataukah Islam akan ikut masuk dalam dunia modern, itu merupakan pertanyaan dan tantangan yang mesti dijawab oleh umat Islam sendiri. Yang pasti,berbagai tindakan kekerasan atas nama jihad Islam yang puncaknya adalah bom bunuh diri, yang katanya dialamatkan ke Amerika Serikat dan sekutunya, yang terkena getahnya adalah bangsa, negara, dan warga Indonesia sendiri. Tindakan itu hanya meninggalkan fitnah dan kesengsaraan bagi banyak orang, bahkan juga keluarga pelakunya sendiri.

Memang terdapat perdebatan yang tak kunjung habis, siapa sesungguhnya para teroris itu dan mengapa belum juga tertangkap. Namun, jika kita mengamati watak keberislaman warga Nusantara yang pada awalnya senang damai, santun, dan apresiatif pada budaya setempat, berbagai kekacauan muncul selalu datangnya dari luar. Ada tiga pengaruh besar yang telah mengganggu kedamaian hidup beragama di Indonesia,yaitu pengaruh ideologi komunisme, masuknya imperialisme Barat,dan radikalisme yang datang dari Timur Tengah.

Pada abad-19, jika disebut imperialisme Barat berarti Eropa, namun sekarang konotasinya adalah Amerika Serikat. Dulu persepsi umat Islam tentang Timur Tengah itu adalah Mekkah-Madinah dan Mesir, pusat peribadatan dan ilmu keislaman, tetapi sekarang konotasinya telah berubah. Yang terbayang adalah wilayah yang selalu ribut, khususnya di Palestina dan sekitarnya, wilayah yang terbagi ke dalam kekuasaan para dinasti yang tak berdaya menghadapi tekanan hegemoni Barat dengan Israel sebagai ujung tombaknya.

Mengingat posisi geografisnya yang jauh,alamnya kaya raya,serta dukungan penduduknya yang banyak, mestinya Indonesia pandai-pandai menjaga dan memajukan dirinya tanpa harus terlibat dalam pusaran konflik yang berlangsung di Timur Tengah.Kita hendaknya tampil sebagai contoh bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang damai, kaya dengan pluralitas budaya, sebagai ahli waris dan penerus kejayaan Islam di abad tengah yang sangat menonjol dengan inovasi budaya dan prestasi peradabannya.

Tetapi peluang itu akan hilang jika bangsa ini tidak mampu menunjukkan sikap mandiri dan secara tegas berani menolak tekanan dan intervensi ideologi luar yang akan merusak jati diri bangsa serta karakter keberislaman warganya yang dari dulu dikenal ramah, santun,dan toleran. (*)