Kebebasan Demokrasi Tumbuhkan Radikalisme di Kampus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Apristia Krisna Dewi

Aula Student Center, BERITA UIN Online- Beberapa waktu lalu kampus UIN Jakarta dikejutkan oleh kabar bahwa alumni dan mahasiswanya terkait jaringan radikal dan teroris. Aksi teroris yang dilakukannya pun bermacam-macam. Dari bom buku ke salah satu tokoh intelektual hingga percobaan pengeboman gereja. Akibatnya, muncul stigmasi baru bahwa kampus di Indonesia termasuk UIN Jakarta rawan gerakan radikalisme dan terorisme.

“Gerakan radikal di kampus tersebut sebenarnya muncul sejak lama yaitu sekitar tahun 80-an yang ditandai adanya pro kontra antara pemahaman kampus sekuler dan agamis,” ungkap Luthfi Assyaukanie dalam diskusi publik ‘Membongkar Jaringan Teroris di Kampus’ yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (BEM FISIP) UIN Jakarta di Aula Student Center, Rabu (22/6).

Luthfi menjelaskan meskipun terorisme merupakan puncak dari gerakan radikalisme bukan berarti radikalisme itu berbanding lurus dengan terorisme. Radikalisme belum tentu mengarah ke terorisme begitu juga sebaliknya terorisme belum tentu berangkat dari radikalisme. Fenomena gerakan tersebut disebabkan oleh faktor demokrasi yang ada di kampus.

“Gerakan radikal dan teroris tersebut muncul karena adanya kebebasan demokrasi yang ada di kampus salah satunya UIN sehingga dengan mudah berkembang dan menyedot kalangan mahasiswa sebagai pengikut yang jumlahnya tak sedikit,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dosen Universitas Paramadina ini, perlu diupayakan solusinya agar gerakan tersebut tidak semakin melebar serta membahayakan lingkungan dan nama baik kampus.

“Kampus perlu membuat kebijakan terhadap organisasi eksternal yang paling rawan dalam mengusung gerakan tersebut. Yaitu dengan cara mengubah pandangan doktrin organisasi eksternal yang terkait dengan radikalisme dan terorisme menjadi pandangan yang lurus dan humanis,” jelas Luthfi.

Sementara itu, anggapan masyarakat bahwa pelaku tindak kriminal teroris adalah golongan berpendidikan tinggi dan mendapatkan pemahaman teroris dari kampus belum tentu benar. Menurut wartawan sekaligus peneliti radikalisme, Solahudin, mengungkapkan lewat penelitiannya bahwa masih banyak pelaku terorisme yang berpendidikan rendah. Umumnya mereka mendapatkan ilmu dan skill tentang terorisme melalui organisasi radikal salah satunya adalah Negara Islam Indonesia (NII).

“Jauh sebelum mereka eksis mengembangkan gerakan radikal di kampus dan menjadi teroris, terlebih dahulu mereka bergabung di organisasi gerakan tersebut biasanya melalui proses doktrin jihadis radikal,” pungkas Solah.